Berjaya di Rimba Khatulistiwa

Meraih penghargaan KSP Award 2014 katagori koperasi paling responsif terhadap perubahan lingkungan memang sangat pas diberikan ke Kopdit Khatulistiwa Bakti (CUKB). Militansinya mengembangkan anggota hingga ke pedalaman diimbangi dengan keunggulan meningkatkan kinerja usaha dan keuangannya.

Hekinus Manao, mantan Direktur Eksekutif Bank Dunia itu sejenak memperhatikan plakat dan piagam KSP Award, kemudian sambil tersenyum diserahkanya kepada Dra Sesilia Seli M.Pd, Ketua CU Khatulistiwa Bakti, yang memenangkan penghargaan sebagai Kopdit paling responsif terhadap perubahan lingkungan.

“Penghargaan ini untuk seluruh anggota CU Khatulistiwa Bakti dan juga masyarakat Kalimantan yang tidak pernah menyerah dalam membangun koperasi sejati Indonesia, ” ujar Seli yang datang dari Pontianak, Kalbar bersama sejumlah pengurus CUKB.

Keberadaan kopdit di Kalbar, kata Seli, jauh lebih populer ketimbang perbankan, hal ini disebabkan masih terkendalanya sarana transportasi di bumi khatulistiwa itu. Hanya, koperasi kredit yang mudah berkembang di Kalbar karena kami memang ingin memberdayakan seluruh masyarakat pedalaman yang selama ini jauh dari askes ekonomi,” sambung Seli lagi seraya menambahkan karena buruknya sarana jalan darat di Kalbar pihaknya harus melakukan investasi berupa speedboat guna melayani anggotanya di pedalaman.

Uniknya di daerah sulit seperti itulah Kopdit justru berjaya. Di Kalbar sedikitnya terdapat 48 kopdit yang beroperasi di seluruh wilayah dengan fakta geografis beragam, mulai dari daratan dengan infrastruktur jalan rusak berat, terpisah sungai besar, dan kepulauan kecil tersendiri. Bahkan beberapa wilayah di provinsi itu adalah blank spot yang belum dijangkau layanan telekomunikasi.

Menurut Seli, lantaran kendala infrastruktur itulah yang mendorong koperasi kredit lebih mudah berkembang di Kalbar.

“Koperasi kredit di sini juga menjaring anggota dengan cara pendekatan berbasis komunitas,” ujarnya.

 

Sejak berdiri pada 12 Mei 1985, hingga kini CUKB sudah memiliki anggota hampir 46 ribu orang. Atau dalam peringkat Inkopdit per Desember 2013, berada di urutan kelima dari 327 Kopdit dengan anggota minimal 1000 orang. Seperti dikatakan Sesilia Seli, kendati   peningkatan anggota dan terobosan usaha ke pedalaman provinsi Kalbar terus digalakkan, namun koperasi ini juga tak lalai menjaga kinerja manajemen dan usaha dengan baik, sehingga pelayanan terhadap anggota tetap terpenuhi. Hal itu sejalan dengan misi Kopdit ini yang ingin meningkatkan taraf hidup anggota dan masyarakat melalui usaha simpan pinjam dengan pelayanan yang prima.  Dalam laporan tahun buku 2013 aset CUKB tercatat sebesar Rp 393,472 miliar, pinjaman beredar Rp 305,710 miliar dan pendapatan Rp 56,623 miliar. (Irsyad Muchtar)

 

 

 

Koperasi Kredit Swastisari

 

Bunga Terendah di Seantero NTT

 

           Berbisnis dengan hati nurani dan empati menyikapi realitas grassroot sebagai kalangan yang termarginalkan secara ekonomi, Koperasi Kredit Swastisari merangkul masyarakat NTT dengan tawaran 4 grade suku bunga: 0,96% tetap, 1% tetap, 1,6% menurun dan 1,8% menurun

 

MERAIH simpati 24.000 anggota di tengah iklim bersaingan dengan 16 koperasi sejenis dan koperasi lainnya menandai kiprah Koperasi Kredit Swastisari di Nusa Tenggara Timur/NTT. Visi “Menjadi koperasi terdepan dan pilihan masyarakat NTT” kopdit ini diwujudkan dengan kesungguhan menggarap (calon) anggota masyarakat lapis bawah.

Pemanfaat jasa keuangan kopdit Swastisari yang pada Oktober 2014 membukukan aset Rp254 miliar ini rata-rata adalah pelaku ekonomi marginal. Mereka terdiri dari pedagang asongan atau serabutan, buruh-buruh, penjual ikan, tukang sayur, tukang ojek, dan lain-lain. “75% anggota kopdit kami adalah non-PNS,” ujar Cornelis Kuma Opun, yang mengetuai Kopdit Swastisari NTT sejak 2013 lalu.

Persyaratan untuk menjadi anggota-penuh cukup ringan. Cukup menyetorkan Rp290 ribu. Dana ini mencakup simpanan pokok Rp100 ribu, uang pangkal Rp50 ribu untuk fotokopi materi kegiatan pelatihan dan lain-lain, simpanan wajib Rp50 ribu, dana kematian, dana duka, uang. Uang duka di awal keanggotaan Rp35 ribu, seterusnya dibayar tahunan. Dana ini sebenarnya dana solidaritas, yang diterima sebagai santunan duka sebesar Rp5 juta jika anggota meninggal.

Salah satu produk unggulan Kopdit Swastisari—yang diluncurkan sebagai upaya mengakomodasi usul dan keinginan anggota juga—adalah Sibuhari (Simpanan Bunga Harian). Anggota bisa menarik dan menyimpan dananya setiap hari, sebagaimana layaknya pelayanan jasa perbankan. Setoran awal minimal Sibuhari ditetapkan Rp50 ribu.

Dua produk lain Kopdit Swastisari adalah Sisuka (Simpanan Sukarela Berjangka), dengan setoran awal Rp1 juta, dan Sipandi (Simpanan Pendidikan), persiapan dana untuk menjawab biaya pendidikan anak-anak, melalui proteksi finansial sejak mereka masuk SD untuk 6 tahun, begitu seterusnya ketika masuk jenjang SMP, SMA, sampai di bangku kuliah.

Berbagai produk jasa yang diluncurkan Kopdit Swastika berbasis pada satu prinsip: penerapan bunga rendah. Secara umum, rata-rata bunga yang berlaku di wilayah NTT adalah 2%. Setelah mempertimbangkan dukungan potensi ekonomi grassroot yang sejatinya tak terlalu kondusif, manajemen Swastisari berketetapan menawarkan 4 (empat) grade suku bunga : 0,96% tetap, 1% tetap, 1,6% menurun dan 1,8% menurun. Di antara semua koperasi di NTT, suku bunga kamilah yang paling rendah,” kata Cornelis Kuma Opun.

Kepada pelaku ekonomi yang usahanya produktif, plafon pinjaman dapat diberikan Rp100 juta, dengan bunga 0,96%. Untuk usaha-usaha skala besar, diplot target bunga 1,6%. Sedangkan untuk usaha kecil-kecilan yang omzetnya kecil, dengan income serabutan berlaku bunga 0,96% agar mereka pada tahap awal berkembang dulu.

Pinjaman terbesar yang pernah disalurkan adalah Rp250 juta untuk usaha produktif, yang terkecil Rp1 juta untuk keperluan-keperluan yang sifatnya mendadak. Tapi tak cuma itu. Kopdit yang kini memiliki 4 cabang—di Adonara, TTU (Timor Timur Utara) berbatasan dengan Timor Leste di Kabupaten Kupang, dan di Sumba—mulai memberlakukan proteksi buat pengguna dana di atas Rp100 juta. Untuk pinjaman dana Rp150 juta, anggota kopdit memperoleh perlindungan asuransi.

Bisa dimaklumi jika Kopdit Swastisari yang kini memiliki 2 (dua) gedung berlantai tiga di kota provinsi plus satu rumah induk/awal itu mengoleksi sejumlah gelar tingkat nasional, provinsi dan kota sejak 2010. Dari ajang KSP Award Tahun 2014 lalu, mereka berhak atas gelar The Best Execelent untuk proses pelayanan yang mirip bank, 3 (tiga) penghargaan dan 1 (satu) award untuk kategori Pinjaman Terbaikberkat penyaluran pinjaman Rp176 miliar lebih kepada 10.000 anggota.

Share This: