Celaket, Ikon Batik Malangan

Ia sempat patah semangat. Perhatian pemerintah terhadap  pengembangan budaya batik Celaket amat rendah. Demi menjaga warisan budaya leluhur itu, Hanan Djalil bangkit. Kini, btik khas Malang  ini menyebar ke mancanegara.

hanan-jalil

Bicara batik  selama ini seakan identik dengan tiga nama kota kondang: Solo, Yogyakarta, dan Pekalongan. Bagusnya, beberapa daerah lain mulai unjuk gigi memperkaya khazanah perbatikan Tanah Air. Misalnya, batik gentong Madura dan batik trusmi Cirebon. Di Malang, muncul batik tulis celaket dengan corak berani bahkan nekat. Penggagasnya Hanan Djalil (51). Nama celaket diambil dari nama Kelurahan Celaket, Kecamatan Lowokwaru.

Rumah Batik Celaket dia rintis  tahun 1997. Modalnya Rp15 juta, pesangonnya setelah mundur sebagai karyawan. Bertahan empat tahun, usaha ini bangkrut. Hanan mati-matian melestarikan tradisi yang hampir punah itu. Naasnya, pemihakan Pemda terhadap usaha tradisional ini teramat minim. Hanya karena tekad besar dan semangat juang Hanan yang pantang menyerah, batik cekalet bertahan. Kini, batik celaket bahkan menjadi ikon Kota Malang.

Ciri khas batik ini adalah kepala singa sebagai motif yang menonjol. Maklum, Malang dikenal pecinta  sepakbola fanatik. Arek Malang punya Arema sebagai klub kebanggaan yang dijuluki Singo Edan. Maka, jika Anda menyaksikan batik dengan paduan motif nama-nama klub-klub kondang sepakbola di  Eropa,  itulah  ide orisinal Hanan.

Motif batik celaket yang dikembangkan Hanan cepat meluas karena karakter umum orang Malang yang egaliter, sangat terbuka terhadap siapa saja. “Motif batik kami itu beragam sesuai keinginan dan selera. Warna pun tidak berpatokan pada warna-warna tertentu. Yang jelas, batik celaket menggunakan warna-warna cerah,” tutur Abah Hanan, panggilan akrabnya.

“Saya mengawali (bisnis ini) tidak ada karyawan. Hanya ada dua orang membantu membatik, saya dan istri memasarkan. Sekarang karyawan banyak dan outlet juga sudah di mana-mana.” Ayah seorang putra ini memberi kebebasan kepada para perajin batik celaket untuk berkreasi. “Apa pun kreasi mereka (motif dan corak), pasti saya terima. Ukuran baik buruknya hanyalah apakah kreasi itu diterima oleh pasar,”

Lebih jauh suami Ira Hartanti ini bahkan gigih menyosialisasikan batik celaket. Ia mengundang para mahasiswa asing untuk belajar membatik di sanggarnya, lalu tamu-tamu hotel. Mereka diarahkan untuk membuat motif batik sesuai selera lalu menjahitnya. Kegiatan membatik secara gratis itu  berpengaruh positif terhadap peningkatan  ekonomi. Hotel untung karena tamu jadi menambah waktu menginap. Para penjual makanan atau warung-warung lain pun kecipratan rezeki berkat peningkatan omzet.

Nah, jika Anda sempat mampir ke Kota Malang, jangan lupa singgah di Rumah Batik Celaket. Lokasinya di Jalan Jaksa Agung Suprapto. Harga batik ‘purba’ yang dihidupkan kembali Hanan Djalil relatif terjangkau, Rp300 ribu hingga Rp1 juta.●(dd)

Share This:

You may also like...