Endeh Farida Satyalancana Wirakarya dari Gebrak Sipintar

SAAT di telpon sore itu, bahwa ia mendapat penghargaan Satyalancana Wirakarya di bidang pengabdian koperasi, dari ujung sana terdengar respon bahagia. “Alhamdulillah perjuangan panjang kami selama ini dihargai pemerintah,” ujar E.Farida haru yang biasa disapa ibu Hj.Farida. Jumat, 12 Juli 2019 lalu dalam puncak perayaan Hari Koperasi Nasional ke 72 di Purwokerto, Menko Perekonomian Darmin Nasution mewakili Presiden Joko Widodo menyematkan penghargaan bergengsi itu di dada Ketua Koperasi Syariah Abdi Kerta Raharja Kabupaten Tangerang ini. Bagi Farida yang lebih dari satu dasawarsa bergumul dengan dunia perkoperasian, penghargaan itu sungguh membanggakan karena hasil kerjanya dilihat dan sekaligus dinilai oleh pemerintah. Koperasi Abdi Kerta Rajarja (AKR) yang didirikannya pada 2009 juga pernah meraih penghargaan KSP Award 2014 . AKR kala itu dianugerahi Koperasi dengan pertumbuhan anggota paling cepat dan percepatan modal sendiri.

Saat ikut menggagas pendirian AKR 10 tahun silam, Farida memang ingin memberi warna lain dari koperasi yang dipimpinnya yaitu menyasar kalangan miskin. Itu sebabnya anggota terbesar AKR didominasi kalangan Masyarakat Berpenghasilan Rendah.

Berangkat dari niat tulus bahwa orang miskin itu mesti diberdayakan, maka Ibu dua anak kelahiran Purwakarta, 22 Desember 1960 ini melakukan berbagai inovasi program yang bermuara pada perkuatan ekonomi anggota. Salah satu kiprahnya yang terkenal adalah Program Gebrak Sipintar (Gerakan Brantas Kemiskinan melalui Simpanan Pinjaman Tanpa Agunan dan Risiko). “Melalui program ini kami berupaya membantu Pemkab Tangerang dalam mengurangi angka kemiskinan. Prinsipnya “Semakin Miskin Semakin Layak Menjadi Anggota, dan Semakin Layak diberi Kredit. AKR dikhususkan membantu usaha mikro dengan pinjaman/pembiayaan. pembiayaan pertama maksimal Rp3 juta dengan masa pengembalian cicilan selama enam bulan. Dalam operasionalnya, AKR memodifikasi pola Grameen Bank dengan Prinsip Koperasi Bung Hatta. Pelayanan dilakukan terlebih dahulu melalui sosialisasi pada aparat, tokoh masyarakat dan calon anggota. Sebelum mencairkan pembiayaan, anggota diberikan pendidikan secara terbuka terlebih dahulu agar pinjaman tanpa agunan tersebut dapat dimanfaatkan seusai kebutuhan untuk usaha, dan akan merasa tanggungjawab dalam pengembalian pembiayaan tersebut.

Sesuai dengan prinsip dianutnya yang mengacu pada pemikiran Bung Hatta, Farida meyakini koperasi sebagai badan usaha harus mampu menyejahterakan anggota. Namun yang tak boleh dilupakan, sahutnya, koperasi juga mengusung nilai-nilai sosial.

“Kami menyalurkan kegiatan sosial melalui bidang Pendidikan Gratis Kesetaraan SMU, Santunan Yatim Piatu dan Duafa, pembangunan Rumah Layak Huni dan juga kami memberikan pendidikan wirausaha kepada anggota agar mereka punya bekal dalam berbisnis,” ujar sarjana ekonomi lulusan Universitas Islam Nusantara Bandung Jawa Barat tahun 1985 dan Pasca Sarjana Magister Ilmu Pemerintahan Universitas Setyagama Jakarta tahun 2002 Lalu apa harapan Farida setelah menyandang predikat penerima Satyalancana tersebut? Gembira memang sudah tentu, namun yang masih mengganjal di hatinya adalah masih lemahnya perhatian pemerintah terhadap pembinaan dan pengawasan pada koperasi. Ke depan harapnya, perlu dibangun sinergitas koperasi keikut sertaan dalam proyek pembangunan di pemerintah maupun swasta. “Jangan biarkan koperasi terus berjalan sendiri, karena kini usaha koperasi semakin nyata di tengah masyarakat,” harap Farida.  (Irvan)

Share This:

You may also like...