Gegara Utang Ekuador Krisis

Per Agustus 2019, negara ini memproduksi minyak 500.000 barel per hari. Namun, kesulitan keuangan membuat Ekuador tak berdaya. Bahkan tahun depan harus keluar dari persekutuan OPEC.

EKUADOR merupakan negara yang kaya minyak. Sayangnya, negara dengan 17 juta penduduk itu kini terlilit utang. Buntutnya, pemerintah harus melakukan reformasi kebijakan, termasuk menaikkan arga bahan bakar minyak (BBM). Ini memicu protes di seluruh negeri. Bahkan jadi gelombang demo terbesar dalam satu dekade terakhir.

Lalu, bagaimana krisis ini bisa terjadi di negara kaya itu? Berikut rangkumannya yang dihimpun CNBC Indonesia. Ekuador menjadi bagian Spanyol tahun 1822 dan menjadi republik independen di tahun 1830. Pada tahun 1972-1979 negara ini berada di bawah kekuasaan militer.

Pada akhir 1990-an mengalami krisis ekonomi parah. Jika saat itu nilai rupiah anjlok 400%, mata uang Ekuador, Sucre, malah menukik sampai 800% dengan inflasi mendekati 100%. Akibatnya pada tahun 2000, Ekuador mengadopsi dolar AS untuk mencegah keruntuhan ekonominya. “Dolarisasi bisa jadi satu-satunya jawaban untuk Ekuador” ujar Joseph Stiglitz.

Tapi konstelasi mata uang dilematis adanya. Keuntungan mata uang kuat. Pertama, impor jadi murah. Kedua, meminimalisir risiko inflasi. Kerugian mata uang kuat. Menurunnya daya saing ekspor. Nilai barang dan komoditas ekspor Ekuador menjadi lebih mahal dibanding negara-negara seperti Peru, Kolombia, Chile. Kedua, hilang wewenang mengatur sektor moneter. Bank Sentral Ekuador tidak memiliki kewenangan mengatur kebijakan moneter.

Memasuki tahun 1997 hingga 2005, ketidakstabilan politik terus beriak di negara ini. Dalam periode itu, tiga presiden digulingkan melalui protes besar-besaran. Pada 2006, ekonom sayap kiri Rafael Correa tampil jadi pemimpin Ekuador. Ia memimpin dengan kontrol ekonomi negara yang kuat. Karena stabilitas yang ia hasilkan, Correa terpilih lagi di dua periode selanjutnya, 2009 dan 2013. Correa digantikan oleh wakilnya, Lenin Moreno, pada 2017.

Malangnya, pada tahun 2018, Moreno dan Correa pecah kongsi lantaran referendum pemberlakuan batas jabatan presiden. Pembatasan ini membuat Correa tidak bisa lagi menjadi presiden. Ia hengkang dan menjadi buronan dengan tuduhan penculikan. Sejak 2017, Correa mengasingkan diri di Belgia.

Ekuador adalah pengekspor pisang terbesar di dunia. Negara ini juga produsen utama kopi dan kakao. Saking kayanya, Ekuador memiliki 4 miliar barel cadangan minyak dan menjadi anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) yang berpengaruh dari zona Amerika Latin. Per Agustus 2019, negara ini memproduksi minyak 500.000 barel per hari. Namun, kesulitan keuangan membuat Ekuador tak berdaya. Bahkan tahun depan harus keluar dari persekutuan OPEC.

Sebelumnya, tahun 1992, Ekuador juga pernah keluar dari OPEC karena menolak menaikkan produksi minyak, tetapi kembali bergabung pada tahun 2007. Awalnya, eksploitasi minyak mentah telah mendorong pertumbuhan negara ini. Tapi penurunan harga minyak dan pelemahan mata uang Sucre terhadap dolar AS menyebabkan pendapatan negara tergerus cukup parah. Belum lagi hutang Ekuador ke Dana Moneter Internasional (IMF) yang mencapai US$4,2 miliar. Negara itu terpaksa melakukan reformasi ekonomi. Hal itu berlangsung selama tiga tahun sebagai bagian dari kesepakatan. Pemerintah pun mengumumkan mengakhiri subsidi BBM. Bahkan, menaikan harga BBM hingga 123%. Masyarakat lakukan protes masif. Moreano ambil langkah berisiko tinggi: mengumumkan keadaan darurat, 3 Oktober lalu.●

Share This:

You may also like...