BERDAYAKAN POTENSI EKONOMI LOKAL MELALUI DESA WISATA

Desa Awo yang merupakan desa binaan KSPPS Bakti Huria Syariah (BHS) menjadi titik awal gerakan pemberdayaan ekonomi akar rumput di sektor pariwisata. BHS pun mengundang investor yang ingin mengembangkan desa tersebut. 

Koperasi seringkali ditafsirkan hanya sebagai lembaga keuangan yang memberikan pembiayaan modal usaha kepada anggota. Padahal jika mengacu pada Undang-Undang Dasar 1945 pasal 33 ayat 1 yang berbunyi “Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasas atas asas kekeluargaan”, serta pasal 38 ayat 5 “bumi air dan seluruh kekayaan alam dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebaik-baiknya untuk kemakmuran rakyat”, koperasi diharapkan memiliki andil yang lebih terhadap peningkatan kesejahteraan umat, bukan hanya pada sisi keuangan tetapi juga model pemberdayaan.

Bertolak dari konsep tersebut KSPPS BHS mulai tahun ini berinisiasi mengembangkan potensi ekonomi lokal melalui pendekatan desa wisata yang berlokasi di Desa Awo Kecamatan Pitumpanua, Kabupaten Wajo Provinsi Sulawesi Selatan. Lokasi ini  sekitar 250 Km dari bandara udara Sultan Hasanuddin Makassar. Keindahan alam yang hijau, keanekaragaman budaya, kearifan lokal serta keberadaan air terjun Sumpang Puli diyakini menjadi daya tarik tersendiri dan menjadi potensi ekonomi yang menjanjikan.

Saat berkunjung ke desa tersebut  pada 22 Januari 2021, Andi Amri Ketua KSPPS BHS melakukan napak tilas menjelajahi panorama indah air terjun sumpang puli, agrowisata perkebunan durian dan rambutan, sembari menikmati keindahan alam lepas dimalam hari dengan berkemah. Dalam kesempatan tersebut tercuat niat BHS untuk mengambil peran dan mendorong ekonomi desa melalui pemberdayaan dan ekonomi gotong royong. “Inilah sesungguhnya fungsi koperasi menggerakkan ekonomi kerakyatan dari akar rumput,” ujar Andi Amri.

Desa Awo merupakan desa binaan BHS. Berbagai kegiatan sosial telah dilakukan diantaranya adalah pengobatan gratis dan sunatan massal kepada 800 kepala keluarga pada 2016, pembangunan sarana ibadah berupa masjid pada 2018, dan pendirian pondok pesantren Huriatunnas Bakti pada 2019. Ini merupakan representasi koperasi dalam mewujudkan kesejahteraan dibidang ekonomi, kesetaraan di bidang pendidikan dan kemudahan dalam layanan kesehatan terhadap seluruh lapisan masyarakat khususnya di perdesaan. Hal ini sejalan dengan filosofis pendirian BHS yang terdiri dari 4 pilar yakni (Ekonomi, Sosial, Spiritual dan Pendidikan).

Sebagai bentuk keseriusan BHS, maka program pengembangan desa wisata dijadikan sebagai salah satu program strategis jangka panjang 2021 – 2027. BHS akan memulai dengan mengalokasikan dana corporate sosial responsibility (CSR) untuk menyediakan sarana prasarana yang dibutuhkan. Namun tetap membuka peluang investasi bagi investor yang tertarik untuk berkolaborasi baik dari sesama gerakan koperasi maupun dari perusahaan lain.

Pendekatan desa wisata sebagai stimulus untuk menggerakkan perekonomian desa, diharapkan menjadi salah satu strategi yang dapat diduplikasi untuk menciptakan pemerataan dan pemberdayaan ekonomi. “Bukan hanya di Desa Awo, tetapi seluruh desa di wilayah provinsi Sulawesi Selatan,” pungkas Andi Amri.

Share This:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *