Dana Bergulir LPDB untuk pemberdayaan usaha mikro kecil dan menengah

Menteri Koperasi dan UKM AAGN Puspayoga berkenan memberikan pinjaman dana bergulir LPDB-KUMKM kepada para pedagang di pasar Klewer Solo dan Pasar Induk Wonosobo, Jawa Tengah yang ludes dilalap sijago merah Desember lalu. Bantuan modal berbunga sangat rendah itu ujud komitmen pemerintah dalam memberdayakan usaha mikro, kecil dan menengah.

“Kami paham bahwa pedagang pascakebakaran ini membutuhkan modal untuk membangun kembali usahanya sehingga kami sepakat menyiapkan dana bergulir,” ujar Menkop dihadapan sejumlah padagang pasar Induk Wonosobo, Jawa Tengah, awal Januari lalu.   Untuk tahap awal pinjaman pembiayaan itu disepakati sebesar Rp 1 miliar yang teknisnya diserahkan kepada Koperasi Paguyuban Pedagang Pasar Induk Wonosobo (P3IW).

Sementara dalam kunjungannya ke pasar Klewer, Solo, Menkop menawarkan dua skema untuk membantu para pedagang yang tertimpa musibah kebakaran pada 27 Desember 2014 itu. Untuk solusi jangka pendek, Menkop menawarkan penyelesaian “emergency” dalam bentuk pemberian dana bantuan sosial untuk koperasi pedagang Pasar Klewer.   Menteri menyadari para pedagang itu memerlukan dana segar sesegera mungkin untuk bisa bangkit kembali membangun usaha mereka yang ludes terbakar.

Sedangkan solusi jangka menengah yakni pemulihan (recovery), di antaranya meminta perbankan untuk penjadwalan ulang kredit para pedagang Pasar Klewer.

Untuk itu, dinas koperasi dan UKM setempat diminta   mendata pedagang Pasar Klewer yang mempunyai pinjaman di bank-bank dan akan dilakukan pendekatan kepada BI untuk melakukan pengunduran waktu sampai setidaknya 6 bulan.

Untuk pemulihan jangka panjang, Puspayoga mendorong para pedagang Pasar Klewer mengakses dana bergulir pada Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB)-KUMKM yang merupakan satuan kerja di bawah kementeriannya.

direksi lpdb

Meningkatkan peran LPDB-KUMKM

Keberhasilan LPDB dalam menjalankan misi pemberdayaan terhadap KUMKM agaknya mendapat apresiasi dari Menko Puspayoga. Bahkan menurut dia sudah saatnya lembaga ini memiliki skim-skim pembiayaan khusus seperti untuk UKM yang terkena bencana, TKI, dan lain-lain.

 

Skim inovatif serupa sejatinya telah lama dikaji, dimana dalam jangka pendek LPDB ingin memberikan modal sekaligus menjadi lembaga penjamin keberlangsungan modal UMKM pemasok ritel besar.

 

Untuk menindaklanjuti imbauan Menkop dan UKM, Direktur Utama LPDB-KUMKM Kemas Danial mengatakan pihaknya kini menjajaki kerja sama dengan peritel besar agar bisa membantu UMKM pemasok mereka. “Kami sedang menjajaki kerja sama dengan Carrefour dan Hypermart untuk membantu UMKM termasuk koperasi sektor riil yang menjadi pemasok di peritel itu,” katanya.

 

LPDB-KUMKM ingin menjamin suplai modal bagi koperasi maupun usaha mikro dan kecil pemasok peritel besar itu agar usahanya bisa terus berlanjut mengingat selama ini ada jeda waktu pembayaran yang lama dari peritel kepada pemasok.

 

Bahkan sistem pembayaran yang menunggu hingga produk yang dijual habis itu kerap membuat UMKM kehabisan modal sehingga usahanya tidak bisa berlanjut lama. “UMKM biasanya punya modal pas-pasan, kalau harus menunggu dulu sampai berbulan-bulan bahkan ada yang sampai enam bulan baru dibayar, bisa-bisa mereka sulit berproduksi karena kehabisan modal,” katanya.

 

Sistem konsinyasi yang kurang menguntungkan bagi usaha kecil itu sampai saat ini masih banyak diberlakukan peritel besar dalam memasarkan produk UMKM di gerai-gerainya sehingga LPDB-KUMKM ingin menjadi wadah solusi bagi pelaku usaha kecil dalam persoalan tersebut.

 

“Kami mendorong peritel besar untuk memberdayakan UMKM, salah satunya ya memasarkan produk UMKM. Kami yang akan menjamin UMKM untuk bisa terus berproduksi melalui perkuatan modal,” pungkasnya.

 

Untuk meningkatkan peran LPDB-KUMKM, Puspayoga beberapa waktu lalu telah meminta agar lembaga ini menghentikan sementara (moratorioum) penyaluran dana bergulir. Moratorium itu dimaksudkan mengevaluasi kinerja lembaga berstatus Badan Layanan Umum (BLU) ini untuk disiapkan menjadi perusahaan induk (holding) dana bergulir dari BLU sejenis.

Namun demikian, tidak banyak yang seketika paham atas kebijakan pemerintah tersebut lantaran isu yang mengemuka adalah moratorium alias penghentian sementara penyaluran dana bergulir sampai batas waktu yang tidak ditentukan.

 

Ketika pro dan kontra di kalangan masyarakat berkembang, tim internal LPDB-KUMKM justru tengah sibuk mengkaji teknis pembentukan BLU ini menuju holding yang akan mengoordinasikan penyaluran dana bergulir dari seluruh BLU sejenis yang ada di delapan kementerian/lembaga.

Menurut Kemas Danial, kajian LPDB menuju holding hingga saat ini terus dilakukan, bahkan secara informal sebenarnya sudah mulai terbentuk. ” holding tersebut nantinya akan berbentuk semacam badan yang bertanggung jawab langsung terhadap presiden,” ujarnya.

 

Dari delapan BLU sejenis yang menyalurkan dana bergulir, LPDB dinilai sebagai BLU terbaik sehingga layak menjadi perusahaan induk untuk usaha sejenis. “Di delapan kementerian yang menyalurkan dana seperti ini, LPDB dipandang terbaik jadi akan dijadikan holding dan LPDB sebagai ‘leader’,” kata Kemas.

 

Sebelumnya, Menteri Keuangan memberikan petunjuk agar LPDB sebaiknya dijadikan holding sebelum dibentuk menjadi badan. Itu sebabnya, dalam rangka menyiapkan diri ke arah holding itu. LPDB menghentikan penyaluran dana bergulir untuk sementara guna mengkaji tata cara, skim penyaluran, dan target penyalurannya. BLU lainnya yang siap bergabung dengan holding LPDB-KUMKM kata Kemas Danial adalah dari Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Guna mengantisipasi penggabungan BLU lainnya, LPDB akan membangun sistem satu pintu agar tidak terjadi duplikasi penyaluran dana bergulir antar-BLU. “Dengan diholding jadi satu pintu maka duplikasi tidak akan terjadi lagi, kami sudah berkoordinasi dengan BLU lain,” katanya. Targetnya awal 2016, holding dana bergulir sudah terbentuk dan beroperasi.

Jika delapan BLU sudah bergabung ke dalam holding, maka total pengelolaan dana bergulir sedikitnya mencapai Rp15 triliun sehingga tidak perlu lagi penyuntikan APBN. Pernyataan Kemas Danial sekaligus membantah kabar yang berkembang dalam beberapa waktu terakhir soal penghentian penyaluran dana bergulir karena tingkat kredit bermasalah yang tinggi.

 

“Tidak benar LPDB-KUMKM dihentikan lantaran angka kredit bermasalah yang tinggi, kolektibilitas kami masih di bawah 2 persen. Penghentian untuk sementara waktu itu, justru untuk mengoptimalkan peran dan fungsi LPDB,” tegasnya.

Kemas Danial merinci Kredit bermasalah atau Kolektibilitas Dana Bergulir Bermasalah (KDBB) LPDB hingga saat ini mencapai angka Rp 20 miliar. Angka tersebut, tuturnya, masih dalam batas kewajaran. “Kredit macet di lembaga keuangan manapun itu wajar, hanya harus dilihat apa ada unsur pidana atau tidak di dalamnya,” katanya.

Menurut dia angka itu tidak sebanding dengan keuntungan yang berhasil diraup oleh LPDB, yang telah mencapai Rp 400 miliar. “Bahkan kalaupun dana hilang Rp 400 miliar, kita masih belum rugi apalagi hanya Rp 20 miliar,” katanya.

 

LPDB telah menetapkan ukuran kemacetan dana pengembalian atau kolektibilitas dalam posisi A, B, C, D, E, hingga F. “Kalau terparah itu F berarti nasabah melarikan diri jadi kita laporkan ke pihak berwajib. Tapi kalau baru E kita masuk ke PUPN,” katanya.

 

Menurut Kemas setiap kredit bermasalah harus terlebih dahulu dilihat akar persoalannya termasuk sejumlah kredit bermasalah LPDB yang sempat melonjak karena banyak mitranya yang terkena dampak bencana termasuk mereka di Gunung Sinabung hingga banjir di Manado beberapa waktu lalu.

 

Tetapi Kemas menegaskan pihaknya tidak kemudian diam untuk merespon tingkat kredit bermasalah itu melainkan membentuk divisi khusus yang bertugas memantau kolektibilitas nasabah, melakukan temu mitra secara rutin, berikut melakukan pendampingan yang berjenjang kepada mitra binaan.

 

Oleh karena itu Kemas mengaku tidak gentar untuk terus menyalurkan dana bergulir kepada lebih banyak mitra KUMKM dimana pada tahun lalu sukses tersalur Rp 2,650 triliun dan terus bertambah untuk tahun-tahun mendatang.

Share This:

Next Post

Belanja Smart via Gadget

Jum Feb 6 , 2015
Manfaat terpenting dari dinamika dan evolusi teknologi elektronik adalah kontribusinya dalam menghibahkan kemudahan. Untuk urusan belanja, fasilitas online via dunia maya merupakan jawaban realistis yang tampaknya makin tak terelakkan. KINI, kegiatan yang namanya belanja tak perlu repot dengan menyatroni toko atau pasar. Cukup dengan pencet-pencet tombol tuts gadget di komputer/laptop/notebook/android-BB-tablet-OS. […]