Biaya Produksi Ayam Lokal Mahal?

Di Brasil, biaya produksi hanya Rp9.400 per kilogram, sedangkan di Indonesia Rp18 ribuan. Usaha para peternak rakyat mandiri selama ini dihancurkan oleh integrator besar plus PMA, tanpa pembelaan dan perlindungan dari pemerintah.

Untuk itu, pemerintah perlu memperhatikan efisiensi ongkos produksi.

BRASIL menang sengketa dagang soal kebijakan impor ayam Indonesia di World Trade Organisation (WTO) baru-baru ini. Kasusnya bermula pada 2014. Saat itu Brasil melaporkan kebijakan impor Indonesia di WTO, dan pada 2017 Brasil menang. Artinya, Indonesia harus membuka keran impor ayam untuk masuknya ayam dari negeri sepak bola itu.

Karena Indonesia tak kunjung melakukannya, persoalan ini diseret lagi 2019. WTO menekan. Pemerintah kalah. Keran impor pun dibuka. Kejadian ini, menurut Rusli Abdullah, Ekonom dari Institute dor Economics and Finance (Indef), mestinya jadi pelajaran. Dalam menyikapi iklim perdagangan internasional, sangat penting kita menyiapkan sisi penguatan produksi dalam negeri.

Masalahnya, ongkos produksi ayam lokal lebih mahal. “Di Brasil, biaya produksi hanya Rp9.400 per kilogram, sedangkan di sini Rp18 ribuan. Belum lagi harga jual daging ayam di Indonesia yang tinggi. Harga daging ayam sembelih di Jakarta saja kini berada di kisaran harga Rp37 ribuan,” ujar Rusli Abdullah.

Berdasarkan catatan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional, harga daging ayam ras segar berada di kisaran antara Rp23.300 dan Rp 39.250 per kg. Harga terendah umumnya tersebar di wilayah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Jawa. Di sejumlah wilayah timur Indonesia, harga daging ayam ras segar cenderung tinggi merata. Karenanya, salah satu antisipasinya adalah dengan memperkuat rantai produksi yang efisien dan kompetitif.

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Gabungan Asosiasi Pengusaha Peternak Ayam Nasional (Gopan), Sugeng Wahyudi, menyebut bahwa saat ini produksi ayam nasional sudah berlebih atau oversupply. Berdasarkan catatannya, terdapat produksi anak ayam lokal sebesar 62 juta ekor per minggu sedangkan kebutuhan konsumsi hanya sebesar 56 juta ton per minggu.

Dengan realita tersebut, pihaknya menolak tegas kebijakan impor ayam Brasil digulirkan karena bakal menggerus pendapatan peternak lokal. Sedangkan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan, pihaknya justru bakal mengekspor ayam lokal yang dinilai surplus. Tak hanya itu, Amran juga mengklaim harga ayam lokal cukup kompetitif bersaing di kancah global.

Meski tak menjelaskan secara detail ongkos produksi ayam lokal, Amran mengklaim harga produksi sudah cukup ditekan sehingga peternak sudah dapat untung. “Peternak sudah dapat untung, kita ekspor,” ujarnya.

Ironisnya, peta perunggasan nasional yang menguasai perputaran uang di sektor bisnis perunggasan (daging dan telur) Rp600 triliun/tahun adalah: (1) 80% para perusahaan besar terintegrasi plus PMA perunggasan; (2) 12% para  perusahaan menengah dan kecil perunggasan; (3) 8% peternak rakyat mandiri.

Para peternak rakyat mandiri selama ini dihancurkan usahanya oleh integrator besar plus PMA, tanpa pembelaan dan perlindungan dari pemerintah. Soalnya lagi, siapa yang sangat dirugikan dengan importasi daging ayam beku dari Brazil ini? Usaha rakyat atau para perusahaan besar yang menguasai 80% pangsa pasar nasional (monopoli dan kartel) sejak tahun 2010?●

Share This:

You may also like...