Denny Delvandri, Jatuh Bangun dengan Kek Pisang

 

JELI menangkap peluang, kreatif dan tidak kenal menyerah.Tiga kalimat itu sering kita dengar sebagai nasehat agar usaha bisa sukses.Namunsedikit yang mampu mempraktikannya dalam kehidupan.Denny Delvandri adalah sedikit orang yang mampu menerapkan hal tersebut.

 

Choconut-(2)

Pria kelahiran Magelang, 11 Juni 1980 ini, terbilang sukses dalam bisnis makanan (kue) di Batam, Kepulauan Riau.Produknya yang bermerek Kek (cake) Pisang Villa sudah menjadi buah tangan khas Batam.Tidak sedikit wisatawan yang menenteng Kek Pisang Villa di Bandara Hang Nadim, Batam sebagai oleh-oleh untuk dibawa pulang.

Deni memang jeli melihat peluang. Batam selama ini hanya dikenal sebagai kota investasi dan transit menuju Singapura. Mereka yang datang dari Batam, sulit mencari oleh-oleh khas, selain barang elektornik.“ Dari situ saya berfikir harus ada yang khas selain barang elektronika.” ungkap Denny kepada PELUANG saat berkunjung ke pusat pembuatan panganan tersebut di Batam Center, Maret lalu.

Di pabrik pembuatan kek Pisang Villa, pengunjung bisa menyaksikan proses pembuatan, pengepakan dan distribusi hingga sejarah berdirinya usaha tersebut.Dari buku tamu dan dokumentasi foto yang ada, sejumlah selebriti dan pejabat negara pernah berkunjung ke sana. Tak terhitung rombongan siswa mulai level taman kanak-kanak hingga mahasiswa menjadikan pabrik tersebut sebagai wisata edukasi.

 

Belajar dari Gagal

Awalnya, sejak meraih gelar sarjana teknik elektro pada tahun 2003, ia bekerja sebagai karyawan pada sebuah perusahaan elektronik di Batam. Rutinitas sebagai pekerja dengan gaji pokok sekitar Rp1,3 juta per bulan membuatnya risau. Denny selalu berpikir bagaimana caranya meningkatkan penghasilannya.

Setelah satu tahun bekerja, Denny mulai menjual kerupuk udang yang diambil dari orang lain. Waktu berangkat kerja, dia menitipkannya di warung-warung di sekitar pabrik di Mukakuning.Penghasilan dari berjualan kerupuk udang cukup lumayan, sekitar Rp 800.000 per bulan atau lebih dari separuh dari gaji pokok. Namun, pekerjaan sambilan itu hanya bertahan empat bulan, kesibukan di pabrik dengan kerja shift tidak memberi peluang baginya untuk bisnis sambilan. Denny kemudian mencoba berjualan kue onde-onde yang juga diambil dari orang lain. Namun, usaha sambilan itu pun hanya bertahan beberapa bulan.

Akhir 2005, keinginan berwirausahamakin menggebu-gebu. Dengan uang pinjaman dari koperasi karyawan sebesar Rp 10 juta, ia membuka usaha rumah makan Padang. Lagi-lagi bisnis yang dibuka di depan rumah itu hanya berlangsung dua bulan.Ia keliru membaca pasar, karena di lokasi warung padangnya sudah berdiri dua warung serupa. Sulit bersaing dengan menu yang sama dalam lokasi yang sama, tanpa keunggulan yang dimilikinya.

Gagal berbisnis rumah makan Padang, iamulai lagi usaha event organizer (EO) pada April 2006. Awalnya, bisnis itu cukup menguntungkan sehingga pekerjaan sebagai karyawanditinggalkan. Denny merasa pas di bisnis EO tersebut, bahkan ia pernah mendapat keuntungan hingga Rp 15 juta dalam satu event.Namun, seiring perjalanan waktu, bisnis EO makin kompetitif dan mencari sponsor semakin sulit.Pada September 2006, atau enam bulan bergelut di EO, Ia kembali mengangkat bendera putih tanda kalah, tapi belum ingin menyerah.Ia pulang ke kampungnya untuk mengatur napas dan merancang usaha baru.

Denny-Delyandri-n-Selvi-Nurlia

Kek Pisang, Ilham dari Kampung

Setelah satu bulan di kampung, ia kembali ke Batam dan mencoba bisnis kek pisang. Kue pisang itu dibuat oleh istrinya, Selvi. Deny memilih usaha baru ini karena, buah pisang tidak kenal musim sehingga bahan baku usahanya yang baru itu mudah didapat

Pada mulanya, kue-kue pisang yang dibuat hanya ditawarkan kepada tetangga.Dari situ, dia mulai berpikir masih ada peluang usaha di Batam di luar barang elektronik.

Denny mulai merancang pemasaran kek pisang dengan kemasan yang agak cantik.Kek pisang itu difoto dan ditawarkan kepada teman-teman untuk dijual dengan imbalan Rp3.000 dari harga kue Rp 15.000 per loyang. Dengan berbekal foto-foto itu, teman-temannya menawarkan kue ke pabrik-pabrik.Bisnis kek pisangnya perlahan-lahan mulai dikenal masyarakat sekitarnya.

Untuk memperluas usaha, Denny mulai bersentuhan dengan perbankan yang kala itu menyalurkan pinjaman Rp 40 juta. Dana itu digunakan menyewa ruko di Mukakuning sehingga usahanya tampak di muka umum. Pada suatu waktu, ada yang membeli kek pisang untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Dari situlah Denny mulai memikirkan kemasan pada produknya.

Sukses Denny bisa dilakukan oleh siapa saja, yang memang punya semangat pantang menyerah, dan berani bangkit walau jatuh berkali-kali.Sukses juga harus ditopang oleh kemampuan membaca selera pasar dan setidaknya mengerti teknolgi dann strategi pemasaran.Seperti diakui Denny, bahwa produk UKM dari sisi rasa dan kualitas tidak kalah dengan produk dari luar negeri.Sayang kemasannya tidak menarik dan belum memenuhi standar sehingga daya tahan produk makanan dalamkemasan bisabertahan lama.

Sejumlah penghargaan diterima Denny antara lainAsean Business Award, yang diserahkan langsung oleh Surin Pitsuan, Sekretaris Jenderal ASEAN pada Kamis, 17 November 2011, di Batam, Penghargaan bagi perusahaan berkriteria Small Medium Enterprise ini, bertujuan untuk memperkenalkan perusahaan-perusahaan ASEAN yang tumbuh di setiap wilayah Asean dengan daya saing global. Nantinya akan menjadi model utama bagi inspirasi perusahaan-perusahaan Asean lainnya.

Share This:

You may also like...