Bappenas Ungkap Surplus Neraca Pariwisata Kian Menipis

Ilustrasi-Wisman di Yogyakarta-Foto: Irvan Sjafari.

JAKARTA—-Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas) mengungkapkan wisatawan mancanegara yang masuk ke Indonesia lebih besar dibanding wisatawan nusantara yang keluar dari Indonesia. Kondisi itu membuat pemasukan devisa dari asing lebih besar dibanding devisa yang keluar.

“Pariwisata merupakan sektor yang mampu bertahan di tengah pelemahan ekonomi global.  Meskipun masih surplus, tetapi tren kian menipis,” ujar ,” kata Bambang dalam Rapat Koordinasi Nasional Pariwisata di Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara, Selasa (10/9/19).

Saat ini pemerintah berharap banyak pada sektor pariwisata untuk mendorong ekonomi Indonesia naik kelas. Dari berpendapatan menengah ke bawah menjadi menengah pada 2020. Di tengah persaingan ekonomi global yang makin ketat, sektor pariwisata menjadi bagian penting.

Indonesia saat ini mengalami defisit transaksi berjalan atau current account defisit (CAD). Berdasarkan data Bank Indonesia, CAD pada kuartal II 2019 sebesar 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) atau senilai 8,4 miliar dolar AS. Laju CAD itu naik dari kuartal I 2019 sebesar 7 miliar dolar AS atau setara 2,6 persen dari PDB.

Data Bank Indonesia menyebutkan, surplus neraca jasa perjalanan pada kuartal II 2019 sebesar 800 juta dolar AS. Surplus tersebut tercatat turun dibanding kuartal I 2019 yang sempat tembus 1,4 miliar dolar AS. Surplus necara kuartal I 2019 juga lebih kecil jika dibanding surplus pada kuartal II 2018 yang mencapai 1,3 miliar dolar AS.

“Di sisi lain menurunnya surplus neraca jasa perjalanan di satu sisi mencerminkan situasi yang baik. Sebab, itu menandakan semakin banyak masyarakat Indonesia yang melakukan perjalanan ke luar negeri. Pendapatan per kapita membaik sehingga bisa melakukan perjalanan ke luar negeri,” jelas Bambang.

Menteri Pariwisata, Arief Yahya mengatakan terus fokus pada strategi pemasaran yang efektif untuk menarik sebanyak-banyaknya turis asing.  Dia optimis pada 2019 ini pariwisata akan menjadi penyumbang devisa terbesar.

“Kemenpar menargetkan, devisa pariwisata 2019 akan tembus 20 miliar dolar AS, mengalahkan sektor batu bara dan kelapa sawit,” pungkas Arief.

Share This:

You may also like...