Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Efektivitas Usaha Koperasi

Komitmen organisasi memberikan pengaruh terbesar dalam menunjang efektivitas koperasi. Selain itu ada variabel perilaku manajer, kompetensi pegawai, dan budaya organisasi.

Sejarah membuktikan bahwa sektor koperasi, usaha mikro, kecil, dan menengah (KUMKM) lebih tahan dari guncangan ekonomi dibanding korporasi besar. Seperti saat krisis menerpa pada 1998 lalu dimana korporasi besar bertumbangan namun KUMKM tampil menjadi katup pengaman perekonomian. Sektor ini juga menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang tidak kecil dan menurunkan angka kemiskinan.
Melihat peran strategisnya dalam struktur perekonomian nasional, Kementerian Koperasi dan UKM secara konsisten meningkatkan penyaluran dana ke koperasi dan lembaga ekonomi lainnya. Selain itu, juga meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM) dan kapasitas kelembagaan koperasi.
Namun demikian, realitas di lapangan menunjukkan bahwa koperasi masih belum dapat mewujudkan kemampuan dan perannya secara optimal dalam perekonomian nasional. Kepemimpinan dan aspek manajerial merupakan hal yang mempengaruhi kontribusi koperasi terhadap pertumbuhan ekonomi. Meski diakui pula, upaya memperbaiki kualitas manajerial di koperasi terus dilakukan baik oleh pemerintah maupun internal koperasinya sendiri.
Faktanya, efektivitas usaha koperasi tidak ditentukan oleh faktor tunggal semata. Ada beberapa faktor yang berpengaruh terhadap efektivitas usaha. Riset yang melibatkan 419 responden manajer koperasi Mitra Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB KUMKM) menyebutkan faktor perilaku manajer, budaya organisasi, kompetensi, dan komitmen organisasi, baik secara parsial maupun serentak, berkontribusi sangat besar terhadap efektivitas usaha pada unit-unit koperasi Mitra LPDB KUMKM.
Hasil riset juga menunjukkan secara parsial variabel yang paling besar pengaruhnya terhadap efektivitas usaha adalah variabel komitmen organisasi. Sedangkan yang terkecil adalah budaya organisasi. Oleh karena itu dalam meningkatkan efektivitas usaha sebaiknya dimulai dari penataan komitmen organisasi, perilaku manajer, kompetensi pegawai, dan terakhir budaya organisasi.
Soelaiman Sukmalana dalam Manajemen Kinerja mendefinisikan manajer sebagai kemampuan yang dimiliki individu dalam proses mempengaruhi tindakan individu atau kelompok untuk mengarahkan, memimpin dan menyampaikan gagasan sehingga mereka dapat melakukan aktivitas mencapai tujuan dengan efektif. Oleh karena itu, dalam pengertian manajer mengandung makna adanya fokus dari suatu proses aktivitas penerimaan pada pengikut, instrument untuk memengaruhi bentuk relasi yang kuat dan alat untuk mencapai tujuan.
Sedangkan budaya organisasi seperti dirumuskan Victor S.L. Tan dalam The Corporate Cultures, Case And Text, adalah sekumpulan aturan, keyakinan dan sikap terhadap nilai inti yang menjadi landasan dalam berperilaku bagaimana melakukan aktivitas mewujudkan tujuan perusahaan.
Faktor lain yang juga dibahas dalam riset itu adalah kompetensi yang diartikan sebagai kumpulan keterampilan seseorang berdasarkan proses pengalaman dari berbagai tugas yang dilakukan melalui suatu pembelajaran dalam fungsi dan tanggungjawab sebagai anggota organisasi. Keterampilan yang melekat dalam kompetensi tersebut mencakup keterampilan teknis, strategis, manajemen organisasi, interpersonal, dan personal.
Komitmen organisasi seperti dinyatakan Bohlander & Snell dalam Managing Human Resources adalah kekuatan yang mengikat karyawan untuk melakukan suatu tindakan relevan dlaam mencapai tujuan perusahaan. Dalam studi lain disebutkan komitmen terhadap organisasi memiliki hubungan positif terhadap kemangkiran kerja maupun tingkat keluarnya karyawan yang berakibat pada rendahnya pencapaian kinerja dan inefisiensi pekerjaan.
Sementara itu, efektivitas yang menekankan pada hasil usaha mencakup optimalisasi tujuan, perspektif system dan fokus pada sumber daya manusia dan struktur organisasi. Untuk mengukur efektivitas dapat dilakukan dengan pendekatan stakeholders dan competing values.
Dengan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas usaha koperasi diharapkan pengurus dan pengelola koperasi dapat berbenah diri. Sehingga potensi besar yang dimiliki koperasi dapat diaktulisasikan untuk menopang pertumbuhan ekonomi nasional. (Kur-disarikan dari disertasi doktoral Kemas Danial di Universitas Persada Indonesia Y.A.I Fakultas Ekonomi Program Doktor Ilmu Manajemen 2014).

Share This: