BI Sebut Perang Dagang Penyebab Ekonomi Indonesia Lemah

Deputi Gubernur Bank Indonesia Rosmaya Hadi -Foto: Infobank,

JAKARTA-—Perang Dagang AS dan Tiongkok membuat ketidakpastian ekonomi global dan berdampak besar pada perekonomian berbagai negara, termasuk Indonesia. Pada 5 November lalu Badan Pusat Statistik (BPS) merilis perekonomian Indonesia pada kuartal ketiga 2019 hanya 5,02 persen.

Menurut Deputi Gubernur Bank Indonesia Rosmaya Hadi perang dagang  telah berimbas ke Jepang dan beberapa negara Eropa, sehingga membuat perekonomian dunia turun secara signifikan.

“Lemahnya kondisi ekspor dan kondisi geopolitik yang menyebabkan perekonomian berbagai negara terimbas,” ungkap Rosmaya  saat acara “Workshop on Accelerating Infrastructure Development” di Jakarta, Kamis (7/10/19).

Meskipun demikian Rosmaya melihat pertumbuhan ekonomi pada kuartal tiga 2019 didorong peningkatan kinerja ekspor khususnya komoditas nikel. Walaupun dia mengakui, kenaikan harga nikel bersifat sementara.

“Secara khusus kita lihat harga nikel kita lihat ada meningkat, ini bukan karena kebutuhan riil. Saya rasa ini antisipasi pelarangan ekspor. Kita harus waspadai itu,”  papar dia.

Lanjut dia, tantangan lainnya kinerja sektor manufaktur yang melemah cukup memberikan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi di dalam negeri. Pelemahan sektor manufaktur turut berdampak terhadap investasi dan konsumsi.

Sementara itu Institute for Development of Economics and Finance (Indef) dalam konefrensi pers dan diskusi dengan media pada Kamis (7/11/19) membenarkan perang dagang AS-Tiongkok berdampak pada prospek ekonomi global menjadi lambat, termasuk Indonesia.  Pasalnya kata peneliti Indef Abdul Manap Pulungan kedua negara ini menguasai sekitar 40% PDB Dunia.

Share This:

You may also like...