Diana Dewi Siap Pimpin Kadin DKI Jakarta

Transformasi digital, fasilitasi permodalan, dan memperkuat sinergi dengan Pemda merupakan tiga agenda strategis yang digagas Diana Dewi dalam bursa pemilihan Ketua Umum Kadin DKI Jakarta Periode 2019-2024.

Setelah sukses berbisnis daging sapi dan jasa boga, kini Diana Dewi membidik kursi Ketua Umum Kadin DKI Jakarta periode 2019-2024. Dengan mengusung slogan “Kebersamaan dalam Manfaat”, ia yakin dapat menjadikan usaha anggota Kadin Jaya semakin berkembang.

Diana menuturkan, pelaku usaha perlu memanfaatkan perkembangan teknologi digital untuk memperluas pangsa pasar produk dan jasanya. Transformasi digital ini menjadi salah satu visinya jika kelak terpilih sebagai Kadin Jaya-1. “Selama ini, Kadin DKI belum maksimal dalam mengembangkan ekonomi digital seperti e-commerce. Padahal secara pribadi saya sudah melakukan dan mendapat manfaat dari digitalisasi,” ujar Diana.

Konkritnya, pemilik bendera PT Suri Nusantara Jaya ini membuat aplikasi pemasaran digital bagi anggota Kadin DKI. Aplikasi itu nantinya dapat menyatukan para produsen anggota  Kadin wilayah. Pengembangan pasar berbasis digital ini diyakini dapat lebih mengkapitalisasi nilai bisnis anggota.

Penilaian Diana tentang prospek konomi digital bukanlah tanpa data. Menurut laporan berjudul The Digital Archipelago yang dirilis lembaga riset dan konsultan bisnis global terkemuka McKinsey, memproyeksikan nilai pasar e-commerce Indonesia akan mencapai US$65 miliar atau sekitar Rp910 triliun pada 2022. Ini disebabkan beberapa faktor antara lain penetrasi pengguna ponsel, peningkatan daya beli masyarakat, serta adopsi teknologi yang relatif cepat.

Masih menurut laporan yang sama, perkembangan ekonomi digital akan memberi manfaat dalam empat hal. Pertama, perdagangan online semakin mendorong tingkat konsumsi. Pada 2017 saja nilai transaksi online mencapai US$3 miliar atau Rp42 triliun. Kedua, membuka akses ekspor terutama untuk industri kreatif. Ketiga, menyerap tenaga kerja yang jumlahnya diprediksi mencapai 26 juta orang pada 2022. Keempat, meningkatkan kesetaraan sosial. Sebab, rata-rata harga barang yang diperdagangkan lewat online lebih rendah 11% sampai 25% dibanding peritel tradisional. Hal ini memungkinkan konsumen di luar Pulau Jawa membeli produk online tersebut.

Meski ekonomi digital semakin pesat, namun pelaku UMKM yang berdagang secara online masih sedikit. Data Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mencatat hanya 9,6 juta atau 17,1% dari total 56 juta UMKM di Indonesia yang berjualan secara online. Oleh karenanya, gagasan transformasi digital yang ditawarkan Diana sangat relevan untuk mengakselerasi perkembangan usaha terutama di sektor UMKM.

Fasilitasi Permodalan

Permodalan merupakan masalah klasik yang masih dihadapi para pelaku usaha utamanya di sektor UMKM. Mengutip data Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sebanyak 70% UMKM di Indonesia belum mendapatkan akses pembiayaan dari perbankan. Padahal, UMKM merupakan tulang punggung perekonomian.

Data Kemenkop dan UKM pada 2018, kontribusi UMKM terhadap produk domestik bruto (PDB) mencapai 60,34%, serta penyerapan tenaga kerja 116,73 juta orang atau 97,02% dari total angkatan kerja yang bekerja. Minimnya akses pembiayaan bagi UMKM selama ini disebabkan antara lain kendala administratif maupun manajemen keuangan dan bisnis yang belum bankable.

Oleh karenanya, ibu dua anak kelahiran Jakarta, 27 Juli 1965 ini akan mengusahakan fasilitas permodalan bagi anggota Kadin DKI.  Untuk penyediaan akses permodalan, sinergi Kadin dengan lembaga keuangan baik bank dan non perbankan akan terus ditingkatkan. Terlebih saat ini Pemerintah memiliki banyak skema untuk membangkitkan UMKM antara lain dengan program KUR maupuan Dana Bergulir dari Lembaga Pembiayaan Dana Bergulir (LPDB) KUMKM di bawah Kementerian Koperasi dan UKM. “Kita akan terus dorong sinergi Kadin dengan lembaga penyedia permodalan,” ujar Diana.

Sinergi Dengan Pemprov DKI Jakarta

Sebagai mitra Pemerintah, Diana akan terus meningkatkan sinergi Kadin Jaya dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Caranya, dengan meningkatkan kembali peran Koperasi Kadin Jaya untuk mencari sumber-sumber pembiayaan baru bekerja sama dengan Pemprov DKI.

Selain itu, Diana juga terus meningkatkan kerja sama dengan Pemprov DKI terutama di tiga sektor usaha yaitu informasi dan komunikasi, jasa perusahaan, dan jasa keuangan. Sebab,  pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta selama ini banyak ditopang oleh ketiga sektor tersebut. “Peningkatan kerja sama anggota Kadin Jaya dengan Pemprov DKI akan terus didorong terutama di sektor-sektor prioritas,” ucap Diana.

Skala sektor usaha prioritas yang diincar Diana untuk bersinergi dengan Pemprov DKI Jakarta sangat tepat. Merujuk data BI per triwulan I-2019 mencatat, realisasi perekonomian DKI Jakarta sebesar mencapai 6,23% secara tahunan. Angka itu lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional.

Dari sisi lapangan usaha (LU), sektor informasi dan komunikasi mampu tumbuh 13,17%) karena dorongan belanja iklan terkait kegiatan Pemilu selain penggunaan paket data yang tetap tumbuh tinggi. LU jasa perusahaan tumbuh sebesar 12,92% yang diantaranya didorong oleh aktivitas berbagai lembaga dalam mendukung pelaksanaan Pemilu seperti lembaga survei. LU jasa keuangan dan asuransi tumbuh sebesar 11,49% karena meningkatnya aktivitas perbankan dalam menyalurkan kredit.

Dengan agenda-agenda yang digagasnya tersebut, Diana yakin bisnis anggota Kadin Jaya akan semakin berkembang pada masa mendatang. Hal ini akan turut mendukung pertumbuhan ekonomi khususnya di DKI Jakarta dan secara nasional pada umumnya. (Kur).

Share This:

You may also like...