Gairah Fesyen Muslim

Meski daya beli masyarakat menurun akibat tertekan kenaikan harga BBM, namun minat masyarakat untuk memborong busana muslim tetap tinggi. Omzetnya ada yang terkatrol hingga 300 persen.

 

Memakai baju baru saat Lebaran sudah menjadi tradisi di masyarakat kita. Tidak heran, jika para pedagang  baju menangguk untung Seperti di sentra perdagangan tekstil di Tanah Abang, tiga bulan menjelang Hari Raya Idul Fitri, baju sudah diborong oleh para pedagang yang akan menjualnya kembali.

Meski terlihat tetap ramai pembeli, namun pada tahun ini ternyata momen Lebaran tidak mampu mendongkrak kapasitas produksi industri tekstil dalam negeri. Hal itu diungkapkan Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat. “Akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, produksi tekstil  stagnan,” ujar Ade.

Dengan kenaikan harga BBM, katanya, telah membuat daya beli masyarakat menurun. Akibatnya, mereka lebih memprioritaskan pembelian kebutuhan pokok.  Sedangkan untuk kebutuhan sandang, menjadi prioritas kedua. Jika pun harus membeli, dipilih harga baju yang relatif terjangkau.

Beban masyarakat pun bertambah berat karena berbarengan dengan tahun ajaran baru. Sehingga uang masyarakat tersedot untuk membiayai keperluan sekolah anak-anaknya.  Bahkan tak hanya produksi tekstil dalam negeri yang sepi konsumsi, tapi juga produk impor meski harga cenderung lebih murah. Oleh karena itu, juga tidak terjadi penambahan kapasitas produksi menyambut Lebaran.

Bertolak dari hal tersebut, kata Ade, pada kuartal II 2013 ini, penurunan produksi tekstil lebih buruk dibandingkan dengan kuartal I. “Penurunan produksi masih di atas 10% akibat kenaikan harga BBM bersubsidi,” ujarnya.

Sekadar informasi, omzet konsumsi domestik tekstil pada tahun lalu sebesar 7,6 miliar dolar AS atau sekitar Rp 76 triliun (asumsi US$ 1 = Rp 10.000). Dengan kenaikan  harga BBM, dipastikan omzet tekstil akan di bawah nilai tersebut.

Meski secara makro produksti tekstil tidak meningkat tajam, namun para pedagang eceran pakaian muslim dan pendukungnya mengakui saat menjelang Lebaran omzetnya melonjak. Seperti yang dirasakan Ida, penjual jilbab di salah satu toko di Tanah Abang yang mengaku, omzetnya melonjak dua kali lipat selama Ramadan hingga jelang Lebaran ini.  “Alhamdulillah, meningkat dua kali lipat sih lebih,” ujar Ida.

Menurut Ida, pembelinya tidak hanya berasal dari Jakarta saja, tetapi juga luar daerah.  Maklum, Tanah Abang merupakan pusat grosir tekstil terbesar di Asia Tenggara. Sehingga banyak pedagang ritel di berbagai daerah mengambil barang dagangannya di sana.

Naiknya omzet penjualan juga dialami para pedagang kerudung di Kediri, Jawa Timur. Seperti dituturkan Puguh, seorang pedagang kerudung di Pasar Bandar, Kota Kediri, Jawa Timur yang mengaku barang dagangannya laris manis jelang Lebaran ini.

Para pembeli, katanya, masih mencari model kerudung langsung pakai, kerudung model segi empat atau segi tiga. Sementara untuk model kerudung “pashmina” peminatnya tidak terlalu banyak. “Pembeli ingin yang praktis. Kalau ingin model kerudung seperti yang dikenalkan oleh para artis biasanya hanya momentum saja, dan mereka kembali lagi pada kerudung praktis,” ujarnya.

Ia mengaku sudah lama terjun di dunia busana muslim, khususnya kerudung atau “hijab”. Dalam sehari, jika pasar sepi ia bisa mendapatkan uang hingga Rp 2 juta sehari, tapi jika ramai bisa mendapatkan uang hingga Rp 5 juta.
Khusus menjelang Lebaran, ia sampai merekrut empat karyawan baru. Biasanya, ia hanya satu karyawan saja yang ia pekerjakan, tapi karena pengalaman pasar selalu ramai saat mendekati Lebaran, ia sudah menyiapkan merekrut karyawan baru.

 

Suasana ramainya pembeli busana muslim juga dirasakan  Eva, Chief Operation Zoya yang berlokasi di komplek pertokoan Bandar Balikpapan, Kalimantan Timur. Ia  mengungkapkan, pengunjung toko mulai ramai sejak akhir pekan pertama di bulan Ramadhan.  Ia memprediksi, kenaikan penjualan sekitar 300 persen dan biasanya permintaan akan meningkat tajam menjelang Lebaran atau minggu terakhir Ramadhan.

Eva mengaku, tahun ini pihaknya mematok target yang cukup tinggi untuk penjualan selama bulan ramadhan ini  yakni Rp500 juta, dengan rata-rata penjualan mencapai Rp40 juta perhari, atau tiga kali lipat dari total omzet di hari biasa.

Untuk tren fashion yang ditampilkan Zoya, kata Eva, pihaknya lebih banyak menyediakan berbagai produk dengan motif yang terinspirasi dari pola dan motif negara- negara Eropa. “Saat ini, stok kerudung atau jilbab lebih banyak, karena kami cukup dikenal dengan varian kerudung yang berkualitas dengan harga mulai dari Rp 67.500 hingga Rp 119.000, ada pula jenis bergo atau kerudung langsung pakai mulai Rp 35.000 hingga Rp 299.000. Sedangkan untuk pakaian mulai  Rp189.000-Rp549.000,” kata Eva.

Pada tahun ini, Zoya juga menghadirkan produk terbarunya yakni Zoya Jeans dan Zoya Home, yakni pilihan busana muslim kasual dan produk khusus untuk pakaian sehari-hari yang disebut Zoya home.

Selain para pedagang, desainer oun turut panen saat menjelang Lebaran. Seperti yang dialami desainer Dian Pelangi. Menurutnya, secara tidak langsung, lebaran menjadi momen bagi desainer untuk menciptakan tren busana muslim terbaru. “Buat kami, ini bulan berkah, karena orang akan mencari tren busana muslim baru. Yang tidak memakai hijab pun akan mencari dan jadi pakai juga,” katanya.

Lebaran memang memberikan berkah bagi para pedagang pakaian. Di banyak tempat, omzet mereka meningkat pesat sehingga mendongkrak keuntungan. Saat daya beli masyarakat sedang turun saja pembeli masih ramai, apalagi dalam kondisi normal. (Kur).

Share This: