Benih Kita, Yang Pesta Lobster Vietnam

Fakta menunjukkan, budidaya lobster masih sebatas pembesaran benur. Biaya pembesaran benih lobster pun cukup tinggi. Di dunia, belum ada yang berhasil mengembangkan pembenihan lobster.

BUDIDAYA pembesaran lobster masih jadi masalah yang belum tuntas terurai. Di sisi lain, sejak larangan ekspor benih lobster, penyelundupan makin marak. Larangan di era Susi Pudjiastuti sempat hendak dibatalkan Menteri Edhy Prabowo. Belakangan, karena kuat dan derasnya tekanan warganet—tak kecuali dari Susi—wacana itu dinyatakan urung, alias dibatalkan.

Pembenihan lobster, kata Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Slamet Soebjakto, belum dikembangkan di Indonesia. Padahal, Indonesia salah satu penghasil lobster terbesar. Selama ini, lobster ditangkap dari alam. Pemerintah sendiri melarang penangkapan dan perdagangan benih lobster tangkapan dari alam (Permen KP Nomor 56 Tahun 2016).

Sejak 2015 sampai 12 Maret 2019, benih lobster yang bias diselamatkan dari penyelundupan sebanyak 6.999.748 ekor. Nilainya diperkirakan Rp949,48 miliar. Penyelundupan benih lobster ke Vietnam itu diduga melibatkan sindikat oknum aparat dan bandar di Vietnam. Adapun uji coba pembenihan lobster untuk budidaya telah dilakukan di beberapa balai perikanan budidaya milik pemerintah. “Namun, tingkat keberhasilannya masih sangat rendah, yakni di bawah 0,1 persen,” kata Slamet.

Ada dua opsi regulasi yang sedang dikaji, yakni penangkapan benih lobster untuk diekspor dan dibudidayakan di dalam negeri. ”(Ekspor) belum kita pastikan, masih dalam tahap pendalaman,” kata Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo. Ditambahkan, setiap hari ada penyelundupan benih lobster ke luar negeri. Jika benih lobster tidak dimanfaatkan, dibudidayakan, atau dibesarkan, benih itu secara alamiah tingkat hidupnya (SR) hanya 1 persen. Jika dibesarkan, peluang hidupnya 40-70 persen.

Edhy juga menyebutkan kemungkinan mengubah larangan menangkap benur. Pengembalian benur hasil sitaan dari penyelundup ke alam dinilai tidak efektif. Diperkirakan hanya 1 persen yang bertahan hidup. Menurut dia, jika sudah ada yang bisa membudidayakan benur, akan segera disiapkan langkah untuk mengoptimalkan. Jika belum, sudah ada investor dari Vietnam yang bersedia membuka budidaya benur di Indonesia.

Masalahnya, pemijahan lobster masih sulit dilakukan. Fakta di lapangan menunjukkan, budidaya lobster masih sebatas pembesaran benur. Biaya pembesaran benih lobster pun cukup tinggi. Di dunia, belum ada yang berhasil mengembangkan pembenihan lobster. Jika hanya melakukan pembesaran benur, sedangkan benur diambil dari alam secara besar-besaran, akan terjadi penurunan populasi, bahkan kepunahan lobster di alam.


Bagi nelayan di Indonesia, menangkap benih lobster juga dianggap lebih menguntungkan. Fulusnya lebih bagus ketimbang menangkap ikan di laut saat bulan Januari-April. Kawasan pantai di selatan Jawa, seperti Pacitan, Tulungagung, Trenggalek, Malang, dan Banyuwangi, adalah lokasi perburuan benih lobster. Banyak lobster bertelur dan benih baru menetas. Benih-benih itu berada di pinggir pantai sehingga mudah ditangkap dengan risiko kecil. Modal kerja pun hanya perangkap sederhana dari kertas bekas bungkus semen.

Tahun 2015, WWF Indonesia memublikasikan temuannya di Lombok Tengah, NTB. Di sana, tangkapan anakan lobster berukuran 0,5-1,5 cm bisa mencapai 100.000 per bulan yang dijual Rp 15.000 per ekor ke pengepul. Selanjutnya, anakan lobster itu dikirim ke Singapura, Vietnam, dan Cina untuk dibesarkan hingga ukuran konsumsi dan dijual mahal.●

Share This:

You may also like...