Budi Daya Kelinci, dari Cinta dan Hobi Jadi Bisnis

Ilustrasi-Foto: koleksi Rizky Halim.

JAKARTA—-Rizky Halim sudah jatuh hati pada kelinci sewaktu duduk di bangku kelas IV SD di Pekalongan.  Dia memelihara kelinci dengan tekun dan telaten.  Dari hobi, Rizky kemudian menjadikannya sebagai bisnis, ketika dia sudah berada di Jakarta.

Sejak tujuh tahun yang lalu budi daya kelinci yang dijalankannya mendapat sambutan pasar, karena memang di ibu kota tidak terlalu banyak yang serius di bisnis kelinci hias.  Sebelum pandemi  warga Pesanggrahan, Jakarta Selatan ini mampu meraup omzet berkisar Rp50-60 juta.

Sayangnya, peternakn terimbas pandemi. Orang yang jadi takut untuk datang ke peternakannya. Omzetnya turun sekira 50%.  Untungnya hasil penjualannya masih mampu menutupi biaya operasionalnya. Dia mengaku sudah terlanjur jatuh hati dan cinta pada kelinci.

“Saya juga tertolong ekspor, ke Qatar dan dua kali ke Philipina masing-masing 40 ekor, 50 ekor dan 50 ekor,” ujar Rizky kepada Peluang, Kamis (17/9/20).

Bisnis Sambilan

Umumnya peternak kelinci berasal dari hobi yang dijalani sejak kecil. Rizky tidak sendirian.  Muhamad Yusuf warga Ciracas, Jakarta Timur, sejak duduk di bangku kelas V SD, memelihara kelinci untuk hobi. Untuk mencari bibit, dia pergi ke Pasar Jatinegara. 

Lambat laun kelincinya berkembang biak dan mulai banyak, orang yang datang ke rumahnya untuk membeli kelinci untuk hobi dipelihara.

Namun Yusuf baru serius terjun ke bisnis kelinci sekitar 2010 dengan brand Adon Rabbit  sebagai bisnis sambilan. Adon diambil dari nama anaknya untuk memudahkan. Hanya saja Yusuf baru menjalani bisnis ini sambilan.

Setiap akhir pekan dia menjual kelincinya dengan harga Rp25 ribu hingga Rp50 ribu per ekor untuk indukan.  Untuk jenis indukan yang bagus, yang belang seperti panda (dutch) laku Rp100  ribu per ekor.

“Sebelum pandemi saya bisa meraup omzet Rp1 juta per minggu. Namun setelah omzet merosot sampai Rp400 ribu. Apalagi ketika pasar ditutup, hingga saya jualan dengan media sosial,”ujar pria  kelahiran 1977.

Selain itu Yusuf juga menjual kelinci untuk pedagang sate kelinci dengan harga Rp28 ribu per kilogram. Biasanya satu kelinci menghaislkan dua kilogram daging. Itu sudah bersih tanpa kepala dan hanya daging saja.

“Penjualan daging kelinci lumayan 4 kilogram per minggu menambah omzet,” imbuh dia.

Yusuf dan kelincinya-foto: dok Pribadi.

Ke depan Yusuf berencana ikut program Jakpreneur untuk menambah modal.   Ke depan Yusuf memang fokus bikin kandang yang bagus agar orang bisa melihat sendiri kualitas kelincinya.

“Saya juga punya rencana membangun kios kecil di depan rumah dan showroom kelinci plus perlengkapannya,” pungkasnya seraya mengatakan, butuh pendampingan untuk pemasaran (van).

Share This:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *