Eksotisme Terpendam di Bumi Parahyangan

“Bumi Pasundan lahir saat Tuhan sedang tersenyum”. Itu kalimat Martinus Antonius Weselinus Brouwer atau M.A.W. Brouwer yang kerap dikutip. Psikolog dan budayawan kelahiran Delf, Belanda, yang separuh hidupnya dihabiskan di negeri ini. Serpihan surgawi itu bisa dijumpai di banyak lokasi.

gua parahyangan

Pilar-pilar keelokan alam Jawa Barat tak berhenti di Kebun Raya Bogor. Atau Taman Safari, Taman Wisata Mekarsari, Taman Bunga Nusantara. Atau Gunung Tangkuban Perahu dan Gunung Pangrango. Atau Gedung Sate dan Pelabuhan Ratu. Tempat-tempat tersebut memeng kadung populer sebagai destinasi wisata. Sejatinya, Bumi Parahyangan masih pnya sejumlah stok. Belum terangkat ke permukaan. Masih tersembunyi dalam keperawanan dan keunggulan khasnya.

Disebut parahyangan atau “tempat tinggal para dewa” karena bentang alamnya yang begitu  indah dan unik. Provinsi ini berbatasan lamngsung dengn DKI Jakarta dan banten. Jarak tempuhnya tidak terlalu jauh dari Jakarta atau Bandung. Seperti Sumatera Barat, Jawa Barat memiliki banyak sekali fragmen alam yang amat sayang jika luput dari kunjungan. Berikut sejumlah tempat wisata alamnya yang masih tersembunyi dan belum populer disebut.

 

Pulau Biawak, Jurrasic World Indramayu

Tak terlalu jauh dari Jakarta, di pesisir utara Indramayu juga terdapat sebuah pulau yang dihuni kadal-kadal raksasa? Biawak tak sama dengan komodo. Anda mungkin familiar dengan Pulau Komodo dimana reptil purba raksasa komodo hidup berkeliaran dengan bebas. Seperti namanya, Pulau Biawak merupakan habitat alami satwa liar biawak. Dulunya pulau ini tertutup untuk umum karena dijadikan lokasi penelitian milik pemerintah. Kini, jika berani, Anda bebas menjelajahinya.

Begitu perahu merapat di pantai Pulau Biawak yang berpasir putih, Anda akan disambut oleh megahnya mercusuar kuno setinggi 65 meter peninggalan Belanda. Naik ke puncak mercusuar tersebut melalui tangga berputar untuk melihat seluruh bagian pulau. Tak hanya di daratan saja, pemandangan alam bawah laut sekitar Pulau Biawak  pun tak kalah cantiknya.

Menikmati indahnya bunga karang dan ikan-ikan beraneka warna  dapat dilakukan sambil snorkeling. Kalau Anda cukup bernyali, cobalah jelajahi hutan bakau yang terdapat di pulau ini. Siapa tahu   bertemu langsung dengan “sepupu” komodo yang sedang melintas di sela-sela pepohonan. Meskipun tak seagresif komodo, biawak dewasa dapat tumbuh sepanjang tiga meter dan juga bisa menggigit. Anda perlu mewaspadai sabetan ekornya. Itulah senjata yang mereka gunakan ketika biawak merasa terancam.

 

Cukang Taneuh, Green Canyon Pangandaran

Sebutan Green Canyon dipopulerkan oleh wisatawan asal Prancis. Ngarai bernama Cukang Taneuh (yang artinya Jembatan Tanah) ini mengingatkan akan Grand Canyons di Arizona. Hanya saja, yang ini berwarna hijau. Petualangan menyusuri aliran sungai berkelok di antara tebing hijau ini bisa dimulai setelah pelampung di badan Anda terpasang rapi.

Aneka tumbuhan hijau menghiasi dinding-dinding batu di kiri kanan, yang terpahat secara alami sejak bertahun-tahun lalu. Di ujung perjalanan, Anda dapat turun dari perahu dan memanjat ke tumpukan batu-batu besar. Di sinilah petualangan yang sesungguhnya bermula. Dari situ Anda bisa terjun bebas ke sungai yang mengalir di antara Green Canyon. Selanjutnya, biarkan aliran airnya mehanyutkan Anda melalui beberapa rintangan yang menantang.

Setelah satu jam menyusuri sungai di tengah hutan ini, Anda dapat beristirahat sejenak di tepian sambal menikmati sajian tradisional yang menggugah selera. Misalnya, nasi bakar ayam yang dibungkus daun pisang, serta melepas dahaga dengan meneguk segarnya air kelapa muda. Petualangan menyenangkan ini pun diakhiri dengan kembali naik perahu menuju hilir sungai yang bermuara di laut selatan, sembari menatap indahnya matahari tenggelam di cakrawala.

 

Goa Gelap Buniayu, Sukabumi

Berjarak hanya 45 menit perjalanan dari Kota Sukabumi, terdapat tiga buah goa. Ketiganya unik dan menjanjikan tantangan tersendiri. Cuma dua dari tiga goa yang terbuka untuk umum. Di Goa Buniayu ini terhimpun beragam ornamen geologi yang tercipta oleh proses alami selama ribuan tahun. Goa yang ketiga, disebut Goa Kerek, khusus untuk para profesional, lebih difokuskan untuk keperluan penelitian.

Di Goa Buniayu yang gelap gulita ini terdapat fasilitas yang lengkap. Bahkan memiliki sistem goa terbaik di kawasan Asia Tenggara. Soalnya, sejak beroperasi tahun 1992, goa ini dikelola dengan serius sebagai destinasi alam. Goa Buniayu dilengkapi dengan peralatan keselamatan bertaraf internasional. Para pemandu pun diseleksi dengan ketat dan mereka sangat terlatih.

Jika Anda menyusuri gua hingga bagian terdalam, cobalah matikan semua alat penerangan. Dalam situasi demikian Anda benar-benar menjumpai “kegelapan abadi” seperti yang disampaikan sang pemandu. Mau tahu kadar kepekatannya? Di siang bolong, di kedalaman goa, Anda bisa menemukan suasana yang empat kali lebih gulita daripada malam hari.

Masih perlu yang lebih menantang? Turuni bagian gua sedalam 18 meter di bawah permukaan laut untuk melihat ornamen bebatuan yang lebih menakjubkan, termasuk sungai bawah tanah, air terjun, danau, dan fosil batu yang menyimpan sejarah panjang terbentuknya gua ini. Anda juga dapat memanjat air terjun ini, persis seperti adegan di film Tomb Raider.

 

Situs Megalitikum Curug Batu Templek, Cianjur

Sebuah temuan mahabesar melambungkan nama Cianjur, beberapa tahun silam. Di lintasan gunung berapi  itu ditemukan reruntuhan candi kuno, di bukit setinggi 100 meter. Awalnya banyak orang menganggap itu penemuan arkeologis biasa. Namun, belakangan hari diketahui bahwa gundukan bukit tersebut justru sebuah candi. Temuan tersebut tidak lain sebuah piramida buatan manusia yang terkubur oleh tanah. Ukurannya pun jauh lebih besar dibanding Candi Borobudur.

Dari uji karbon diimpulkan, batu-batuan yang digunakan untuk membangun piramida ini diperkirakan berusia 9.000—20.000 tahun. Itu artinya 6.000 tahun sebelum Raja Tut membangun piramida-piramida di Mesir, yang dianggap sebagai piramida tertua di dunia. Anda mungkin akan kesulitan mencari tahu cara menuju Curug Batu Templek jika bertanya pada warga Kota Bandung. Meski berlokasi di kawasan penambangan batu alam yang tak sulit dicapai, nama Curug Batu Templek masih belum akrab di telinga warga Parijs van Java.

Citatah, Papandayan, Jatiluhur, Galunggung

Lokasinya hanya 5 kilometer dari pintu keluar tol Padalarang. Tebing Citatah tidak sepopuler Goa Pawon atau Stone Garden. Tebing-tebing di bawah pengawasan Kopassus ini kerap digunakan sebagai lokasi latihan militer. Di tiap akhir pekan, ketiga tebing yang ada: Citatah 48, Citatah 90 dan Citatah 125 dibuka untuk pengunjung yang ingin melakukan hobi mereka: panjat tebing. Gratis.

Safari Gunung Papandayan, Garut. Untuk kebanyakan orang, mendaki gunung bukan hal yang gampang dilakukan. Sebab, tak jarang Anda harus melalui medan yang berat dan cuaca yang tak bisa ditebak. Terlebih Anda hatus bermalam di dalam tenda berbekal makanan kaleng. Namun, menurut para pecinta alam, gunung ini termasuk cocok bagi para pendaki pemula, karena untuk mencapai area perkemahan di Papandayan Anda hanya perlu trekking selama dua jam saja

bukit batu

Panorama Spektakuler Waduk Jatiluhur, Purwakarta. Ini mungkin bukan pilihan utama Anda untuk melihat-lihat pemandangan di Jawa Barat. Tapi, begitu menjejakkan kaki di Gunung Lembu, Anda akan terkesima oleh keindahannya yang tersembunyi. Dari tiga puncak gunung lain di sekeliling Waduk Jatiluhur, Gunung Lembu merupakan yang paling mudah diakses. Ketinggiannya hanya 700 meter di atas permukaan laut.

Danau Hijau di Kawah Gunung Galunggung, Tasikmalaya. Pada tahun 1982 Indonesia mengalami  bencana alam hebat. Gunung Galunggung meletus. Ratusan warga yang tinggal di sekitarnya untuk mengungsi hampir setahun. Saking hebatnya letusan yang terjadi, sebuah kaldera terbentuk di puncak gunung tersebut. Lama-kelamaan, kaldera terisi oleh air sehingga terciptalah sebuah danau di dasar kawah. Untuk sampai di tepi kawah, dari tempat parkir terdekat, Anda perlu menaiki 620 anak tangga.

Alhasil, dengan aneka pesona yang terdapat di haribaan Bumi Parahyangan, sama sekali tidak keliru M.A.W. Brouwer bilang, “Bumi Pasundan lahir saat Tuhan sedang tersenyum”.●(dd)

Share This: