Dalam Kondisi Sulit, Bidan dari Kediri Ini Malah Jadi Pengusaha

Anna N Anggraini-Foto: Humas Pemkot Kediri.

KEDIRI—Menemukan jalan keluar dari kondisi kehidupan yang terjepit, sudah banyak dialami para pengusaha.  Di antaranya Anna N Anggraini, seorang wara kota Kediri. Awalnya jadi pengusaha bermula ketika pada 2009 orangtuanya bangkrut, padahal dia butuh uang untuk biaya sekolah bidannya.

Mulanya ia hanya menjadi  reseller boneka flanel milik temannya. Keuletannya membuat dia mendapatkan banyak pesanan hingga stok habis.

Hal ini mendorong Anna termotivasi membuat sendiri dengan otodidak, mencontoh produ yang sudah ada. Kemudian dia mengembangan polanya. Akhirnya Anna berhasil membuat satu paket boneka flanel yang dijual dengan harga Rp60-70 ribu.

Anna menjalankan bisnis boneka itu dijalaninya hingga menamatkan sekolah bidan dan dilanjutkan bekerja di rumah sakit hingga sekitar 2012.

Pada saat bekerja di rumah sakit, penghasilannya masih pas-pasan. Kecintaannya pada kerajinan menjadikan ia pun ikut pelatihan yang digelar Dinas Koperasi, Kota Kediri untuk membuat perhiasan berbahan kawat tembaga.Dia juga belajar pada perajin senio, hingga akhirnya, mampu membuat perhiasan sendiri.

Produk perhiasan yang harganya ratusan ribu rupiah. Dengan merek AG Handycraft, Anna memproduksi kalung, gelang, dan anting berbahan batu alam yang dililit dengan kawat tembaga warna-warni. Juga berbahan biji genitri yang diminati hingga India.

Kalau untuk kalung batu alam, saya jual mulai harga Rp400.000 – Rp800.000. Tergantung bahannya. Kalau genitri per biji. Tergantung belah semangkanya,” ujar Anna, Selasa (28/7/20).

Menurut dia, belah semangka yang dimaksud adalah garis belah pada biji genitri. Ada yang garis 8 dihargai Rp20.000 – Rp30.000 per biji. Semakin banyak garisnya, semakin mahal karena semakin langka.

Bahkan pada masa pandemi Covid-19 pun Anna masih bisa mempekerjakan 13 ibu rumah tangga di lingkungan rumahnya, kawasan Ngronggo.  Pasalnya, Anna juga banyak menerima pesanan pembuatan busana dan masker. Ia sudah melatih ibu rumah tangga untuk menjadi penjahit.

“Saya mengejaran para ibu-ibu dari awal. Mereka rata-rata punya mesin jahit tapi tidak bisa menjahit,” ungkap Anna.

Dengan memberdayakan ibu rumah tangga sekitarnya, ratusan lembar pesanan busana tetap mengalir meski pandemi. Anna menjadi salah satu pelaku UMKM menjadi binaan Disperindagin yang kerap diajak pameran dan pelatihan.

Share This:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *