Eskalasi

Pozzo: (sekonyong-konyong marah). Anda menyiksa saya dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Saya benci mendengarnya. Kapan? Kapan? Pada suatu saat, tentu. Pada suatu saat, seperti mungkin akan terjadi pada orang lain, dia menjadi bisu. Suatu saat kita dilahirkan dan pada suatu saat kita akan mati. Saat itu, detik itu. Apa sekarang sudah jelas?

7o tahun lalu Samuel Beckett awetkan dialog absurd itu. Dalam En Attendant Godot (Menunggu Godot), drama dua babak. Lelakon tak berujung pangkal dengan 5 tokoh. Adapun bro Godot hanya jadi pergunjingan. Ex absentia. Keberadaan dari ketiadaan. Godot tetap ditunggu, hingga di ujung lorong.

Dan sejarah pun berulang. Kapan? Sang penemu rumus 1+3+5=135 menjawab 22=25=28. Hingga sebulan pasca-Pemilu, penyelenggara asyik berakrobat. Dari ilusi hoax QC lanjut ke subversi input RC. Jika QR mati kutu ditelanjangi Prof Ronnie Higuchi Rusli, RC compang camping dikuliti robot pemantau sistem KPU ciptaan Hairul Anas Suaidi.

Mau data? Tengok tabulasi ini. Di Pilgub Jateng 2018, total suara 17.630.687, total suara Pilpres 21.769.985. Selisih 4.139.271. Di Pilgub Jatim 2018, total suara 10.465.218, total suara Pilpres 24.672.915. Selisih 5.131.683. Hanya dalam setahun, di kedua provinsi itu suara menggelembung 9.270.954. Ajaib. Pemilih dari mana?

Dua pekan pascapencoblosan, kubu #02 ke Bawaslu gotong 73.715 bukti salah input data IT situng KPU dari 477.021 TPS yang telah diinput, disusul 6 poin bukti baru tentang pelanggaran peraturan Pemilu yang sangat serius. ‘Dosa demokrasi’ ini mengejawantahkan warning #02 sebelumnya: ada 17,5 jt DPT tak masuk akal, 6,1 jt suara ganda 5 provinsi, 18,8 jt suara invalid 5 provinsi, 117.333 KK manipulatif—yang semuanya tak terselesaikan sampai Hari-H, 17 April 2019.

Dengan 622 korban nyawa petugas Pemilu, 3.000-an sakit, “Negara melakukan maladministrasi,” kata Ombudsman. Bahkan LPKAN siap laporkan KPU ke tiga mahkamah internasional: International Criminal Court, International Human Right Commission, International Commission of Justice. Kubu #02 sendiri positif tak akan menempuh jalur MK. Pengalaman bullshit 2014 menunjukkan: dengan 14 truk BB, jangankan diteliti, dibuka pun tidak.

Di Jakarta, massa bela kedaulatan rakyat makin berdatangan. Menyegarkan ingatan tentang 411 dan 212. Rencana penyambutan rezim dengan ratusan anjing terlatih (mirip adab Israel laknatullah) bikin publik mendidih. Setidaknya 5 ex Danjen Kopassus dan PPIR siap hadiri (bahkan pimpin) aksi 22 Mei.

Di luar arena inti—nyaris tak terliput—kapal perang Amerika merapat di Jakarta, sejak awal Mei. Disusul kapal perang Jepang dan Ausralia; sedangkan kapal perang Cina merapat di Surabaya, lalu kapal perang Prancis memasuki perairan Aceh. Inikah isyarat kurusetra milenial? Wallahu a’lam bish-shawabi.●

Salam,

Irsyad Muchtar

Share This:

You may also like...