Dua Berkah Kinerja Unggul Kopsyah BMI

JULI 2017 merupakan bulan berkah sekaligus pengakuan terhadap kinerja unggul  Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia (Kopsyah BMI). Dua berkah itu, yang pertama   penganugerahan Bhakti Koperasi  yang disematkan langsung oleh Menteri Koperasi dan UKM Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga  kepada Kamaruddin Batubara, ketua pengurus koperasi yang berdomisili di Kabupaten Tangerang itu.

Masih di bulan yang sama, 31 Juli lalu, giliran Menteri Perencanaan Pembangunan/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro menyerahkan piagam penghargaan kepada Kopsyah BMI sebagai koperasi simpan pinjam dengan pengelolaan profesional dan memberi kontribusi nyata terhadap pembangunan. Bappenas juga memberikan penghargaan kepada 10 koperasi lainnya. Penghargaan yang kali pertama ini menandai mulai diakuinya kontribusi perkoperasian di ranah pembangunan ekonomi nasional.

Penobatan 11 Koperasi sebagai kontributor pembangunan itu bagai guyuran hujan di tengah kemarau. Betapa tidak, koperasi yang selama ini melekat dengan citra ‘kelas pinggiran’ pada hari itu mendapat tempat terhormat di kementerian negara paling bergengsi yaitu Bappenas.  Kendati kontribusinya terhadap pembangunan relatif masih rendah, namun peran koperasi di tanah air kini semakin nyata dan akan semakin besar di masa depan, kata Menteri PPN/Bappenas Bambang Brodjonegoro.

Kejutan itu juga dirasakan oleh para awak Kopsyah BMI yang hari itu, Senin (31/7/2017), menyaksikan pimpinannya menerima piagam penghargaan yang diserahkan langsung oleh Menteri Bambang Brodjonegoro.

“Ini bonus buat kami yang tidak disangka-sangka, karena sejak awal membentuk koperasi, nawaitu kami hanyalah untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat,” tukas Kamaruddin Batubara yang tampak tidak bisa menyembunyikan rasa haru dan bahagianya.

Kepada pers yang mengerumuninya, putra Batak kelahiran 1975 itu bertutur tentang proses awal pergumulannya dengan Kopsyah BMI.

Cikal bakal koperasi ini, bermula dari Lembaga Pembiayaan Pengembangan Usaha Mikro Kecil Menengah (LPP-UMKM) yang berdiri pada tahun 2002. Setelah berkolaborasi dengan Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Tangerang, kiprah lembaga ini terus meningkat.  Dalam tempo 10 tahun lembaga yang mengadopsi pola pembiayaan kredit Grameen Bank Bangladesh ini sudah memiliki 17 kantor pelayanan yang tersebar di 24 kecamatan di Kabupaten Tangerang.

Setelah mengadopsi pola koperasi pada Juli 2013, dan berganti nama dengan KPP-UMKM, maka dua tahun berselang, pada November 2015 lembaga ini mencanangkan nama baru yaitu Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia.

Nomenklatur koperasi diyakini dapat meningkatkan peran aktif masyarakat dalam menata perekonomiannya. Hal itu dimungkinkan karena implikasi koperasi adalah partisipasi anggota yang tidak hanya sekadar jadi pelanggan, juga sekaligus bagian dari kepemilikan. Sedangkan penempatan pola syariah lantaran sistem ini diyakini  mampu mewujudkan keadilan dan kemaslahatan bagi anggotanya.

Kendati nama Kopsyah BMI baru muncul pada 2015, visi dan misi para pengelolanya tetap tidak berubah seperti ketika dibentuk pada tahun 2002; yaitu memberdayakan ekonomi masyarakat agar mampu mandiri, produktif dan berdaya saing. Maka beralasan jika dalam perjalanannya, Kopsyah BMI tak sekadar menghimpun dan menyalurkan dana dari masyarakat, juga tak abai melakukan pemberdayaan masyarakat.

Program sosial paling fenomenal adalah Rumah Layak Huni Gratis (RLHG) senilai Rp30 juta untuk masyarakat berpenghasilan rendah. Dari target pembangunan RLHG sebanyak 60 unit tahun 2017, hingga Juli lalu, telah terbangun 35 unit yang tersebar di wilayah kerjanya, Kabupaten Tangerang, Lebak dan Serang.

Dilihat dari jumlah rumah tak layak huni di Kabupaten Tangerang yang mencapai 18 ribuan unit, 5.000 di antaranya  dalam kondisi sangat parah, jumlah RLHG yang berhasil dibangun Kopsyah BMI memang masih sangat minim. Namun Kamaruddin berharap program tersebut bisa menjadi stimulus bagi lembaga lainnya, terutama perbankan, agar dapat bersama-sama menyelesaikan 18 ribu rumah tak layak huni di Kabupaten Tangerang.

Pemberdayaan Masyarakat

Berbeda dengan koperasi simpan pinjam lainnya yang umumnya bermotif profit, kiprah Kopsyah BMI justru lebih dipacu oleh motif pemberdayaan masyarakat melalui berbagai pelatihan, antara lain pelatihan budidaya tanaman cabai, rambutan, pembukuan keuangan bagi anggota yang ingin mengajukan pembiayaan produktif dan program

paket C. Aktivitas sosial yang rutin diadakan setiap tahun antara lain santunan 500-1000 yatim, Sunatan massal untuk 100-300, Santunan pendidikan, Beasiswa hingga perguruan tinggi, Santunan bencana alam, Santunan sakit permanen dan Santunan kematian. Sedangkan pelatihan produktif dilakukan bekerjasama dengan lembaga terkait, terutama dengan IPB Bogor, Pemkab Tangerang hingga Lembaga Swadaya luar negeri, seperti Water.org, IUWASH dan KIVA.

“Semua pelatihan tersebut gratis, karena upaya mencerdaskan masyarakat di lapis akar rumput agar tumbuh cerdas dan produktif adalah kewajiban kita bersama,” kata Kamaruddin Batubara beberapa waktu lalu di sela peluncuran program Kredit kepemilikan rumah tanpa uang muka (Mikro Tata Griya-MTG) dan pembangunan sanitasi musholla dan pesantren (Sanimesra).

Program MTG adalah respon  Kopsyah BMI terhadap kendala yang sering dihadapi masyarakat berpenghasilan rendah dalam mendapatkan rumah. Melalui MTG, masyarakat yang notabene anggota Kopsyah BMI tidak perlu membayar uang muka rumah yang rerata 30% dari harga rumah.

Tentang Sanimesra yang mulai diluncurkan pada tahun ini, program tersebut digulirkan sebagai upaya untuk merevitalisasi musholla dan pondok pesantren yang keberadaannya jauh dari memadai. Program tersebut dibiayai oleh dana Ziswaf (Zakat, Infaq, Shodaqoh dan Wakaf) sesuai dengan fungsi dan peran Kopsyah BMI dalam pemberdayaan ummat. “Dananya kami kumpulkan dari anggota Rp 1.000 dan dari karyawan Rp 10.000 yang kami pungut perbulan. Selain itu, juga kami pungut dari zakat penghasilan karyawan yang dipotong dari gaji sebesar 2,5% per bulan,” pungkas Kamaruddin.   (Irsyad Muchtar)

Share This: