Damkar Partikelir Ala Banjarmasin

Inilah kota 1.000 sungai. Juga kota 1.000 pemadam kebakaran. Namanya beragam. Sebagai kegiatan murni swadaya, aktivitas mereka bahkan tergolong damkar plus. Soalnya, Pemko Banjarmasin tak punya Dinas Pemadam Kebakaran. 

 latihan damkar

Banjarmasin terkenal dengan julukan Kota 1000 Sungai. Sungai besar dan kecil mengiris daratan ibukota Kalsel itu. Kita tahu, di sana juga melintas salah satu sungai terpanjang dan terlebar di Indonesia, yakni Sungai Barito. Namun, Banjarmasin ternyata punya julukan lain. Kota ini pantas disebut Kota Seribu Damkar karena luar biasanya jumlah armada pemadam kebakaran.

Mengapa? Penyebabnya, saban tahun jumlah kebakaran di Kota Banjarmasin terjadi lebih dari 100 kejadian. Sampai akhir November 2015, tercatat telah terjadi 92 musibah kebakaran. Penyebabnya, 90% hubungan arus pendek listrik, selebihnya karena human error, seperti lupa mematikan lilin waktu mati listrik, membuang puntung rokok sembarangan. Dalam pada itu, sebagian besar bahan rumah warga Kalsel terbuat dari kayu pula.

Lalu, siapa yang disibukkan oleh musibah ini? Pemko? Sama sekali tidak. Sebab, Pemko Banjarmasin tidak memiliki Dinas Pemadam Kebakaran. Maka, tanggung jawab urusan amukan sijago merah dipikul sepenuhnya oleh masyarakat. Publik berinisiatif sebagai bentuk kepedulian sosial. Ketika terjadi musibah api, dengan sigap armada damkar swasta menerobos kemacetan lalu lintas demi melakukan tugas kemanusiaannya.

Bunyi sirine panjang merupakan isyarat yang umum. Tidak seperti tampak di kota-kota lain, ukuran kendaraan damkar di sini tidaklah standar. Hanya beberapa buah mobil berbadan besar, lengkap dengan tangki air dan berbagai perkakasnya. Selebihnya adalah gerobak, kendaran roda 2, 3, 4 yang diutak-atik jadi kendaraan petarung api, tanpa tangki air. Jumlahnya hingga 2015 saja 550 unit lebih. Yang resmi terdaftar 447 unit, tujuh di antaranya transportasi sungai.

Logis sekali jika kota ini dua kali memperoleh pengakuan MURI. Pertama, 26 September 2004, untuk kategori “Barisan mobil Pemadam Kebakaran Terpanjang Se-Indonesia dan Asia Tenggara”. Kala itu, mobil damkar dijejerkan berbaris di jalanan Tepi Siring Sungai Martapura sepanjang hampir 2 km.

Kedua, 23 Agustus 2015, untuk kategori “Barisan Pemadam Kebakaran Swadaya Masyarakat Terbanyak”. Tak tanggung-tanggung. Rekor ini pun berlaku untuk lingkup Indonesia dan Asia. Rekor teranyar ini dibukukan oleh gabungan komunitas Pemadam Kebakaran Swata di Banjarmasin, baik yang berafiliasi pada beberapa organisasi maupun yang berdiri sendiri.

Istilah untuk gugus pemadam di Kalsel beragam, berdasarkan afiliasi organisasi dan kapling administratif lingkungannya. Di level RT, RW, kampung, kelurahan, jalan, atau kecamatan, misalnya, dikenal Damkar/Pemadam Kebakaran, BPK/Barisan Pemadam Kebakaran, Balakar/Bala Bantuan Kebakaran, Komdar/Komunikasi Darat, Hippindo/Himpunan Pemuda Pemudi Indonesia, Swasta Pribumi. Pada lingkup wilayah, nama itu sesuai nama wilayah; seperti BPK Kertakhanyar I, BPK Teluk Tiram, BPK Sungai Baru, BPK Cempaka.

Ketika terjadi musibah kebakaran, di mana pun mereka berada, semuanya beradu cepat mendatangi TKP. Peralatan standar yang mereka bawa adalah mesin pompa portable, selang air, ember dan sekop. Militansi mereka yang mengagumkan sangat patut diacungi jempol. Di wilayahnya masing-masing, personel atau relawan yang siap siaga selama 24 jam. Berapa gaji/honor mereka? Jawabnya, nol rupiah. Bagaimana dengan biaya operasional dan lain-lain? Ala kadar memang ada.

Tahun lalu hanya sekitar 103 BPK memohon bantuan lewat proposal resmi ke Pemkot. “Kami anggarkan Rp535 juta. Bantuan dana hibah yang bervariasi. Armada mobil tengki sebesar Rp4 juta, armada mobil pikup Rp3,5 juta, ambulans Rp2,5 juta, armada tossa dan speed boat @Rp2 juta, dan BPK yang masih menggunakan alat gerobak Rp1 juta. (Santunan) itu untuk meringankan dana operasional BPK. Kemampuan APBD kita tidak besar,” ujar M. Hilmi, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Kebakaran Kota Banjarmasin.

damkar partikelir

Apa daya, tahun 2016 ini, Pemko Banjarmasin meniadakan bantuan bagi Barisan Pemadam Kebakaran (BPK) yang biasa diberikan berbentuk dana hibah. Masalahnya, prosesnya sekarang makin rumit. “Peraturannya mendapatkan dana hibah saat ini makin rumit bagi BPK, tidak hanya harus terdaftar di Kesbangpol tapi juga harus terdata resmi di Kemenkum HAM. Dari sekitar 400 BPK yang ada di daerah ini terdaftar resmi di instansinya, hanya sekitar 5 BPK diketahuinya ada mengantongi syarat lengkat itu, selebihnya tidak, bahkan tidak sama sekali.

Selain berurusan dengan api, mereka juga tangkas ‘bertugas’ dalam berbagai operasi penyelamatan. Sebut saja pencarian korban tenggelam, kecelakaan lalu lintas, evakuasi bencana alam seperti banjir dan tanah longsor, bahkan evakuasi binatang berbahaya seperti ular berbisa yang nyasar nyelonong ke dalam rumah warga. Dimensi bakti sosial mereka benar-benar komplet dan luar biasa.

Meski tumbuh secara swadaya, jangan dikira mereka tidak profesional. mereka semua mempunyai organisasi internal yang terstruktur jelas. Dalam organisasi mereka setidak-tidaknya ada ketua/penanggung jawab, bendahara dan anggota. Untuk kelancaran komunikasi, setiap pos armada dilengkapi pesawat HT, menggunakan frekuensi jaringan Organisasi Radio Amatir Indonesia (Orari) dan Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI).

Jaringan media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram dimanfaatkan untuk kelancaran tugas. Mereka berkomunikasi via smartphone seperti, BBM, Messenger, WA, Line dengan cara membentuk grup. Konsolidasi dan silaturahmi digalang melalui tatap muka seluruh punggawa damkar di Kota Banjarmasin, bahkan Kalsel. Penyelenggaranya bisa pemerintah bisa juga kalangan mereka sendiri.

Setiap hari Ahad, mereka berjejer rapi di siring Sungai Martapura. Pahlawan kemanusiaan itu biasanya berbaris di sepanjang jalan Jenderal Sudirman dan Jalan Piere Tendean (tepian sungai). Di situ mereka mengontrol kelayakan sekaligus uji kemapuan alat-alat pemadam kebakaran. Semprotan air ke arah tengah sungai Martapura oleh puluhan bahkan ratusan barisan damkar menghasilkan pemandangan menakjubkan. Lokasi ini bahkan berpotensi besar menjadi destinasi wisata murah terbaru di Banjarmasin.

Atraksi meriah berlangsung Minggu, 15 Nopember 2015 lalu, di Lapangan Kayutangi, Banjarmasin. Ribuan anggota barisan penumpas api Kota Banjarmasin berkumpul dalam rangka “Wali Kota Cup”. Wahana ini menjadi ajang silaturahmi dan lomba. Ketangkasan & kepiawaian barisan damkar diadu untuk memperebutkan piala bergilir Walikota Banjarmasin. Hadiahnya hanya uang Rp20 juta dan peralatan perlengkapan pemadam kebakaran.●(dd)

Share This: