Bank Indonesia Mengakui Prediksi Inflasi Mei 2019 Meleset

Perry Warjiyo-Foto: Moneysmart.

JAKARTA––Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengakui inflasi selama Mei 2019 atau Ramadan memang lebih tinggi dari perkiraan. Angka inflasi ini lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 0,44 persen secara bulanan.

“Hal ini disebabkan oleh adanya beberapa komoditas secara musiman mengalami kenaikan. Kalau Ramadan memang sedikit lebih tinggi dibandingkan bulan-bulan biasanya. Ini musiman,” kata Perry usai halalbihalal di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Senin (10/6).

Meskipun demikian Perry optimis inflasi akan rendah dan terkendali dengan perkiraan 3,1 persen pada akhir tahun ini. Hal ini didorong oleh beberapa faktor, yaitu ekspektasi inflasi terjaga secara baik sejak awal tahun ini.

Selain itu ada penurunan inflasi disebabkan pasokan dari barang dan jasa mencukupi. Koordinasi erat antara Bank Indonesia dengan pemerintah dan lembaga terkait lainnya seperti Kementerian Keuangan, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mampu menjaga stabilitas sistem keuangan.

“Jadi insha Allah inflasi akan rendah dan terkendali. Kami proyeksi akan mendekati 3,2 persen atau 3,1 persen pada akhir tahun ini,” ujar Perry yakin.

Dikatakannya pemerintah pusat dan daerah serta BI akan terus memperkuat koordinasi kebijakan guna terus membawa inflasi dalam tren menurun dalam kisaran tiga persen plus minus satu persen pada 2020 dan 2021. Sehingga, inflasi rendah ini dapat mendukung pertumbuhan ekonomi yang kuat, berkesinambungan, seimbang, dan inklusif.

Perry menyebut beberapa langkah strategis yang disepakati untuk menjaga inflasi 2019 tetap berada dalam kisaran sasarannya adalah menjaga inflasi dalam kisaran sasaran, terutama ditopang pengendalian inflasi volatile food maksimal pada kisaran empat persen sampai lima persen.

Lanjut dia, strategi ini dilaksanakan melalui empat kebijakan utama (4K) terkait Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif.

“Sesuai dengan Peta Jalan Pengendalian Inflasi Nasional 2019-2021, kebijakan ditempuh dengan memberikan prioritas kepada Ketersediaan Pasokan dan Kelancaran Distribusi, yang didukung oleh ekosistem yang lebih kondusif serta ketersediaan data yang akurat,” pungkas Perry.

Share This:

You may also like...