Dingin Walafiat di Danau Lut Tawar

Tak banyak destinasi wisata menarik di Provinsi Aceh.Tapi Danau Lut Tawar di Takengon, Kab Aceh Tengah, menjanjikan nilai tambah. Anda serasa bergerak perlahan di tengah hutan, gunung dan jurang nan asri alami sepanjang perjalanan. Khas Sumatera.

TENANG airnya. Tanpa riak. Warnanya biru, bagai permadani. Danau Lut Tawar namanya. Terhampar seakan pekarangan jauh Kota Takengon. Jika anda melintas di atasnya menggunakan heli atau pesawat, pemandangannya seperti sisa-sisa air laut yang terjebak di daratan—ribuan tahun silam, setelah dilanda badai besar. Tak jauh di sekelilingnya terpancang kokoh barisan bukit nan perkasa.

Tujuan favorit berlibur ini memang ikon wisata Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Meluncur di permukaan Danau Lut Tawar bisa asyik dengan perahu motor. Sama asyiknya dengan kegiatan bersepeda (tersedia rental di sekitar danau) atau memancing, selain trekking. Fasilitas untuk bermain ski dan berperahu tersedia di beberapa tempat. Kebanyakan wisatawan lebih suka menghabiskan waktunya untuk memancing. Jika anda perlu mandi air panas, tempatnya di Krueng Peusangan atau di Simpang Balek, 30 menit sebelum Takengon.

Danau seluas 5.472 ha ini berada di Dataran Tinggi Gayo (1.100 m dpl). Suku asli Gayo menamainya Danau Lut Tawar. Artinya danau air laut tawar. Terbentang luas sepanjang 17 km lebih, danau ini jadi menyerupai lautan. Empat buah gua tua di sekelilingnya menambah eksotis aroma danau.

Posisi Lut Tawar agaknya mirip Kota Bandung purba. Hutannya masih dihuni trenggiling, landak, siamang, kijang, kucing hutan dan harimau cukup terpelihara. Suhu di sana sangat sejuk nyaman, rata-rata hampir permanen sekitar 20º Celsius/68º Fahrenheit. Ketika kota kecil Takengon yang indah menyambut anda,  itu artinya anda sudah di pelataran Danau Lut Tawar.

Jelang mencapai danau, di tengah perjalanan, bagusnya anda bersafari di perkebunan kopi Dataran Gayo. Kegiatan menyaksikan habitat penghasil salah satu kopi masyhur ini tak kalah mengesankan. Menghirup Kopi Gayo di pagi yang dingin walafiat di habitat asalnya sungguh maknyus. Kopi khas Tanah Rencong ini sudah terkenal di berbagai wilayah Nusantara. Kopi jenis Arabica menjadi andalan utama bagi 53.902 keluarga petani di sana. Umumnya kebun kopi itu peninggalan Belanda. Sebagian hasilnya diekspor ke Amerika, Jepang, dan Belanda.

Komoditas Gayo lainnya adalah jeruk keprok (unggulan), jeruk siam, alpokat, nanas kecil, terong Belanda, dan durian. Mereka yang mengunjungi NAD, dan hanya sampai di Banda Aceh, mungkin lebih mengenal kopi dengan merk dagang Ulee Kareng. Menurut sumber terpercaya yang penulis peroleh ketika ikut aktif dalam proyek rehab rekon pascatsunami, bahan dasar kopi Ulee Kareng justru kopi Takengon/Gayo. Tradisi minum kopi massal di Tanah Rencong mungkin hanya bisa disejajarkan dengan kebiasaan masyarakat Belitung, Provinsi Babel.

PASOKAN air Danau Lut Tawar bersumber dari 24 anak sungai yang bermuara ke sana. Yang paling khas dan sekaligus jadi kebanggaan masyarakat sekitar adalah ikan depik (Rasbora tawarensis). Jenis ikan ini hanya terdapat di Danau Lut Tawar, mirip ikan Bilih di Danau Singkarak dan Danau Maninjau, Sumatera Barat.

Kemunculan ikan depik tidak setiap saat, tapi musiman. “Musim Depik” datang dua kali dalam setahun, yaitu awal musim hujan dan awal musim kemarau. Musim itu ditandai dengan hujan gerimis disertai angin kencang dan suhu udara rendah (dingin), adanya gelombang besar di danau dari arah barat. Orang Gayo menyebutnya gelumang kul. Ikan depik menyembul dari persembunyiannya di tepian Danau Lut Tawar yang menjorok ke Gunung Kelieten.

Pada masa lalu, para nelayan (begule) setempat menerapkan aturan adat yang ketat. Misalnya, jaring (alat tangkap) ukuran kecil tidak boleh digunakan dalam jarak 50-100 meter dari pinggir danau. Ikan depik ukuran kecil (≤0,5 cm) yang ditangkap harus dilepaskan kembali. Namun, rentang waktu dan peningkatan konsumsi sejalan dengan laju populasi, tradisi berwawasan lingkungan yang bagus itu mulai tergerus.

Pascakonflik horisontal di NAD, dinamika dan orientasi sosial berkembang makin pragmatis. Kelestarian lingkungan dan habitat untuk regenerasi ikan depik pun terabaikan. Sejak 1999, masyarakat mulai memanfaatkan wilayah pinggir danau untuk menebar keramba apung. Usaha budidaya ini tentu saja demi kepentingan ekonomi. Di sisi lain, keberadaan keramba merupakan ancaman serius bagi habitat dan populasi ikan depik. Sebab, pemberian makanan dan pengendalian hama penyakit ikan budidaya yang menggunakan zat-zat kimia itu positif berdampak pencemaran.

Sebagai aset daerah/nasional, di wilayah sekitar Danau Lut Tawar terkandung potensi pertambangan yang belum dieksplorasi. Sebut saja antara lain, lempung, batu gamping, marmer, fosfat. Hal lain yang bikin penasaran berbagai pihak adalah ‘harta karun’ peninggalan Belanda di dalam danau. Tatkala serdadu Jepang datang dan menyerbu dari kawasan pesisir, Belanda melarikan diri ke pedalaman Gayo, sembari membuang  jeep, bom dan alat perang lainnya ke danau.

Beberapa tahun silam tersiar berita penemuan bom aktif seberat 1,5 ton di kedalaman 18 meter Danau Laut Tawar. Disebut-sebut ‘koleksi’ itu terdiri dari bom nenas, senjata berkarat, peluru, dan bom kecil lainnya yang menyatu dengan bebatuan. Berulang kali dicoba mengangkat benda berbahaya ini (230 cm dengan lingkaran 120 cm), tapi selalu gagal. Dalam upaya terahir, tim selam memboyong peluru roket seberat 1 kilogram, 42 butir peluru aktif bertuliskan tahun 1941, dan ratusan peluru senjata laras panjang.

Banyak cara ‘menikmati’ panorama Danau Lut Tawar. Seorang traveler membagi pengalamannya yang menarik. Mulai dari naik sepeda hingga ‘mengintip’ danau sebagaimana dicatatnya dengan apik. Berkendara kelilingi danau amat kondusif mengingat kondisi jalan beraspal mulus. Atau, berhenti sejenak, lalu tatap ‘Bukit Barisan’nya Tanah Gayo di sisi lain danau.

Cermati dari Bukit Ujung Toweran, Bukit Ujung Bale Atu, hingga bukit yang berbatasan dengan persawahan dekat Desa Bamil Nosar, Kec Bintang. Bisa juga bersantai di Dermaga Kampung Keramat Mupakat, Kec Bebesan, yang menjorok ke danau. Anda hanya perlu berjalan kaki beberapa lorong perkampungan untuk sampai ke sana. Di sana awan tampak menggantung di muka gugusan bukit.

Damai sekali menyaksikan beberapa pengunjung uji kesabaran dengan menambatkan pancing dan bocah-bocah bersepeda kian ke mari dengan ceria. Cobalah hirup udara segar di Puncak Pantan Terong di Kampung Bahgie, Kec Bebesan. Anda akan menikmati aroma alam nan asri sepanjang jalan menanjak ke kawasan ekowisata itu. Korbankan sedikit waktu untuk mendaki ke Burni Gayo yang hanya berketinggian sekitar 600 m dpl.

Dari puncak tersebut, di bawah kerangka sign Gayo Highland, Kota Takengon serasa benar-benar berada di atas awan. Traveler tadi mencatat satu cara lain yang tak kalah mengesankan. Dari ketinggian 2.624 mdpl, di Puncak Burni Telong, Danau Lut Tawar bisa  “diintip” di sela-sela awan. Sebuah snapshot yang mengesankan. Burni Telong juga salah satu tempat di Aceh untuk melihat lautan bunga edelweis yang tumbuh pada jalur pendakian.

BAGAIMANA soal akses dan akomodasi? Dari Bandara Iskandar Muda, Banda Aceh, naik bus umum atau menyewa mobil buat ke Takengon dengan jarak tempuh 8-9 jam. Bisa juga lewat Kota Medan, 3-4 jam berkendara. Naik kendaraan umum dari kota ini sejauh 100 km, anda berangkat dari Jl Gajah Mada. Ada bus Anugerah, Pelangi, Kurnia dan PM Toh. Bus berangkat tengah malam agar sampai di sana pagi hari. Bila anda ingin lebih cepat, silakan pilih travel jemput-antar.

Bentangan jalan berliku di antara pergunungan indah dan jurang-jurang yang dalam sepanjang melintasi Kabupaten Bireuen dan Kabupaten Bener Meriah. Jika bertolak dari arah barat, anda juga dapat mencapai ‘danau di atas awan’ ini melalui Kabupaten Aceh Barat. Jika anda tak betah berlamalama melalui jalur darat, anda dapat juga mencapai lokasi melalui udara dengan pesawat kecil.

Lalu, bagaimana halnya terkait akomodasi? Hotel dan penginapan di sekitar Danau Lut Tawar Takengon Aceh tak menyediakan banyak pilihannya, beberapa penginapan di sini harganya murah dan kondisinya cukup bersih. Penginapan paling dekat dengan danau antaranya Hotel Renggali. Belasan lokasi akomodasi berupa hotel, wisma dan penginapan, di Takengon dan seputar Danau Lut Tawar. Sebut saja Hotel Danau Laut Tawar, Hotel Triaga, Danau Tawar Lut Wisma, atau Wisma Umah Upat.

Khusus untuk kaum Hawa, sangat disarankan mengenakan pakaian tertutup yang longgar di provinsi yang memberlakukan hukum syar’i ini. Terlebih ketika anda berada di Kota Banda Aceh.  Penerapan dan kontrol ketentuan berpakaian syariah di sini sangat ketat. Jangan lupa, lengkapi kamera atau smartphone anda dengan memori ukuran besar. Sebab, di sepanjang jalan dan di tempat tujuan, banyak sekali obyek indah mengesankan untuk disimpan di dalam gadget anda. Trimong geunasih, beuh.●(dd)

Share This:

You may also like...