Daya Beli Petani Oktober 2019 Naik Tipis

Ilustrasi-Foto: PIkiran Rakyat.

JAKARTA-—Nilai Tukar Petani (NTP) nasional Oktober 2019  tercatat sebesar 104,04 atau naik 0,16 persen dibanding NTP Setember.

Kenaikan NTP dikarenakan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) naik sebesar 0,23 persen, lebih tinggi daripada kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) sebesar 0,07 persen.

NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/daya beli petani di perdesaan. NTP juga menunjukkan daya tukar (terms of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Semakin tinggi NTP, secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan/daya beli petani.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Nasional Suhariyanto mengungkapkan, kenaikan boleh dibilang tipis, karena hanya dipengaruhi oleh naiknya NTP dua subsektor pertanian, yaitu tanaman pangan sebesar 0,97 persen dan hortikultura sebesar 0,11 persen.

“NTP pada tiga sektor lainnya mengalami penurunan yaitu tanaman perkebunan rakyat 0,18 persen, pertenakan 0,58 persen dan perikanan sebesar 0,28 persen,” kata Suhariyanto dalam jumpa pers di kantornya, Jumat (1/11/19).

NTP Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam mengalami kenaikan tertinggi (1,22 persen) dibandingkan kenaikan NTP provinsi lainnya. Sebaliknya, NTP Provinsi Gorontalo mengalami penurunan terbesar (1,70 persen) dibandingkan penurunan NTP provinsi lainnya.

BPS mencatat pada Oktober 2019 terjadi inflasi perdesaan di Indonesia sebesar 0,05 persen, dengan kenaikan indeks tertinggi terjadi pada kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau.

Sementara  rilis BPS juga menyebut Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) nasional Oktober 2019 sebesar 113,42 atau naik sebesar 0,10 persen dibanding NTUP bulan sebelumnya. 

Harga Gabah Kering Panen di Tingkat Petani naik 2,19 persen dan Harga Beras Medium di Penggilingan naik 1,43 persen.

Menurut BPS lagi dari 1.685 transaksi penjualan gabah di 29 provinsi selama Oktober 2019, tercatat transaksi gabah kering panen (GKP) 68,07 persen, gabah kering giling (GKG) 15,79 persen, dan gabah kualitas rendah 16,14 persen.

Share This:

You may also like...