Bolen Depok Nursa’adah Menawarkan Cita Rasa Berbeda

Nur sa’adah dan bolennya-foto: dokumentasi pribadi Facebook.

DEPOK—Sejak remaja Nur Sa’adah (26 tahun) menyukai kue bolen.  Sayangnya di tempat tinggalnya di Kota Depok, jarang ditemukan.  Ketika ada pun dibeli, rasanya kurang memuasakan. Akhirnya terpikir di benaknya untuk usaha membuat bolen.

Pada 2016 dengan modal satu juta rupiah, Nur Sa’adah akhirnya memulai usaha membuat bolen rumahan.  Berbekal media sosial dan internet Ibu Nur kemudian mempelajari cara membuat bolen kesukaannya. Grup masak memasak banyak diikuti demi bisa membuat kue kesukaan, bolen pisang.

Ketika  menuai hasil, keluarga dan teman teman adalah target konsumen setia bolen buatan Bu Nur. Kemudian  pembuatan berdasarkan pesanan, yang dia pasarkan melalui media sosial.  Usahanya masih terbilang kecil, setiap hari paling banyak dia mendapat pesanan 10 boks. Setiap boks dijual Rp55 ribu.

“Sekalipun dari varian rasa tidak berbeda dengan bolen produk rumahan lain, tetapi saya tetap menawarkan cita rasa berbeda. Saya menawarkan boleh isi pisang, pisang coklat keju dan bolen tanpa pisang isinya keju,” papar dia pada Peluang, Kamis (4/10/2018), seraya menyebutkan bahwa bolen pisang yang paling digemari.

Kini pembeli  produk Bolen Depok ada yang datang cukup jauh dari Kota Depok, di antaranya dari Kalimantan.  Produk Bolen Depok tahan empat hari di suhu ruangan sehingga pengirimannya harus cepat. Namun boleh bisa tahan satu minggu di kulkas.

Produk Bolen depok-Foto: Dokumentasi Pribadi.

“Saya juga ikut bazaar berapa kali, di antara yang diselenggarakan di kantor Wali Kota Depok,” tutupnya (Irvan Sjafari).

Share This: