Condet, Cagar Budaya yang Tergerus

 Pohon rindang. Salak. Dukuh. Melinjo. Duren. Semua identitas eksotis kawasan Condet nan sejuk di masa lalu itu sirna sudah. Kini tinggal cerita. Yang kini tersisa dari sepenggal daerah cantik Jakarta masa lalu itu, lingkungannya yang lebih hijau.

condet

Salah satu kawasan perkampungan tua masyarakat Betawi bernama Condet. Sungai Ciliwung mengalir di tengahnya, membelah wilayah ini menjadi dua bagian. Satu di wilayah Jakarta Selatan dan yang lainnya di Jakarta Timur. Di sana sini di daerah sejuk itu tumbuh berbagai jenis pepohonan. Sebut saja pohon salak, duku, duren, melinjo dan pohon lainnya. Tapi, itu cerita 40-50 tahun silam.

“Dulu, sepanjang jalan Condet itu rindang karena banyak pohon di pinggir jalan,” kata seorang warga yang tahu persis masa jaya salak Condet. Konon, manisnya dukuh Condet tidak kalah dengan salak Pondoh. Cita rasa duku yang dihasilkan daerah itu pun dapat disejajarkan dengan dukuh Palembang.

Perkembangan populasi dan perjalanan sejarah mengubah segalanya.Tidak hanya alamnya yang berubah, tetapi juga para penghuni dan budayanya. Penduduk Condet pun sekarang lebih beragam. Condet tak lagi menjadi domain komunitas Betawi. Suku Jawa, Sunda, Madura, Batak, Aceh dan bahkan etnis Arab kini cukup banyak jadi penghuni wilayah ini.

Pada tahun 1964, pemerintah merencanakan pembangunan kompleks militer Cakrabirawa di sana. Bregitu juga dengan rencana pembangunan Universitas Bung Karno.Tetapi rencana ini ditentang oleh masyarakat Condet. Kultur daerah Condet sangat berbeda dengan daerah-daerah lain di Jakarta.Keadaan inimenyebabkan masyarakat sangat selektif menerima segala macam interpensi budaya dan adat istiadat.

Guna melindungi kultur budaya masyarakat tersebut, pemerintah menetapkan  kawasan Condet sebagai kawasan yang dilindungi (Cagar Budaya Buah-buahan). Wilayah yang dimaksudkan terdiri dari Kelurahan Belekambang, Batu Ampar dan Kampung Tengah. Ketetapan ini dikukuhkan melalui Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta (Letjen TNI Marinir Ali Sadikin) tanggal 18 Desember 1975 Nomor D.I. 7903/a/30/1975 .

Hampir setahun berselang, pada tanggal 20 Oktober 1976, Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta kembali menginstruksikan kepada Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) untuk menyusun rencana pola kebijaksanaan pemerintah DKI dan tata kerja proyek Cagar Budaya Condet dengan instruksi No.D.IV-99/d/11/76.

Cagar Budaya Gagal

Menurut data perubahan fungsi lahan dikawasan Condet selama periode itu sebesar 217,8 ha atau dari 135,3 ha (1976) menjadi 353,1 ha (1986).Pada tanggal 1 Januari 1986, Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta kembali mengeluarkan instruksi nomor 19 tahun 1986 yang berisi tiga pokok:

  1. Dilarang memberikan izin/legalisasi setiap mutasi (jual/beli) pemilikan tanah di kawasan Condet; 2. Dilarang mengadakan perubahan tataguna tanah sesuai dengan peruntukan yang akan ditetapkan kemudian, termasuk menebang/memusnahkan tanaman salak, duku dan melinjo; 3. Dilarang memberikan izin dan atau membangun bangunan baru mulai dari pembangunan pondasi dan seterusnya di kawasan Condet. Pernyataan ini berlaku mulai tanggal 1 Januari 1986 sampai selesainya penyusunan konsepsi pembangunan di wilayah Condet atau dikenal dengan istilah “status quo” yang sangat kontroversial terhadap pembangunan di kawasan Condet.

Selanjutnya, pada tanggal 3 Agustus 1986 kembali pemerintah mengeluarkan instruksi pencabutan status quo pembangunan Condet dengan instruksi nomor 227 tahun 1986 yang pada intinya memberikan kelonggaran terhadap  pembangunan di kawasan Condet. Saat itu yang menjadi Gubernur KDKI adalah R. Soeprapto.

Share This:

You may also like...