BUKU

Buku KBI

Sebuah buku bisa ditulis (dan jadi) kapan saja. Dia bisa mengeksplorasi satu dari beragam pilihan tema. Dia bisa bicara surut ratusan bahkan ribuan tahun kebelakang. Atau berkelindan dalam kontemporeritas. Atau merambah nun jauh ke dimensi masa depan. Dia mungkin bicara tentang hal yang menarik dan penting. Mungkin pula tentang hal remeh temeh dan chit chat. Dia boleh jadi antologi, boleh jadi komparasi. Kehadiran sebuah buku senantiasa punya makna dalam pengayaan khazanah literer.

Sebuah buku diluncurkan 12 November lalu. Penulisnya Irsyad Muchtar, Pemimpin Umum majalah ini. Judulnya 100 Koperasi Besar Indonesia 2015. Semacam kocok ulang dan pemutakhiran materi atas judul yang sama, yang memasar pada tahun 2012. Angka 100 itu memang trade mark. Sebab, sesungguhnya, dalam buku dwibahasa (Indonesia dan Inggris) terbitan PT Berkah Dua Visi setebal 251 halaman ini tersaji 300 koperasi Indonesia papan atas hasil seleksi lewat kritera ketat.

Tentunya cukup lazim sosialisasi dan penetrasi sebuah buku dikemas satu paket dengan acara bedah buku. Kami menyemarakkannya dengan seminar perkoperasian yang dikelola Forwakop, Forum Wartawan Koperasi. Bahwa buku ini diluncurkan di Auditoriom Kementerian Koperasi dan UKM, Jl. Rasuna Said, Jakarta Pusat, tentulah merupakan credit
point tersendiri. Nilai tambah itu terasa makin membanggakan karena seremoni ‘gunting pita’ buku ini dilakukan oleh Menteri Koperasi dan UKM, Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga

Pada bagian Kata Pengantar, Menteri AAGN Puspayoga antara lain menulis, “Di tengah langkanya penerbtan buku mengenai perkoperasian di Tanah Air, kehadiran buku 100 Koperasi Besar Indonesia 2015 ini merupakan oase yang memang sangat ditunggu-tunggu masyarakat koperasi. Selain merupakan referensi berharga, buku ini juga membuka cakrawala bagi pelaku ekonomi lainnya, yaitu BUMN dan swasta, bahwa koperasi Indonesia sudah siap bersaing di kancah ekonomi global.”

Begitulah, sebagaimana dihajatkan penulisnya, buku ini hadir antara lain untuk menjawab keraguan banyak pihak tentang ketidakberdayaan koperasi yang jumlahnya 209.483 per Desember 2014, yang 62.234 di antaranya ditengarai tidak aktif alias tinggal papan nama. Tiga ratus koperasi terseleksi (100 pemuncak, 100 progresif, 100 potensial) yang hadir dalam buku ini merefleksikan kegigihan, integritas dan penerapan manajemen modern di kalangan entitas bisnis koperasi yang didambakan Bung Hatta menjadi soko guru ekonomi di negeri khatulistiwa ini.

Share This: