Beta-UFO, AntusiasmePemantauAlien

Kehadiranbendaterbanganehkerapdipersepsikansecarakeliru.Umumnyadianggap leak, atauhoax.Takbanyak yang menyikapinyasecarakritisdanilmiahsecermatkomunitas Beta-UFO bisasajaitu UFO yang di dalamnyaberpenumpang alien.

BETA-UFO

Penampakan benda bercahaya, melayang super lincah, zigzag akrobatis dan menikung dengan sudut tajam yang tak lazim lalu lenyap, mungkin cenderung dianggap leak atau santet. Pendeknya, sesuatu yang terkait dengan makhluk supernatural, semacam uka-uka gitu. Niscaya tak banyak yang berpikir tentang UFO (Unidentified Flying Object) alias benda terbang tak dikenal, yang dikendarai oleh makhluk cerdas luar angkasa seperti digambarkan dalam film ET (Extra Terrestrial).

Membicarakan UFO dan makhluk luar angkasa di Indonesia agak kurang lazim. Istilah lain untukUFO (Unidentified Flying Object) adalah Beta (Benda Terbang Aneh)diperkenalkan oleh, R.J. Salatun, pendiridanKetua Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional era Bung Karno. Ada juga istilah lain yang sempat diperkenalkan, meski pada kenyataannya tidak populer, adalah Betebedi (Benda Terbang Belum Dikenal). Dan bicara penelitian-penelitian tentang alien, “Amerika yang terdepan. Ini hobi. Hany asaja, hobi ini adalah sesuatu yang menyedot biaya,” tutur Ranggi Raggatha, pengurus nasional Beta-UFO.

“Masyarakat pada umumnya mengaitkan fenomena alien dengan makhluk gaib. Belakangan, berkat kecanggihan editing photoshop, populer istilah hoax (bohongan), sehingga perkembangan penelitian tentang UFO di Indonesia tidak pesat,” kata Ranggi Raggatha.Hal senada diutarakanFan Fan Darmawan, anggota Beta-UFO dari Bandung. “Beragam respons yang kami terima, dari yang antusias sampai yang mencibir,”katanya.Beta-UFO sendiri adalah komunitas internasional paling serius dan antusias terkait dengan fenomena ‘piring terbang’.

Komunitas yang berdiri pada 1997 itu dewasa ini telah menjaring 4.000 anggota di seluruh Indonesia dan dunia, dari usia 13 tahun hingga68 tahun. Untuk bergabung cukup mudah, tinggal memilih di salah satu media ini, yaitu Facebook Beta-UFO, atau milisbetaufo@yahoogroups.com atau Twitter @betaufo. Terdapat 17 regional dan tiga perwakilan komunitas di Singapura, Amsterdam, dan Amerika. “Kami ini komunitas pengamat UFO yang tertua, terbesar, dan mengamati fenomena ini dengan paling serius,” ujar Ranggi.

Beta-UFO Indonesiaberdiri pada 26 Oktober 1997, aktif mendata dan mempelajari fenomena UFO melalui investigasi lapangan, wawancara saksi, dan studi literatur. Membahas fenomena UFO melalui diskusi online, twitter, menjadi narasumber media, serta partisipasi dalam pameran, pertemuan dan diskusi bulanan (Jabodetabek) dantahunan (nasional). Beta-UFO mempublikasikan hasil penelitiannya melalui media website, dan laporan tahunan, (beta-ufo.org).

Anggota Beta-UFO, kata Ranggi, terbagi ke dalam tiga kategori. Pertama, mereka yang percaya penuh akan kehadiran UFO. Kedua, anggota yang skeptis, tidak percaya akan kehadiran UFO. Ketiga, skepticbeliever, anggota yang skeptis tapi cenderung percaya akan keberadaan makhluk luar manusia. “Tipikal anggota ketiga ini biasanya kritis.Referensi analisis merekacenderung ke arah mainstream science, seperti fisika atau astronomi,” kata pria yang memiliki latar belakang teknik lingkungan ini.

Pengamatan dan kajian yang dilakukan komunitas ini taktanggung-tanggung, “Mulai dari menganalisis, menguji, meriset, hingga mendidik masyarakat,” kata Ranggi.  Analisis yang mereka lakukan adalah analisis ilmiah sesuai dengan latar belakang dan pekerjaan anggotanya. Maklumlah, latar belakang mereka sangat beragam: dari pilot, geolog, psikolog, dosen astronomi, mahasiswa, hingga ahli forensik digital.

KajianUFO bisa dipelajari dengan banyak pendekatan. “Tapi,jika tidak hati-hati, bisa menjurus ke ateisme,” kata Ranggi. Pada hemat Rizky Afriono, pria berlatar akademis arkeologi, ada banyak hal dalam kajian arkeologi yang tidak bisa dijelaskan secara ilmiah. “Seperti temuan reaktor nuklir yang usianya jutaan tahun. Itu buatan siapa?” sebut pengurus regional Koordinator Investigasi Beta-UFO. Yang dimaksud tentulah hasil analisis dari bekas ‘pendaratan’ UFO di muka bumi.

Dalam Ufologi (ilmu yang mempelajari tentang UFO),salah satu metode yang masih diperdebatkan adalah channeling, yaitu berkomunikasi dengan alien. Khususnya ras alien tertentu yang memang memilih manusia bumi tertentu. Manusia yang bisa bicara dengan alien lazimdisebut contactee. Menurut Ranggi, “Ada anggota kami yang bisa bertugas sebagai contactee“. Hasil channeling tentu saja harus benar-benardikritisi keabsahannya. “Bahasa yang digunakan biasanya bahasa dari ras alien tertentu atau dalam bentuk simbol universal,” ujarnya.

Penampakan UFO di Indonesia selalu dimuat dalam laporan tahunan Beta-UFO. Bentuknya ada piring terbang, segitiga, atau bahkan cerutu. Ratusan laporan benda terbang tak dikenal masuk tiap tahunnya. Mungkin lebih banyak yang tidak dilaporkan.Foto UFO di atas wilayah Indonesia antara lain dibuat wisatawan Jepang, Ryo Terumoto, pada 17 Agustus 1973. Sekitar pukul 14.00 siang, dari mobil ia memotret Gunung Agung, Bali. Fotoitubelakangan dimuat di majalah Hito to Nippon (Orang dan Jepang) edisi Maret 1974 dengan judul “Piring Terbang di Atas Pulau Bali?” (Angkasa, Desember 1990).

Foto penampakan UFO terkenal lainnya adalah foto yang diambil Ir. Tony Hartono Rusman di lepas pantai Cimalaya, 22 September 1975, melalui sebuah kamera Olympus. Dengan cepat ia menyetel dan membidikkannya ke arah benda yang muncul tidak lebih dari satu menit. UFO juga sempat muncul secara cukup  mengganggu saat kejadian Dwikora tahun 1964, sebagaimana dikutip J. Salatun dalam bukunya: UFO, Salah Satu Masalah Dunia Masa Kini.

Ketika Dwikora berkecamuk, Surabaya sebagai salah satu basis kekuatan pertahanan berada dalam keadaan siap siaga. Saat itulah kota pahlawan tersebut mendapat kunjungan benda-benda terbang tak dikenal setiap malam selama seminggu penuh, 18 sampai dengan 24 September 1964. Benda hitam yang kadang-kadang memperlihatkan ekor api yang lebih panjang dari api gas buang pesawat pancar gas yang sedang menyalakan “afterburner”nya.Seorang penerbang Angkatan Udara yang berada didekat kota Porong melukiskannya sebagai bulat seperti rambu lalu lintas tetapi menyala merah padam dan melayang ke arah Surabaya tanpa bunyi sama sekali.

Analisis dari Bapak Ufologi, J. Allen Heynek, menyatakan, UFO selalu mampir ke daerah yang kandungan airnya tinggi. Lima tahunlalu, jejak keberadaan UFO terekamdi Pulau Laut, Riau, 26 September 2010. Dalam foto tampak sebuah benda asing berbentuk segi tujuh bercahaya putih; hanya terlihat selama lima menit lalu menghilang dalam sekejap mata.Namun, lokasi paling seringdikunjungiadalah Bandung.”Salah satu UFO spot di Indonesia itu Dago, Bandung,” ujar Ranggi.

Menurut Majalah FHM edisi Maret 2009, beberapa tempat itu di antaranya: Dago, Bandung—yang cukupdiyakinisebagaistargate,gerbang bintang, atau portal gitu-lah.Sangat dimungkinkan lokasi ini dulunya adalah danau kurva; Cirebon, UFO sering terlihat di kawasan bibir pantai; Gunung Galunggung; Gunung Salak,Bogor; Tuban, Jawa Timur;Jakarta. Jalurnya adalah Tanah Abang hingga Kelapa Gading. Best view siang-sore; Depok,sempat menjadi kota dengan frekuensi penampakan terbesar di dunia; Selat Malaka. Saking seringnya, lokasi ini disebut ‘rumah UFO di Indonesia.’

“Sebenarnya penemuan jejak atau keberadaan UFO ini lumayansering, hanya saja jarang diekspose media karena kebanyakan meragukan,” ujar anggota komunitas Indonesia UFO Hunters, Irvan Raseed. Malangnya, kini kita memiliki sejumlah kamera dengan kemampuan manipulatif untuk memproduksi hoax. Antara lain Camera 360 Ultimate, saat ini terdapat juga banyak aplikasi lain yang bisa menghasilkan foto sejenis, di antaranya: UFO Camera gold; UFO Photo Prank (disebutjuga UFO Revelator); UFO Camera; UFO Photo Bomb.

Di dalam sejarah ‘pertemuan’nya dengan manusia,UFO pernah disambut secara konfrontatif dengan tembakan meriam dan penangkis serangan udara lainnya. Itu terjadi di Kepulauan Kurillen yang diduduki Uni Sovyet, pada awal tahun 1960-an. Hasilnya?UFO itu ternyata tidak mempan dihantam dengan meriam. Tidak ada sebuah pun benda terbang aneh tersebut yang berhasil ditembak jatuh.Padahal mereka terbang tidak bisa dibilang tinggi, sekitar 1.200 meter saja.

Jejak keberadaan UFO paling fenomenal terjadi di Tanah Air yaitu, ketika ditemukan crop circle atau lingkaran raksasa yang teraturdanestetisdi Sleman, Yogjakarta, Januari 2011. Pola teratur yang terbentuk secara misterius di area persawahan ini terjadi secara tiba-tiba. “Memang ada hobbyist yang suka membuat crop circle, tapi inijelas berbeda. Para hobbyist membuatnyadengan mematahkan batang jagung atau padi, ini memerlukan waktu 3-5 hari,” tutur Irvan.

Kesimpulan Beta-UFO, yang melibatkan 14 tim pengurus intinya, “Kami berbeda paham dengan LAPAN/Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (yang menganggap itu buatan manusia),” kata Ranggi. “Crop circle tersebut bukan buatan manusia. Karena ada unsur nikel/gelombang radiasi di daerah yang tidak memiliki kandungan nikel sama sekali. Lalu padi di sekitar area pun tidak patah seperti ditimpa benda berat, melainkan rebah. “Itu biasanya disebut efek ion plasma,” ujar pria 27 tahun ini.Wallahu ‘alambish shawab.(Dody M.)

Share This:

You may also like...