Budiono, Pejuang Pangan di Kota Sorong

Budiono-Foto; Dokumen Pertamina

SORONG-–Awalnya Budiono, hanya membuka toko sembako di Kota Sorong.  Namun hatinya tersentuh, ketika merasakan bahwa warga kota mempunyai kebutuhan pangan yang tinggi.

Pada 1999, Budiono mendirikan usaha Abimanyu, merupakan usaha yang bergerak dibidang peternakan dan perikanan mulai dari hulu hingga hilir.

”Saya melakukan mulai dari pembenihan, pembesaran, pengolahan, pemasaran hingga menjual produk jadi melalui usaha Rumah Makan,” ungkap dia dalam keterangan tertulis yang dirlis Pertamina, Kamis (19/11/20).

Budiono sendiri mulai menggeluti usaha tersebut sekitar 1999. Awalnya, ia hanya membuka toko sembako. Namun, karena kebutuhan pangan di Kabupaten Sorong yang tinggi, mendatangkan peluang usaha lain bagi Budiono.

“Akhirnya mulai  2006 usaha perikanan dan baru 2019 mengembangkan sayap di bidang peternakan,” jelasnya.

Budiono menyatakan, potensi usahanya di bidang pangan masih bisa dimaksimalkan.  Dia mempunyai cita-cita memenuhi kebutuhan pangan daerah saya, sehingga tidak perlu ambil dari luar.

Upaya Budiono dalam menjaga kualitas produk miliknya sangat diperhatikan. Sebab, kini jangkauan pemasaran produk hasil perikanannya pun makin meluas. Selain menyuplai warung makanan dan pasar tradisional, dirinya juga sudah memasukkan produknya ke beberapa swalayan besar di Kota dan Kabupaten Sorong.

“Ukuran hasil ikan air tawar kami telah memenuhi standarisasi untuk didistribusikan ke swalayan,” imbuh pria kelahiran Banyuwangi, Jawa Timur tersebut.

Kini, selain usaha perikanan, Budiono juga mulai merintis usaha dibidang peternakan. Diantaranya peternakan bebek, ayam, kambing, dan sapi. Seluruhnya digarap dengan memanfaatkan fasilitas lahan yang disediakan pemerintah untuk para transmigran tersebut. Dengan upaya tersebut, dirinya pun dapat memberdayakan warga lokal sekitar untuk membantu bisnisnya.

Saat ini, terdapat sekitar 10 orang pekerja yang membantu dalam mengolah seluruh bidang usaha yang berada di Kelurahan Jamaimo, Distrik Mariat, Kabupaten Sorong ini. Namun dibalik itu, juga masih ada beberapa suplier kecil yang secara langsung ikut diberdayakan.

“Kebutuhan akan ikan di Sorong mencapai 15 ton hingga 30 ton, namun saya baru bisa suplai 5 ton. Kekurangannya saya ambil dari para suplier ini,” jelasnya.

Dengan jerih payahnya tersebut, Budiono mampu mengantongi omzet perbulan sebesar Rp50 juta. Untuk pemasaran sendiri, Budiono baru dapat memanfaatkan jaringan lokal saja. Di bawah binaan Pertamina, dirinya berharap dapat mengembangkan jaringan pemasarannya tersebut.

“Menjadi binaan Pertamina, saya ingin meningkatkan volume produksi dan memenuhi kebutuhan pangan lokal di wilayah timur Indonesia ini,” pungkas dia.

Share This:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *