Bank Indonesia Sebut Modal Masuk Indonesia Capai Rp226, 7 Triliun

Ilustrasi-Foto:Okezone.

JAKARTA—Bank Indonesia mengungkapkan aliran modal yang sudah masuk ke Indonesia secara year to date mencapai Rp226,7 triliun. Total aliran modal ini secara rinci berasal dari Surat Berharga Negara (SBN) Rp175 triliun, ditambah saham sebesar Rp49 triliun, dan sisanya sekitar Rp2,7 triliun dari beberapa instrument lain, misalnya corporate bonds atau obligasi

Demikian  dijelaskan Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo di Kompleks Bank Indonesia, Jumat (8/11/19).

Bahkan pada  satu pekan terakhir, laporan aliran modal masuk atau capital inflow sudah mencapai Rp8 triliun. Porsi terbesar dari capital inflow ini bersumber dari SBN.

“Hal ini  memberikan indikasi bahwa investor masih positif melihat Indonesia,” ucap Dody.

BI juga mencatat  foreign direct investment (FD) atau investasi langsung sampai dengan kuartal III/2019 berdasarkan Laporan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) tercatat arus masuk neto sebesar US$4,8 miliar. Surplus ini terutama bersumber dari aliran masuk investasi langsung asing sisi kewajiban.

“Surplus tersebut memang masih lebih rendah dari kuartal II/2019 sebesar US$5,4 miliar. Meski demikian pencatatan FDI kuartal III/2019 ini masih lebih tinggi dibandingkan dengan kuartal III/2018 sebesar US$4,5 miliar,” ujar Dody.

Dari segi sektoral, PMA selama kuartal III/2019 masih didominasi oleh aliran PMA dari sektor manufaktur, sektor perdagangan, serta sektor pertanian, perkebunan, dan kehutanan. Aliran PMA pada ketiga sektor tersebut memiliki pangsa sebesar 82,2% dari total PMA, atau senilai US$4,7 miliar.

“Meningkatnya aliran masuk modal PMA di sektor manufaktur terutama didorong oleh aktivitas yang dilakukan perusahaan yang bergerak di bidang otomotif dan elektronik,” pungkas dia.

Sementara itu Peneliti Institute for Development of Economic and Finance (INDEF) Ester Sri Astuti mengingatkan Indonesia masih belum menarik bagi investor untuk menanamkan investasinya. Hal ini terlihat dari investasi pemerintah sepanjang kuartal III-2019 yang hanya tumbuh 4,21%.

Dalam konferensi pers,bertajuk “Antisipasi Risiko Resesi: Kinerja Ekonomi Triwulan III 2019”  Kamis (7/11/19)  Ester mengatakan, Indonesia belum mampu  memanfaatkan keuntungan kondisi perang dagang antara AS dan Tiongkok. Negara-negara tersebut lebih memilih negara tetangga seperti Vietnam, Thailand sampai Malaysia.

“Mereka menilai kebijakan Indonesia yang masih rumit untuk melakukan investasi,” ujar Ester.

Dia menyebut untuk perizinan memulai bisnis di Indonesia masih membutuhkan waktu sekitar 20 hari kerja dan untuk izin konstruksi dibutuhkan waktu 200 hari. Begitu juga dengan perizinan listrik juga membutuhkan waktu lebih dari sebulan dan dengan biaya yang tidak sedikit.

Sementara  perizinan properti itu Indonesia berada pada  ranking 100 dengan waktu sekitar 27,6 hari. Kemudian untuk administrasi pertanahan Indonesia di posisi 14,5 dari skala 0-30.

“Masalah perpajakan juga menjadi masalah, investor harus bayar pajak 42 kali dalam setahun. Jadi banyak pekerjaan rumah harus dilakukan pemerintah untuk menarik investor luar,” kata dia

Esther menyebut lima prioritas presiden seperti penyederhanaan segala bentuk kendala regulasi, penyederhanaan birokrasi, pembangunan infrastuktur, pembangunan SDM, dan transformasi ekonomi merupakan hal yang tepat.

Ilustrasi-Indef

“Arahan presiden dapat diimplentasikan dengan segera di lapangan,”pungkas dia (Van).

Share This:

You may also like...