Cina Lebih Menakutkan

Meski ekonomi diprediksi akan tumbuh lebih baik dibanding 2016, namun dibayangi risiko eksternal. Ancaman terbesar datang dari risiko perlambatan ekonomi Cina.

as-vs-china

 

Di tengah risiko ketidakpastian global, pemerintah mematok target pertumbuhan ekonomi 2017 sebesar 5,1 persen. Sumber ketidakpastian berasal dari rencana kenaikan suku bunga The Fed, ekonomi Jepang, dan perlambatan Cina.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro dalam pemaparan Outlook Perekonomian Indonesia 2017, pada 8 Desember 2016  di Jakarta, mengatakan Cina berencana mengetatkan kebijakan ekonomi untuk menghadapi risiko peningkatan utang.  Pengetatan dilakukan dengan mengalihkan basis pertumbuhan dari investasi ke konsumsi. “Dampak kebijakan Cina lebih besar efeknya bagi kita dibanding kebijakan ekstrem presiden terpilih AS, Donald Trump,” ujar Menteri Bambang.

Cina sedang berjibaku menghadapi risiko utang, baik utang pemerintah maupun swasta. Bila ekonomi Cina mengalami perlambatan, pertumbuhan ekonomi Indonesia bakal terpengaruh sebesar -0,72 persen dari baseline.  Hal ini tidak lepas dari besarnya nilai ekspor ke Negeri Tirai Bambu itu. Sementara, perlambatan ekonomi Amerika Serikat hanya akan berpengaruh sebesar -0,4 persen terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Pengaruh dari Amerika Serikat, berasal dari janji kampanye Trump, di antaranya berupa penerapan amnesti pajak dan memotong anggaran untuk kebijakan populis. Trump juga berencana menerapkan proteksi perdagangan dengan mengenakan tarif 34-45 untuk perdagangan dengan Cina dan Meksiko.

Hal senada diungkap peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Abra PG Talattov. Ia mengatakan, pada tahun depan ekonomi Indonesia masih akan dihadapkan pada banyak tantangan, terutama perlambatan ekonomi Cina. “Prediksinya ekonomi Cina akan turun menjadi 6,2 persen-6,5 persen. Pertumbuhan kita sangat bergantung kinerja ekonomi mereka karena ekspor kita cukup besar,” kata Abra.

Dalam hitungannya, perekonomian Indonesia masih tergantung global dimana tingkat ketergantungan terbesar ke Cina sebesar 0,11 persen. Artinya 1 persen pertumbuhan ekonomi Tiongkok, berpengaruh 0,11 persen kepada Indonesia. Jadi maju tidaknya ekonomi Indonesia tergantung Tiongkok, terus Jepang, ASEAN, dan Eropa. (drajat).

Share This:

You may also like...