Gejolak harga sembako kenapa selalu berulang

Pasar murah yang digelar oleh instansi pemerintah maupun lembaga swasdaya masyarakat merupakan bentuk kepedulian yang patut diapresiasi. Event tersebut membuat orang terbantu mengatasi kebutuhan, khususnya sembako.  Maklum produk  yang ditawarkan biasanya lebih murah antara 30-50% dari harga  di pasaran.

Sebenarnya kalau masyarakat disuruh memilih, lebih baik tidak perlu ada pasar murah. Kalau harga bisa ditekan rendah mengapa solusinya  pasar murah yang hanya digelar sewaktu-waktu. Kenapa tidak sekalian saja pemerintah melakukan intervensi pasar dan menggrebek pedagang yang menjual harga tidak wajar. Kalau sifatnya tentatif seperti yang sering berulang, kesannya kan hanya proyek belas kasihan. Seperti kemelut harga daging, kenapa harus menunggu Presiden yang ngomong dan celakanya omongan itu tidak mendapat respon pasar. Kan kasihan pamor presiden kita.

Soal melambungnya harga memang tidak bisa dipisahkan dari tingkat permintaan dan persediaan (supply and demand).  Seperti kondisi sekarang ini,  saat memasuki puasa ramdhan dan menjelang  Idul Fitri, harga kebutuhan pokok, tiba-tiba melonjak. Jika dilihat dari supply and demand memang wajar terjadi. Masalahnya apakah situasi seperti itu selalu berulang, seolah tidak ada lagi orang pintar di pemerintahan yang bisa menyelesaikan masalah tersebut.

 

Adam Sidik Madina Bejo

Jl Satria V Ujung Menteng

Cakung-Jakarta Timur.

Share This:

Next Post

Ritel Minang Mart, seperti apa konsepnya?

Rab Jun 29 , 2016
Sudah sejak lama kita ketahui bahwa  pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) sangat melindungi pertumbuhan usaha mikro kecil dan koperasi di wilayahnya.  Karena penghasilan utama masyarakat memang bertumpu pada produk lokal, seperti kerajinan dan makanan. Begitu pula dengan usaha ritel, yang tidak mengizinkan masuknya peritel besar masuk ke Sumbar. Makanya, di […]