Garuda Tutup dan Ciutkan Beberapa Rute

            Selain ke Belitung, Garuda Indonesia juga mengurangi rute terbangnya ke Pulau Morotai, Maumere dan Bima. Rute ke luar negeri yang terpaksa diciutkan adalah London dan Amsterdam.

BIAYA penerbangan dianggap sudah amat mahal. Kebijakan pemerintah yang minta maskapai menurunkan tarif batas atas (TBA) harga tiket pesawat sebesar 15% memperparah derita. Akibatnya, Garuda Indonesia memutuskan menutup sejumlah rute penerbangan ke area terpencil dan mengurangi penerbangan ke Eropa. 

“Kita tidak bisa lagi terbang ke daerah-daerah remote (terpencil). Kita diprotes juga sama [Bupati] Belitung. Mereka merugi US$1,3 juta (Rp18,2 miliar) per 6 bulan. Jadi, kita tidak bisa lagi mensubsidi dari jalur-jalur gemuk seperti Surabaya, Denpasar, Yogyakarta ke daerah-daerah yang di ujung,” ujar Dirut PT Garuda Indonesia Tbk, Ari Ashkara, dalam Raker Komisi VI DPR RI. 

Selain rute Belitung, Garuda Indonesia juga mengurangi penerbangan ke Pulau Morotai, Maumere dan Bima. Pasalnya, kata Ari, bahan bakar di daerah tersebut juga jauh lebih mahal dibanding daerah lain. Bisa 80% di atas harga bahan bakar biasanya. Jam operasi mereka pun dibatasi hingga pukul 15.00-16.00 saja. Bila sampai malam, kru harus menginap. Itu artinya pengeluaran biaya lagi. “Jadi, sungguh tidak menguntungkan harga diturunkan. Kita tidak bisa beroperasi di tempat tertentu, kecuali kita diberi penugasan,” tuturnya.

Selain rute ke daerah terpencil, Garuda juga menutup penerbangan rute Mumbai-Denpasar dan Belitung-Singapura. Ari menyebut rute tersebut dibuka semula karena Kementerian Pariwisata menjanjikan memberi dana Rp8 miliar sebulan. Khusus Belitung-Singapura, Rp8 miliar untuk 6 bulan. Namun, janji tersebut belum ada realisasinya. 

Hal serupa juga berlaku untuk penerbangan ke London. Ari menyatakan, penerbangan ke London akan ditutup setelah Lebaran. “Untuk London pasti kita akan tutup karena kita tidak bisa subsidi lagi. Sebelumnya, memang kita buka karena kita masih bisa mensubsidi. Kita positif menutup setelah Lebaran,” ujarnya. 

Penerbangan ke Amsterdam pun bakal diciutkan. Dikurangi dari 6 kali menjadi 3 kali. “Dampak penurunan tarif ini cukup banyak. Kita cukup strict. Kalau sangat rugi, kita tutup. Rute Maumere kita kurangi. [Penerbangan] ke Langgur [Maluku Tenggara] kita tutup, tapi kargo kita tingkatkan di sana,” ujarnya.

Pemberlakuan kebijakan pemerintah menurunkan TBA 15% merugikan maskapai. Menurut Ari, hanya di Indonesia ada aturan TBA atau Tarif Batas Bawah (TBB). Maskapai di Indonesia dinilai sulit berkompetisi di luar negeri, antara lain karena terlalu banyak komponen pajak yang harus dipenuhi.

“Saya bukan mau protes melainkan menyatakan apa adanya. Di avtur kita dikenakan PPN 10%, leasing pesawat di Indonesia 10% juga. Komponen pajak juga cukup besar, sehingga kita sangat sulit bersaing di luar negeri,” ucap Ari. Namun, bisnis penerbangan Garuda masih tertolong dengan adanya penerbangan-penerbangan ke Jepang, Singapura, Jeddah atau Madinah yang merupakan pasar tradisional.

Meski begitu, ada satu hal yang agaknya boleh dibanggakan maskapai plat merah ini. Bahwa untuk bersaing, komposisi harga rata-rata Garuda jauh di bawah negara lain. “Di Indonesia, harga rata-rata per jam, dalam rupiah, kita paling rendah—dibanding Jepang atau Cina, Amerika Serikat, Eropa atau Australia,” kata Ari Ashkara.●(dd)

Share This:

You may also like...