Dolar Perkasa, Rupiah Loyo

Dampak pelemahan rupiah terhadap dolar AS membuat dunia usaha bersiap untuk menaikkan harga jual. Sebab, biaya impor yang dikeluarkan perusahaan membengkak. Beban masyarakat pun bertambah berat.
Memasuki minggu terakhir Juli 2013, pelemahan rupiah terhadap dolar AS terus berlanjut. Bank Indonesia (BI) pun sepertinya sudah menyerah dengan mengurangi intervensinya di pasar uang. Rupiah diprediksi masih berada di atas Rp 10 ribu per dolar AS sampai akhir tahun ini. Dengan bahasa yang halus, rupiah akan mencapai titik keseimbangan baru (new equilibrium).
Meski rupiah terus merosot, namun Menteri Keuangan Chatib Basri menilai pelemahan rupiah belum mengkhawatirkan. Alasannya, pelemahan nilai tukar rupiah masih lebih baik dibanding mata uang negara sekawasan. “Gejolak dalam rupiah saat ini. Tapi itu belum mengkhawatirkan karena masih oke,” kata Chatib saat konferensi pers di kantornya Jakarta.
Pasca-pernyataan Gubernur The Fed Ben Bernanke pada 22 Mei 2013 lalu, performa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih salah satu yang terbaik di kawasan. Sementara itu, rupiah masih mengalami tekanan.
Sampai 26 Juli 2013 lalu, nilai tukar rupiah mengalami depresiasi sebesar 4,84 persen terhadap dolar AS.
Peso Filipina, melemah 5,23 persen, Rupee India terdepresiasi 6,86 persen, dan Yen Jepang turun hingga 11,8 persen. Posisi rupiah hanya di bawah Baht Thailand 1,8 persen, Ringgit Malaysia 4,67 persen, Dollar Singapura 3,37 persen, Won Korea 4,22 persen, dan China terapresiasi 2,31 persen.
Chatib menambahkan, solusinya pemerintah akan menangani defisit transaksi berjalan. Sebab defisit tersebut masih besar karena impor migas yang besar. Menurutnya, kenaikan harga BBM bersubsidi pada Juni lalu baru terimbas pada Agustus 2013 atau di kuartal III-2013. Sebab, permintaan impor migas yang sudah mulai menurun ini akan terakumulasi di Juli hingga Agustus 2013.
Meski pemerintah cenderung menenangkan pasar karena memang sudah menjadi tugasnya, namun ada beberapa hal yang menyebabkan rupiah tidak berotot. Loyonya rupiah dipicu dari sisi trade deficit, adalah ekspor non-migas yang melemah. Sementara di saat yang sama, impor non-migas melonjak.
Sedangkan pemicu dari sisi capital flows adalah utang swasta yang sebesar sebesar 25,7 miliar dolar AS. Padahal yang akan jatuh tempo, termasuk dengan bunganya, hingga akhir tahun 2013. Dan sebagian utang ini akan jatuh tempo pada September.
Sedangkan menurut Jusuf Kalla, apabila nilai tukar rupiah terlalu kuat terhadap dolar AS membuat nilai impor terlalu banyak dan akan membuat defisit neraca perdagangan. “Kalau terlalu kuat bisa impornya terlalu banyak, bisa defisit ini konsekuensi kalau defisit. Makanya pelemahan rupiah terhadap dolar Itu enggak apa-apa. Mau Rp10 ribu per USD1, Rp11 ribu, bahkan Rp12 ribu itu enggak apa-apa malah membuat ekspor akan bagus,” tegas JK.
Walaupun impor akan mahal, namun menurut JK justru bagus karena akan mengurangi nilai impor. iSebab, saat ini impor Indonesia sudah melebihi nilai ekspornya (deficit perdagangan). Jika ini terus berlanjut maka ekonomi akan sangat tergantung dari luar.

Respons Dunia Usaha
Bottom of Form
Terus melemahnya kurs rupiah terhadap dolar AS membuat PT Indofood Sukses Makmur Bogasari Flour Mills bersiap menyesuaikan harga tepung terigu. Vice President Indofood Sukses Makmur Tbk Franciscus Welirang mengatakan, ada dua hal yang memengaruhi harga tepung terigu nasional, yakni harga bahan baku gandum internasional serta kurs rupiah. Menurutnya, sudah tiga bulan belakangan rupiah terdepresiasi hingga 10%, yakni dikisaran Rp9.500-10.500.
“Kelihatannya sekarang, mau tidak mau kami harus naik. Ini kenyataan yang harus dihadapi,” ujar Franky dalam konferensi pers kunjungan Menteri Perindustrian di kantornya di Tanjung Priok.
Pasalnya, kata dia, perseroan banyak memperoleh bahan baku gandum dari Australia, Kanada, Amerika Serikat (AS), India, dan Eropa Timur seperti Ukraina. Dengan pelemahan rupiah, maka bahan baku yang diimpor dengan denominasi dollar membuat harga menjadi lebih mahal.
Franky mengatakan, gandum merupakan bahan baku utama tepung terigu yang banyak digunakan untuk roti, mie, dan kue. “Tepung terigu memberikan kontribusi sebesar 70 persen terhadap penjualan perusahaan,” katanya.
Meski saat ini produsen tepung terigu belum menaikkan harga jual, sebenarnya para produsen sudah berkeinginan untuk menaikkan. Hanya saja, masing-masing perusahaan masih saling menunggu. “Saya kira persaingan sudah berjalan, tren akan naik, jadi saya tidak bisa menyatakan untuk tidak naik. Biasanya, kami yang akan memulai dahulu,” katanya.
Sementara itu Menteri Perindustrian M.S Hidayat mengakui pihaknya akan berusaha untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan kebutuhan bahan pokok, termasuk tepung terigu. Bahkan, dia berharap, Bogasari bisa menahan kenaikan harga tepung terigu dalam waktu dekat ini.
Pasalnya, menjelang Lebaran, pemerintah harus memastikan stabilitas harga sehingga tidak menimbulkan kepanikan di masyarakat.
Salah satu yang akan dilakukan adalah berusaha memfasilitasi tuntutan produsen tepung terigu soal perbedaan pengenaan PPN yang dikenakan untuk pakan ternak dengan industri. Untuk tepung terigu yang merupakan bahan baku untuk pembuatan makanan ternak, PPN atas penjualan ditanggung oleh pemerintah atau dibebaskan.
Adapun untuk industri, dibebankan kepada industri. “Menurut industri tepung terigu menanggung hampir 80% dari PPN yang seharusnya ditanggung pemerintah. Kami akan bicarakan ini dengan Kementerian Perdagangan untuk mencari solusinya,” ujarnya.
Pelemahan rupiah tentu berdampak terhadap dunia usaha, terutama yang bergantung pada bahan baku impor. Apalagi sebelumnya harga BBM sudah naik sehingga menambah beban pelaku usahanya. Akhirnya masyarakat juga yang harus menanggung kenaikan harga-harga. (Kur).

Share This:

You may also like...