Daya Beli Petani September 2019 Meningkat Tipis

Ilustrasi-Foto: iNews

JAKARTA—-Pemantauan yang dilakukan Badan Pusat Statistik Nasional (BPS) di 33 Provinsi di Indonesia pada September 2019, Nilai Tukar Petani (NTP) secara nasional tercatat 103, 88 atau mengalami keniakan 0,63 persen dibandingkan NTP Agustus 2019 dengan angka 103,22.  

Dengan demikian dua bulan terakhir, NTP Petani semakin stabil di atas angka 103, karena pada Juli 2019 tercatat 102,63 dan pada Juni 2019 sebesar 102,33.

NTP adalah perbandingan indeks harga yang diterima pertani terhadap indeksi yang dibayar petani.  NTP merupakan indikator kemampuan daya beli petani di perdesaan. Menurut Kepala BPS Suhariyanto semakin tinggi, semakin meningkat pula daya beli petani.

Titik inflasi NTP berada di angka 100. Sehingga, ketika NTP berada di tingkat 100 artinya harga yang digunakan oleh petani habis dibayarkan untuk kebutuhan mereka, baik untuk konsumsi rumah tangga maupun produksi.

Kenaikan NTP pada September 2019 disebabkan oleh indeks harga hasil produksi pertanian mengalami peningkatan, sedangkan indeks harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh rumah tangga maupun untuk keperluan produksi pertanian mengalami penurunan.

“Kenaikan NTP pada September 2019 dipengaruhi oleh naiknya NTP di empat subsektor pertanian, yaitu NTP subsektor tanaman pangan sebesar 1,88 persen, subsektor holtikultura sebesar 0,01 persen, dan NTP subsektor tanaman perkebunan rakyat sebesar 0,69 persen,” tutur Suhariyanto dalam Jumpa Pers di Kantor BPS, Selasa (1/10/19).

Rilis BPS juga  mengungkapkan Provinsi NTB mempunyai NTP tertinggi pada September 2019 sebesar 115,04, disusul Sulawesi Barat dengan nilai 112, 89 dan Jawa Barat sebesar 110,97.

Menurut BPS lagi pada September 2019 terjadi deflasi di perdesaan Indonesia sebesar 0,73 persen, dengan penurunan indeks tertinggi pada kelompok bahan makanan (van).


Share This:

You may also like...