Dari Program PKT Lahirlah Wirausaha Baru Ibu Kota

Meeta Sandjaja-Foto: Irvan Sjafari

JAKARTA—-Selvia Angelina begitu bersemangat menawarkan produk dimsumnya dengan brand Oemah Keiika kepada para pengunjung yang lalu lalang di areal Pekan Raya Koperasi 2019.  Perempuan yang karib dipanggil Vivi itu merintis usahanya bersama kawannya Putri Fatma awal 2019. 

Mereka mengikuti pelatihan dari Suku Dinas Perindustrian dan Energi Provinsi DKI Jakarta dan Sudin KUKMP Duren Sawit, serta progam Pengembangan Kewirausahaan Terpadu (PKT) dari Pemprov DKI Jakarta. Alumni Jurusan Broadcasting Interstudi ini juga mengikuti  pelatihan digital marketing dari Kementrian Koperasi, Dirjen Pajak dan Gofood

“Dimsum ini resep saya sendiri, saya meracik sendiri, walaupun saya belajar dari kursus,” ujar Vivi kepada Peluang, Jumat (6/9/19) dengan wajah ceria dan bangga.

Vivi bercerita mulanya ia hanya memasarkan produk di keluarganya, lingkungannya, akhirnya ke berbagai instansi.  Dimsum dijual bervariais satu pak isi 4 seharga Rp16.000 dan premium Rp25 ribu hingga Rp30 ribu, isinya dan ukurannya berbeda.   Dia menjual dimsum isi jamur, tuna, ayam dan daging sapi.

“Alhamdullilah, nama kami mulai dikenal. Berapa waktu lalu dapat pesanan 180 boks dimsum isi total 900pc selesai untuk snack sore Pelatihan Basic Audit  sebuah perusahaan di kawasan Jendral Sudirman,” ucap perempuan kelahiran 1984 ini, seraya mengatakan akan membuka usaha bakery.

Selvia Angelina (Vivi) memakai hijab kuning-Foto: Irvan Sjafari

Selain Vivi, warga Kelapa Gading Meeta Sandjaja  mengakui program PKT mendongkrak usaha kuliner yang dijalani sejak 2012. Dia pun bergabung dengan Koperasi Wirausaha Kecamatan Kelapa Gading.

“Saya memproduksi kebab, donat, aneka kue  dan berbagai macam makanan. Saya bergabung sejak Program Oke Oce,” kata Meeta yang juda ditemui di arena Pekan Raya Koperasi.

Meeta menyebut menyebut koperasi membantu berbagai wirausaha untuk memasarkan produk ke berbagai instansi.  Dia sendiri meraup omzet Rp7 hingga 8 juta untuk makanan kecil dan Rp40 juta untuk katering per bulan.

“Walau kini anggota kami baru 38 orang dan baru  belum lama berdiri.  Kami ingin agar wirausaha kecil menjadi mandiri. Wirausaha yang bergabung beragam mulai dari salon kecantikan, batik hingga kuliner,” terang perempuan yang jadi Ketua Pengawas di Koperasi Wirausaha Kelapa Gading.

Peluang juga menemui Bambang yang merintis suaha somay Bandung bersama rekannya Harry Yansyan dari Koperasi Wirausaha Kecamatan Jagakarsa.  Bambang belajar membuat siomay dari Youtube  berawal karena anak menyukai masakan itu.

“Pas dicoba ternyata suka, lalu keluarga suka dan akhrinya dicoba dan mendapat sambutan. Walau omzet kami masih kecil sekitar Rp250 ribu per hari,” ujar dia seraya mengakui program PKT membantu pengembangan usahanya melalui koperasi.

Bambang mengaku menjual siomaynya satuan Rp3.000. Bahan yang digunakan tenggiri asli, dnegan komposisinya lebih banyak tari tepung hingga terasa gurihnya.  Margin tidak besar, yang penting pelanggan menjadi suka.

“Omzet tertinggi saya hanya pada selama Ramadan bisa meraup Rp9 juta,” ucap dia.(Irvan Sjafari)

Share This:

You may also like...