Cipto Subroto, Kisah Ronggeng dan Cengkir Dosen Wirausaha

Cipto Subroto dalam sebuah kegiatan LPDB-Foto: Dokumentasi Pribadi. Facebook.

PURWOKERTO-—Staf pengajar Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Jenderal Soedirman Cipto Subroto mengaku punya “dosa” menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Pasalnya dengan persiangan ketat, dia merasa sudah menyisihkan banyak orang yang menginginkan posisi tersebut.

Untuk menebusnya Cipto ingin menciptakan lapangan kerja minimal untuk satu orang, sekaligus ingin berbakti kepada orangtua, keluarga dan masyarakat luas.  Kebetulan Cipto punya bakat yang menurun dari keluarganya.

Sebelum masuk Universitas Soedirman pada 2003, Cipto pelaku seniman tradisional calung banyumasan, yang lebih terkenal dengan sebutan ronggeng atau lenger sejak 1984 menjadi penari.  Budaya ini mengingatkan pada buku karangan Ahmad tohari berjudul “Ronggeng Dukuh Paruk”

Pria kelahiran Banyumas 31 Maret 1979 ini datang dari keluarga seniman, Kakeknya pemain gendang, Ayahnya pemain gong bambu. Menjadi penari memberikannya kesempatan mengentam bangku kuliah dan membantu ketiga kakaknya bersekolah sampai SMP.

“ Saya mengemen diundang orang hajatan di rumah-rumah pada 1984-1988,” ujar alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsoed ini  kepada Peluang, Sabtu (27/10/19).

Setelah krisis ekonomi suasana keamanan kurang kondusif,  sehingga tanggapan kami menurun drastis dan saya banting setir menjadi Cucuk lampah dan MC Wedding tradisional yang lebih dikenal Pranotocoro.

“Dari situ saya merasa kasihan kepada sohibul hajat yang kadang acaranya tidak lancar karena panitia yang menangani belum berpengalaman, sehingga saya tergerak untuk mendirikan usaha Weddding Organizer (WO) dalam rangka ikut memberikan solusi bagi masyarakat yang hendak menyelenggarakan hajatan tapi jauh dari sanak saudara serta belum berpengalaman,”  papar peraih Magister Manajemen Pendidikan Tinggi dari UGM ini.

Dia kemudian mendirikan CV Cengkir Gading pada 2009 melalui akta notaries no 160 tanggal 14 september 2009. Usahanya menawarkan jasa WO yang berbeda dengan yang lain karena kamenggunakan prinsip Risk Management dalam SOP penanganan event.

“Semua risiko event sudah kita mitigasi, tujuannya adalah kesuksesan event tersebut, pola konsultan kami juga melekat, sangat fleksible dan tidak kaku, sehingga klien nyaman untuk berkomunikasi. Selain itu SDM kami juga sudah berpengalaman 10 tahun menangani event,” ungkap Doktor Manajemen Pendidikandari Universitas Negeri Yogyakarta.

Lanjut dia, sejak berapa tahun yang lalu Cengkir Gading mampu mengembangkan target pasar baru dengan mengelola event non wedding, mulai dari reuni, gathering, Expo. .Setiap bulan  Cengkir Gading mampu menangani 4 klien

Cipto mengajar mata kuliah Kewirausahaan, Manajemen Sumber Daya Manusia dan Micro Teaching, Selain di Unsoed dia juga mengajar di Universitas Terbuka baik Tutorial On line maupun tatap muka,.

“Di UT mata kuliah yang saya ampu adalah, Komunikasi binsis, Manajemen Kinerja,Pengantar Bisnis, Analisis kasus Bisnis, Studi kelayakan Bisnis, Teori Portofolio dan Analisis Investasi, dan Manajemen Pemasaran,” tutup dia (Irvan Sjafari)

Share This:

You may also like...