Gebrakan Cintai Buah Lokal

Dominasi buah impor mungkin akan segera berakhir seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat untuk kembali mengonsumsi buah lokal. Di Bogor, ada festival buah lokal sebagai bagian dari Revolusi Oranye. Seperti apa?   

Keceriaan tampak pada wajah Menteri BUMN Dahlan Iskan saat membuka Festival Bunga dan Buah Nusantara (FBBN) 2013, yang diselenggarakan di Lapangan Institut Pertanian Bogor (IPB) Baranangsiang,  belum lama ini.

Pada kesempatan tersebut, Dahlan Iskan mengunjungi stand-stand pameran peserta FBBN 2013 yang diikuti puluhan instansi, baik dari instansi swasta maupun negeri. Festival Bunga dan Buah Nusantara 2013 diselenggarakan oleh IPB bekerja sama dengan Kementerian BUMN, Kementerian Pertanian dan sejumlah perusahaan BUMN dan swasta lainnya seperti Taman Wisata Mekarsari, PTPN VIII.

Dalam festival itu, stand-standpeserta pameran menampilkan berbagai produk hasil pertanian baik bunga maupun buah dan sarana produksi pertanian (SAPROTAN). Selama berkeliling, Dahlan Iskan terlihat begitu antusias mengunjungi stand-stand pameran dan sesekali mencicipi buah-buahan yang disajikan peserta pameran. Sedang karnaval Festival Bunga dan Buah Nusantara 2013 diikuti sekitar 5.000 peserta yang terdiri dari civitas akademika, masyarakat umum dan stakeholder. Karnaval tersebut menampilkan parade kendaraan bunga dan buah nusantara yang berjalan mengelilingi Kebun Raya Bogor.

Salah satu pemandangan yang menarik adalah stand-stand yang dihadirkan Taman Wisata Mekarsari. Perusahaan itu memang sebagai pendukung   kegiatan FBBN 2013 menampilkan berbagai koleksi buah-buahan nusantara, baik buah produksi maupun buah langka. Ada yang menarik perhatian Dahlan Iskan saat mengunjungi standpameran buah langka Mekarsari. Dahlan Iskan menunjuk buah Nangkadak Mekarsari, hasil persilangan Nangka Mini Dan Campedak. “Ini nangkadak ya, ini sama seperti cempedak?”, tanya Menteri BUMN kepada Pengelola Taman Wisata Mekarsari.

Selain buah Nangkadak Mekarsari, Dahlan Iskan juga melihat buah-buahan unik lainnya yang ditampilkan Mekarsari seperti Buah Lontar, Mundu, Bisbul, Sirsak Irian, Gayam, Kimalaka, Salak Walichiana, Sawo Hitam, dan Sawo Kecik. Saat mengunjungi stand, Dahlan Iskan ditemani Wakil Walikota Bogor Achmad Ru’yat yang juga antusias dengan buah-buahan unik dan langka koleksi Taman Wisata Mekarsari. “Nih Jambu Bol” kata Achmad Ru’yat sambil menunjukan buah jambu bol.

Sementara itu, Menteri Pertanian Suswono mengapresiasi pelaksanaan Festival Bunga dan Buah (FBBN) 2013 sebagai salah satu upaya mendorong masyarakat mencintai buah lokal. “Ini momentun yang sangat baik untuk meningkatkan kecintaan kepada buah nusantara,” kata Menteri saat menghadiri FBBN 2013 di Kampus IPB Baranangsiang, Kota Bogor itu.

Menurut dia, kunci untuk mengatasi persoalan tersebut adalah dengan meningkatkan daya saing buah lokal terhadap buah impor.”Indonesia ini memiliki wilayah strategis pengembangan buah tropis yang tidak bisa diproduksi di daerah sub tropis. Jadi akan kita kembangkan agar bisa di produksi,” kata menteri.

Suswono mengatakan, kunci agar buah nusantara berkembang adalah dengan mengajak masyarakat untuk mencintai buah lokal. Menurut dia, melalui gerakan Revolusi Oranye yang didalamnya terdapat rangkaian Festival Bunga dan Buah Nusantara bisa meningkatkan kecintaan terhadap buah lokal.

Dalam kaitan itu, Rektor IPB Prof Herry Suhardiyanto, MSc mengatakan untuk mendukung kemampuan memproduksi bunga dan buah nusantara siap untuk mengembangkan inovasi. “Kerja sama semua pihak untuk membangun inovasi buah tropika bagi kesejahteraan dan kejayaan masyarakat,” kata Rektor.

Kebutuhan Meningkat

Dari sisi lain, pengembangan buah-buahan tropika sebagai komoditas buah lokal di Indonesia tidak ditunjang kebun yang tertata. Saat ini diperkirakan lahan tanaman buah lokal tersebar di area sekitar 850.000 hektar dan hasilnya masih bergantung pada kebaikan alam.

”Konsumsi buah impor kita sekarang naik hingga 23 persen. Di sisi lain, kebutuhan buah lokal juga meningkat,” kata Kepala Pusat Kajian Buah-buahan Tropika IPB, Sobir.

Sobir mengatakan, sejak 10 tahun terakhir, salah satu hasil risetnya menunjukkan, impor apel turun ketika di dalam negeri sedang panen mangga. Ini mengindikasikan konsumsi buah lokal memiliki tren naik. ”Sayangnya, belum ada kebun buah lokal yang terstruktur. Hal ini mengakibatkan kesulitan petani dalam memenuhi permintaan masyarakat dalam jumlah besar,” kata Sobir.

Area yang ditanami buah-buahan lokal di Indonesia tergolong minim. Sobir mencontohkan, China dengan penduduk sekitar 1,3 miliar mengelola lahan buah sampai 11,6 juta hektar.

Sejumlah buah-buahan lokal yang berpotensi untuk dikembangkan secara massal antara lain adalah manggis, durian, mangga, rambutan, nanas, duku, pisang, pepaya, sirsak, dan belimbing. Menurut Sobir, kegiatan riset buah-buahan tropika saat ini masih kurang menarik bagi peneliti asing.

Lemahnya pengelolaan membuat kualitas buah-buahan lokal belum mampu bersaing dengan buah-buahan impor. Sobir mengemukakan, tuntutan selera pasar seperti seragamnya ukuran, bentuk, dan warna produk buah lokal masih sulit dipenuhi petani. Salah satu contoh solusi yang dikembangkan IPB, menurut Sobir, adalah menciptakan varietas baru. IPB berhasil mengembangkan varietas pepaya california. (Suyono AG)

Share This: