Drs H Yusran Aspar M.Si “Saya mungkin tidak akan menikmatinya”

Drs H Yusran Aspar M.Si bukan wajah baru dalam perjalanan Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU). Lelaki yang memulai karir pertamanya sebagai pegawai honor di Pemkab Paser tahun 1971-72 ini adalah bupati pertama di PPU. Karenanya ketika ia kembali dipercaya memimpin daerah ini, usai memenangi Pilkada pada 2013 silam, Yusran sangat mafhum dengan aspirasi dan keinginan masyarakatnya yang ingin bangkit dan mandiri secara ekonomi.

yusran
Keinginan besar ayah lima anak kelahiran Tanah Grogot kaltim 28 Januari 1952 ini adalah menggiatkan sektor ekonomi. Hanya dengan geliat ekonomi maka masyarakat akan tumbuh dan berkembang dengan positif. Untuk itu Yusran berkeyakinan harus ada terobosan membangun Kabupaten PPU. Salah satu jawabannya adalah pembangunan infrastruktur yang mampu membuka isolasi ekonomi di daerah itu.
Beralasan jika suami Rustini ini ngotot untuk melanjutkan pembangunan Jembatan Teluk Penajam-Balikpapan yang pernah digagas pada tahun 2005 namun tak kunjung terlaksana dan hanya berputar di level wacana.
Di balik sikap kerasnya untuk melanjutkan pembanguanan jembatan yang banyak mengundang kontroversi itu, sarjana jebolan Institut Ilmu Pemerintahan Jakarta tahun 1986 ini menilai sebuah terobosan besar memang akan mendapat tantangan yang besar pula terutama dari orang-orang yang tidak memahami masa depan. Kepada Galuh Fauzi dan Yuni Hegarwati dari Majalah PELUANG, mantan anggota DPR-RI periode 2009-2014 ini bertutur tentang mimpi-mimpinya mewujudkan masyarakat PPU yang mandiri secara ekonomi. Berikut petikannya.

Banyak yang menilai pembangunan jembatan Teluk Penajam-Balikpapan itu ambisius dan mimpi saja. Bagaimana sikap Anda?
Saya kira mereka yang berpikiran demikian hanya orang-orang yang tidak ingin maju. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Semua mimpi bisa diraih dengan perencanaan yang matang, kerja keras dan konsisten serta doa kepada Allah SWT. Coba anda lihat saat pembangunan jembatan Surabaya-Madura (Suramadu), di Jawa Timur. Pro kontra sangat ramai, berjalan tidak setahun atau lima tahun. Untuk merealisasikannya butuh waktu bertahun-tahun. Meskipun yang menikmatinya bukan yang sejak awal mengusulkan atau mendukung jembatan tersebut. Mewujudkan pembangunan jembatan Penajam – Balikpapan pun demikian. Saya mungkin tidak menikmatinya, tapi penerus saya dan masyarakat PPU akan merasakan manfaatnya.

Anda tampaknya begitu ngotot dengan pembangunan jembatan tersebut, apakah memang sangat penting dan perlu?
Ya sangat perlu. Terutama untuk membuka isolasi ekonomi di pedalaman Kaltim. Jembatan ini merupakan penghubung arteri primer PPU dengan kota Balikpapan atau menjadi ringroad di kawasan Teluk Balikpapan. Juga merupakan solusi kesenjangan sosial dan ekonomi antara dua kabupaten/kota ini. Efek positifnya, Kaltim akan memiliki transportasi yang hemat. Terjadi sinergitas antara Jembatan Pulau Balang yang saat ini sedang dibangun, terintegrasi dengan kawasan industri Buluminung, Pelabuhan Kariangau, termasuk kawasan pelabuhan peti kemas dan Pelabuhan Penajam.
Kedepan, sebagaimana rapat kami dengan Gubernur. Kabupaten PPU akan menjadi daerah penyangga Kota Balikpapan. Di sana (Balikpapan) difokuskan untuk pengembangan bisnis, kami (Penajam) wilayah pemukiman dan pariwisata dan dukungan bisnis. Jembatan itu sebenarnya untuk Kalimantan Timur.
Artinya, manfaat Jembatan tersebut bukan hanya untuk Kabupaten Penajam Paser?
Ya, itu sudah pasti. Terapi melalui jembatan tersebut akan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kaltim sekaligus membuka ruang investasi di PPU melalui kelancaran lalu lintas antar daratan yang terintegrasi. Dengan semakin banyak kantong penghubung transportasi di suatu daerah, semakin baik. Produk-produk dari PPU dan kabupaten lain seperti Kutai Barat dan Paser dengan percepatan jalan penghubung, bisa lebih tepat waktu sampai di pelanggan, ketimbang menggunakan jalur laut
Aktifitas masyarakat lebih efektif dan efisien. Tidak hanya untuk masyarakat PPU tetapi juga masyarakat di sekitarnya. Apalagi PPU merupakan wilayah penghubung darat yang terdekat dengan Samarinda, dengan jembatan teluk ini semakin dekat.
Geliat ekonomi masyarakat, bakal terdongkrak, sektor pariwisata juga akan hidup, karena jalan tol dari Bandara Sepinggan Balikpapan langsung menuju Kabupatan PPU. Tempat wisata Pantai Nipah-Nipah makin dipercantik. Kami juga sedang membangun tujuan wisatawan domestik yang makin menarik. Di sana sedang di bangun Indonesia Marine Science and Technology Park (Imstep) Pemkab mengajukan kawasan di Buluminung untuk proyek tersebut.

Apa saja persiapan yang sudah Anda kerjakan untuk mewujudkan impian itu?

Kami tengah membuat studi kelayakan dan analisis dampak lingkungan (amdal). Amdal sudah dilakukan sejak jauh hari. Sosialisasi dan dukungan infrastruktur juga sudah siapkan.
Dukungannya dengan membangun jalan yang lebar, sudah kami bangun dengan lebar 50 meter. Jadi satu jalan/arah ada empat lajur, sengaja kami rancang untuk mengantisipasi perkembangan di masa depan. Presiden Soekarno membangun membangun Jalan Sudirman di Jakarta dengan sangat lebar, karena beliau waktu iitu sudah memikirkan jauh sebelumnya, sekarang Jalan Sudirman sudah macet. Bagaimana kalau dulu tidak diantisipasi? Saat pelebaran jalan, pasti sulit dan biaya sosialnya jauh lebih besar.
Masih ada sejumlah dokumen yang harus dilengkapi seperti analisis mengenai dampak lingkungan (amdal), izin pemanfaatan ruang (IPR) serta surat persetujuan penetapan lokasi pembangunan (SP2LP).
Izin pemanfaatan ruang, memerlukan rekomendasi dari gubernur Kaltim. Gubernur tinggal meneken surat mengenai pemanfaatan ruang sebagai lokasi pembangunan jembatan.
Adapun, SP2LP dikeluarkan bersama antara Pemkab Penajam Paser Utara dan Pemkot Balikpapan sebagai lokasi titik pancang jembatan. Tinggal Amdal-nya itu yang mungkin memerlukan waktu 3 bulan. Kalau itu sudah selesai, bisa langsung dimulai proyeknya.
Dengan persiapan yang sudah matang itu, kapan pembangunan jembatan akan dimulai?
InsyaAllah dalam tiga bulan ke depan sudah bisa mulai. Apalagi pihak-pihak yang terkait dalam proyek tersebut. Yakni, Pemerintah Kota Balikpapan, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, Perusahaan Daerah Melati Bhakti Satya dan PT Waskita Karya Tbk. telah menyepakati pembangunan jembatan yang menghubungkan Balikpapan dan Penajam melalui titik Melawai dan Nipah-Nipah.
Pendanaannya dari mana saja?
Alhamdulillah sudah ada solusinya. Kami tidak khawatir karena para investor mengaku sanggup mendanai proyek tersebut. Penyertaan Modal Negara (PMN) PT Waskita Karya Tbk. dan sindikasi perbankan bisa menjadi solusi mendanai proyek itu. Belum ditambah dana dari pemerintah antara Pemprov Kaltim, Pemkab PPU, dan Pemkot Balikpapan. Sudah tidak ada masalah.

Share This:

Next Post

Koperasi Keluarga Guru Jakarta Tetap ditopang bisnis anggota

Rab Mar 4 , 2015
Merambah berbagai sektor usaha prospektif, seperti pom bensin, minimarket, dan depot air minum, KKGJ berhasil kantongi pendapatan Rp 40,48 miliar di tahun buku 2014.  Partisipasi anggota di sektor unit simpan pinjam masih pendapatan yang terbesar. Tingginya partisipasi anggota menjadi kata kunci bagi kelangsungan usaha Koperasi Keluarga Guru Jakarta (KKGJ). Dari […]