Che

Mereka, para pejuang revolusioner Kuba itu, memanggilnya Che. Sebuah sapaan akrab khas Argentina yang menjalar di belahan Amerika Latin. Wajahnya yang khas, jenggot dan kumis lebat dengan topi baret di kepalanya terpampang abadi di gedung pemerintahan Kuba. Lebih dari empat dasa warsa wajah itu berdiri di sana. Perjalanan waktu seolah tak hendak menggerus wajah Ernesto ‘Che’ Guevara de la serna.

Ketika tentara Bolivia mengakhiri hidupnya di bulan Nopember 1967, orang-orang ‘kiri’ di seantero dunia turun ke jalan dan menangisi dokter yang memilih berhenti praktek demi revolusi itu. Simbol perlawanan itu telah tiada, tapi wajah Che muncul di mana-mana. Di kaos oblong, di gantungan kunci, di sebuah pub hiburan malam dan di dinding kamar seorang aktivis mahasiswa. Ia menjadi icon kegelisahan kaum muda atas ketidakadilan.

Dan di Havana, Che adalah sebuah cita-cita. Setiap Jumat pagi, anak-anak sekolah dasar di kota itu, dikumpulkan oleh gurunya di aula sekolah. Mereka berbaris rapi menyanyikan lagu kebangsaan dan memberi hormat kepada bendera negara. Setelah itu mereka berikrar, “….Kami akan seperti Che,”

Ada rasa bangga tentang Che di sana. Tentang seorang asing yang datang untuk membebaskan penindasan dan bersumpah tidak akan berhenti sebelum gurita kapitalisme itu hancur. Che di Kuba adalah simbol bagi kejujuran, keberanian dan internasionalisme.

Simbol itu juga menjalar ke negeri ini. Sosok Che bukan mahluk asing bagi pergulatan kaum muda kita. Setelah Bung Karno, mungkin sulit menyebut tokoh sejarah masa lalu yang mampu menjadi bingkai motivasi kaum muda kita. Yang muncul justru wajah penyanyi Iwan Fals yang akrab menyuarakan kebobrokan penguasa.

Dalam rentang satu dasa warsa sejak reformasi bergulir, adakah kita makin bangga dengan negeri ini?   Ah, pertanyaan ini terasa menyesakkan dada. Begitu sulit untuk menyebut sebuah rasa bangga di jaman ketika kursi parlemen bisa dibeli dengan sepotong kaos kampanye dan goyang penyanyi dangdut. Ketika hukum dan perundang-undangan condong pada pemilik uang. Dan ketika ribuan tenaga kerja kita di luar negeri diperas tanpa upah dan diperkosa tanpa protes. Kita tega menyebut mereka dengan ‘komoditas ekspor’ yang nyatanya memang mampu menyumbang devisa hampir Rp 100 triliun per tahun.

Tetapi bukankah nasionalisme itu dimulai dari sikap bangga dalam berbangsa? Jika orang menjadi apatis dengan negerinya yang mengalami salah urus (mis-management), apakah kemudian Ia menjadi a-nasionalis?

Pengusaha Jepang, Akio Morita, untuk sementara waktu terpaksa memendam kebanggaan terhadap negerinya ketika membangun Sony Corporation. Selain nama Sony yang ke barat-baratan, dan kurang lazim kala itu, bandingkan misalnya dengan Toshiba (Tokyo Shibaura Eelctronic Company), Morita juga menyembunyikan alias menulis sekecil mungkin lebel Made in Japan dalam produk Sony.

Di tahun 50-an itu, produk Jepang identik dengan mutu rendah.

Di Eropa, Jepang hanya dikenal sebagai negeri yang memproduksi payung-payungan mini dari kertas. Masalahnya, bagi Morita, bukan soal a-nasionalisme itu. Ia hanya ingin pasar tidak menghakimi produk Jepang lebih dini sebelum menguji mutunya.

Toh pada lain kesempatan Ia pun membuktikan dirinya sebagai orang yang bangga dengan negerinya.

Ketika Ia membuat radio transistor mini pada 1955 dengan harga jual US$30, sebuah perusahaan ternama di AS, Bulova, berniat membeli 100.000 unit. Jumlah pembelian yang nilainya luar biasa untuk sebuah perusahaan belum ternama.

Tetapi Morita menapik tawaran itu lantaran Bulova meminta transistor mini itu harus diberi merk Bulova. Keputusan melepas peluang pasar itu disesalkan oleh rekan-rekan Morita. Tetapi, toh Ia benar. Kalau saja waktu itu Ia mau menjual produknya dengan merk orang lain, barangkali hingga kini kita tidak mengenal Sony Corporation.

Dari sebuah negeri yang mengisolasi diri dari pengaruh asing di masa pemerintahan Shogun abad ke 17, Jepang kini muncul sebagai super power ekonomi Asia. Berbagai produk teknologi canggih Jepang menerobos berbagai negara. Mereka memulai sukses itu lewat kerja keras dan rasa bangga terhadap identitas kebangsaannya. Seperti halnya anak-anak sekolah dasar di Havana, yang bangga menjelma jadi Che. Rasa bangga itu tertanam sejak mereka mulai berangkat besar.

Di industri sepatu rakyat Cibaduyut, Bandung, kerajinan kulit Tanggulangin, Sidoarjo, atau usaha tas kulit Tajur di Bogor, yang gemar membuat produki berlebel asing, suatu hari nanti mungkin kita bisa bertemu dengan Akio Morita yang lain, yang tidak sudi menjual merk produksinya untuk bangsa lain. Mungkin.

(Irsyad Muchtar)

Share This:

You may also like...