Bisa Lebih Buruk dari Resesi 1998

Ketidakpastian tentang durasi virus corona akan membuat segalanya berpotensi menjadi lebih buruk. Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, menyebut ekonomi dunia membutuhkan langkah besar dan tepat sasaran.

KALANGAN awam dengan pegetahuan  ala kadar pun maklum, ekonomi sedang sulit. Terpuruk  dan bikin sengsara banyak orang. Dampak wabah covid-19 yang bermula di Wuhan, Desember tahun lalu—dan satu setengah bulan kemudian, WHO menyatakan pandemi global—meluas ke mana-mana. Dana Moneter Internasional (IMF) memprediksi, ekonomi dunia tahun bakal mengalami resesi serius. Lebih buruk dibanding depresi besar yang terjadi akhir 1920-an awal 1930-an.

Negara-negara berkembang dan berpenghasilan rendah, seperti Afrika, Amerika Latin, dan Asia, merupakan negara yang memilki risiko sangat tinggi. “Dengan setengah dari 189 negara anggota IMF mencari bantuan, dewan eksekutif telah sepakat untuk menggandakan akses ke pembiayaan darurat untuk memenuhi permintaan yang diharapkan sekitar US$100 miliar,” ujar Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, dalam sebuah pidato (9/4).

Menurut Georgieva, prospek dasar IMF adalah pemulihan parsial dalam ekonomi global pada tahun 2021, jika pandemi covid-19 memudar pada paruh kedua tahun ini, hingga memungkinkan pencabutan langkah-langkah penahanan secara bertahap. Meski begitu, ketidakpastian tentang durasi virus corona akan membuat segalanya berpotensi menjadi lebih buruk. Pandemi yang menyebar dari kota Wuhan ke hampir setiap sudut dunia telah menyebabkan penutupan bisnis dan hilangnya jutaan pekerjaan.

Georgieva menyebut dengan prihatin betapa hantaman keras corona terhadap industri ritel, perhotelan, transportasi dan pariwisata beserta dampaknya pada wiraswasta dan usaha kecil dan menengah/UKM. “Kita menyaksikan sebuah perkembangan raksasa yang dramatis. Ekonomi dunia membutuhkan langkah besar dan tepat sasaran,” kata Georgieva seperti dilansir Bloomberg (9/4).

Proyeksi ekonomi yang suram ini menjungkirbalikkan pandangan IMF kurang dari dua bulan lalu. Pada 19 Februari, IMF mengatakan kepada Kepala Keuangan G-20 bahwa pertumbuhan global tampaknya akan keluar dari posisi terbawahnya. Namun, tiga hari kemudian, Georgieva memperkirakan virus kemungkinan akan memotong hanya 0,1 poin persentase dari perkiraan pertumbuhan global IMF sebesar 3,3 persen untuk tahun ini. Meskipun demikian, dia mengakui bahwa pihaknya sedang mempelajari ‘skenario yang lebih mengerikan’.

Georgieva menegaskan kembali kesediaan IMF untuk menggunakan kekuatan pinjamannya sebesar US$1 triliun. Jika krisis berlanjut lebih lama dari yang diharapkan, atau jika ada gelombang kedua penyakit, IMF mungkin perlu meningkatkan sumber dayanya. IMF juga sedang mencari sumbangan US$1,4 miliar dari anggota untuk dapat memberikan bantuan utang kepada negara-negara berpenghasilan rendah. Angka itu naik dari perkiraan awal yaitu US$1 miliar. 

“Hal ini dilakukan agar mereka dapat mengalokasikan sepenuhnya untuk kebutuhan kesehatan daripada pembayaran utang,” kata Georgieva. Dia juga menyatakan, pihak IMF juga tak henti-henti menyerukan kepada pemerintah kaya untuk memutihkan utang oleh negara-negara termiskin di dunia.

Kini, IMF dan Bank Dunia tengah mempersiapkan diri untuk mengadakan pertemuan musim semi melalui konferensi video untuk pertama kalinya pada minggu depan. IMF menghitung bahwa pemerintah di seluruh dunia telah mengambil tindakan fiskal sekitar US$8 triliun, Georgieva mengatakan dalam preview laporan dana utama yang akan dirilis selama pertemuan minggu depan, termasuk World Economic Outlook.

Georgieva tak lupa menekankan urgensi melanjutkan langkah-langkah penahanan nonprioritas dan dukungan untuk menegakkan sistem kesehatan, melindungi orang dan perusahaan yang terkena dampak dengan langkah-langkah sektor fiskal dan keuangan yang memadai, tepat waktu, dan tepat sasaran. Selanjutnya, mengurangi tekanan pada sistem keuangan dan menghindari penularan, dan pada akhirnya merencanakan pemulihan.●

Share This: