Danau Beraneka Warna Di Haribaan Gunung Kelimutu

Dari tiga danau warna warni di muka bumi, khazanah trio danau yang terhampar di Taman Nasional Kelimutu, Flores, jauh lebih menakjubkan dibanding Danau Reba, danau pink di Senegal, dan Danau Natron, danau merah istimewa berpola putih di Tanzania.

Tiga danau sorgawi nan langka itu berubah warna secara berkala. Ketiganya terletak di gunung berapi Gunung Kelimutu (1.690 m dpl), di Pulau Flores, Provinsi NTT. Tepatnya di Desa Pemo, Kec Kelimutu, Kab Ende. Dikenal dengan nama Danau Tiga Warna karena memiliki tiga warna yang berbeda, yaitu merah, biru, dan putih. Tampilan warna-warna tersebut berubah-ubah dalam perjalanan waktu. Perubahan warna ini terjadi mungkin akibat aktivitas vulkanologi. Namun, masyarakat setempat mempercayainya sebagai isyarat akan terjadi perubahan alam yang luar biasa.

danau aneka warna

Ketiga danau dengan luas total 1.051.000 m² dengan volume 1.292juta m³ itu diketahui berubah warna enam bulan lalu, pada hari Selasa, 28 April 2015. Tiwu Nuwamuri Ko’o Fai berubah warna dari biru menjadi putih susu. Warna air Tiwu Ata Polo dari hijau menjadi merah.

Sedangkan warna Tiwu Ata Mbupu yang semula berwarna hitam berubah menjadi hijau. Sebelum kejadian 28 April itu, perubahan warna danau-danau di Gunung Kelimutu terjadi pada 2013. Diurut dari bawah, ketika anda menapak naik melalui ratusan anak tangga untuk menyaksikan ketiga keajaiban alam Flores, danau pertama bernama Tiwu Ata Mbupu (danau arwah para orang), danau kedua bernama Tiwu Nuwa Muri Koo Fai (danau arwah mudamudi) dan danau ketiga bernama Tiwu Ata Polo (danau arwah para tukang tenung). Danau pertama dan kedua letaknya sangat berdekatan. Batasnya adalah dinding batu sempit yang mudah longsor. Dinding berketinggian 50-150 m ini sangat terjal dengan sudut kemiringan 70 derajat. Posisi danau ketiga agak menyendiri, terpisah sekitar 1,5 km di bagian barat.

Nama “Kelimutu” merupakan gabungan kata dari “keli” (gunung)dan “mutu” (mendidih). Danaudanau ini diketemukan pada 1915 oleh warga Lio bernama Van Such Telen. Dia ini indo dari ayah Belanda dan ibu Lio. Popularitas kawasan Kelimutu meluas setelah Y. Bouman melukiskan dalam sebuah tulisan ditahun 1929. Maka, wisatawan asing mulai berdatangan. Bukan hanya pencinta keindahan, melainkan para peneliti yang penasaran dengan kejadian alam yang amat langka itu.

Kawasan Kelimutu telah ditetapkan menjadi Kawasan Konservasi Alam Nasional sejak 26 Februari 1992. Kekayaan alam Taman Nasional Kelimutu ditunjang oleh seni budaya berupa rumah adat, tarian tradisional dan kerajinan tenun ikat yang merupakan ciri khas masyarakat setempat. Topografi daerah Taman Nasional Kelimutu bergelombang mulai ringan sampai berat dengan relief berbukit-bukit sampai bergunung-gunung.

Di samping tumbuhan, taman ini habitat buat sekitar 19 jenis burung yang terancam punah. Di antaranya punai Flores, burung hantu Wallacea, kancilan Flores, opior jambul, opior paruh tebal, burung madu matari, dan elang Flores. Dari empat jenis mamalia endemik kawasan konservasi alam nasional ini, yang sering dijumpai adalah tikus gunung Bunomys naso dan Rattus hainaldi. Jika sedang mujur, di sini Anda dapat
pula menjumpai satwa seperti banteng, kijang, luwak, trenggiling, landak, dan kancil.

Sedangkan biota laut yang berada di sekitar Pulau Menjangan dan Tanjung Gelap terdiri dari 45 jenis karang; 32 jenis ikan; dan 9 jenis molusca laut.

Share This: