Fitrah

Hari Raya Idul Fitri merupakan momentum yang tepat untuk merefleksikan nilai-nilai kemanusiaan yang hakiki. Pada dasarnya, setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci). Perbuatan atau amal kitalah yang menentukan seberapa besar kadar kesucian itu terjaga. Namun apakah fitrah berarti “kosong” seperti yang diyakini selama ini. Dalam hal ini, fitrah bermakna “penuh” karena ketika manusia ada di muka bumi, sifat-sifat keilahian telah melekat dalam dirinya. Selain itu, juga memiliki pengetahuan tentang sifat baik dan buruk serta dorongan untuk melakukan perbuatan baik dan menghindari yang buruk.

Oleh karena itu, sejatinya tidak ada manusia yang mengingkari Tuhan (ateis). Hal ini dilukiskan dengan indah oleh Jalaludin Rumi yang mengibaratkan hubungan manusia dengan Tuhan seperti seruling yang terbuat dari bambu dapat mengeluarkan suara menyayat hati karena dia tercerabut dari kelompoknya, oleh karenanya dia memiliki kerinduan yang dalam terhadap kelompoknya.

Bukankah seruling hanya akan mengeluarkan bunyi kalau ada ruang kosong. Begitu pula puasa di bulan Ramadhan yang memberikan ruang kosong dalam perut kita agar memunculkan kerinduan pada sumber asalnya. Puasa juga menjadi satu-satunya amal ibadah yang diperuntukkan kepada Tuhan. Dan, Lebaran merupakan puncak kemenangan manusia melawan godaan-godaan yang dapat mengotori fitrahnya.

Di sisi lain, manusia juga disebut dengan Insan yang berarti unsur keintiman dengan Tuhan. Insan juga memiliki makna lupa. Oleh karena itu, istilah tidak ada manusia yang sempurna tepat.  Manusia adalah tempat salah dan lupa. Sebaik-baik manusia bukanlah yang tidak pernah berbuat salah, tetapi adalah mereka yang menyadari kesalahannya dan berusaha untuk memperbaikinya.

Jika fitrah manusia adalah cenderung kepada kebaikan, mengapa masih melakukan korupsi? Berbuat kerusakan dan merampas hak orang lain? Itulah ujian. Tuhan akan menguji manusia dalam keadaan senang dan susah. Orang melakukan korupsi karena jiwanya miskin. Perasaan kekurangan (scarcity) menutupi kerinduannya pada suara Tuhan (kebenaran). Hanya mereka yang lulus ujian yang akan kembali kepada Tuhannya dengan sempurna.

Taubat menjadi mekanisme ampuh untuk menjaga kesucian diri. Sehingga ketika kita kembali kepada asal kehidupan, sudah benar-benar dalam keadaan bersih. Dan, Idul Fitri menjadi saksi atas keluhuran nilai-nilai kemanusiaan. Kembali kepada fitri berarti kembali kepada nilai-nilai ketuhanan. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1434 H. (Kur).

Share This: