Budi Darmawan, Batik Perlu Indikasi Geografis

Budi Darmawan (kiri) bersama salah seorang perjain batik di Rumah Batik Palbatu-Foto: Irvan Sjafari.

JAKARTA-—Batik itu tidak kuno. Batik itu motifnya tidak harus selalu terpaku pada motif tradisional nitik, parang, kawung (seperti batik Yogya) atau mega mendung (batik Cirebon).

Batik itu bisa dibuat kreasinya dengan motif kekinian, tetapi yang penting caranya harus sesuai pakem, seperti dikerjakan dengan tangan, menggunakan malam cair, canting, bukan dengan printing.

Cara mengerjakan ini yang membuat batik  warisan budaya dunia yang diakui UNESCO dan membuat Malaysia tidak mengklaim sebagai miliknya. Citra batik identik dengan orangtua harus diubah, karena batik juga bisa dijalankan generasi milenial.

Demikian antara lain diungkapkan, aktivis batik dari Rumah Batik Palbatu Budi Darmawan, ketika ditemui Peluang di  sanggarnya di kawasan Palbatu IV, Menteng Dalam, Jakarta Selatan, Kamis (30/1/20).

“Saya mencontohkan, batik motif Jakarta yang dibuat kami, motif kembang api, ondel-ondel hingga topeng betawi tidak harus menuruti pakem yang ditetapkan Bamus Betawi, apalagi dicopypaste dari Google, bisa dibuat fleksibel,” tutur pria kelahiran 8 Februari 1964 ini.

Alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia mengkritisi  euforia batik yang malah bias dan menggeser makna batik sesungguhnya. Pada perayaan hari Batik 2 Oktober atau memakai batik tiap Jumat (nasional) dan Kamis (DKI Jakarta),  masyarakat memakai batik tetapi printing, bukan yang dibuat dengan tangan.

Selain itu Budi juga menyorot masih diabaikannya Indikasi Geografis (IG) Batik.  Dia mencontohkan IG Kopi Gayo bahwa itu kopi yang ditanam di Gayo. Di Batik baru Batik Nitik  yang sudah punya IG-nya, yaitu Indikasi Geografis DI Yogyakarta. Padahal IG itu terkait dengan Hak Kekayaan Intelektual.

“Waktu pertemuan di Bandung, berapa waktu lalu, malah ada yang mengira IG itu adalah Instagram dan batik dipromosikan dengan instagram. Padahal maksudnya bukan itu,” ujar pria yang juga mendirikan Kampung Batik Kembang Mayang ini.

Salah satu motif Rumah Batik Palbatu-Foto: Irvan Sjafari.

Selain itu industri batik Indonesia juga terkait bahan impor, hingga sulit untuk bisa mandiri dari hulu ke hilir.  Batik masih perlu dukungan regulasi.

“Kini yang kami lakukan di Rumah Batik Palbatu adalah edukasi, sekaligus memberdayakan kerajinan. Pada 2020 ini kami menargetkan bisa membuat 1.000 helai batik,” pungkas Budi (Irvan Sjafari).

Share This:

You may also like...