Bank Bukopin Revisi Target Kredit

Ekonomi makro yang baru pulih dan ketatnya persaingan, mendorong Bank Bukopin untuk merevisi target penyaluran kredit tahun ini dari semula 12,6% – 12,7% menjadi 10%. Hal ini ditegaskan Direktur Keuangan dan Perencanaan Bank Bukopin Eko Rachmansyah Gindo. “Meskipun ekonomi sudah cukup pulih namun masih warming up. Jadi pada kuartal I kemarin relatif slow dan kami berharap pada semester II bisa tumbuh kencang,” ujarnya di sela-sela Buka Puasa Bersama dengan Media, Kamis (15/6/2017).

Sikap optimistis pada semester II itu ditunjang dengan diraihnya peringkat investment grade untuk Indonesia. Selain itu, lembaga rating internasional yaitu Moodys memberikan prospek positif  bagi industri perbankan.

Hingga Mei 2017, kredit Bank Bukopin tumbuh 7% lebih rendah dibandingkan dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Sedangkan dana pihak ketiga (DPK) berhasil tumbuh sebesar 15%.

Eko Rachmansyah menambahkan, Bank Bukopin juga terus berusaha menekan rasio kredit bermasalah (non performing loan atau NPL) dibawah level 3,5%. “Restrukturisasi NPL masih berjalan intensif dan collection juga dilakukan, termasuk ambil alih aset. Cadangan kecukupan kami juga sudah dinaikkan jadi 21%,” ujarnya.

Di tengah perlambatan penyaluran kredit, tercatat segmen kredit mikro bertumbuh menjadi Rp11,2 triliun atau 27% dari periode sama tahun lalu.

Kepala Divisi Penjualan Mikro Bank Bukopin Benny Kristanto mengatakan, hingga akhir tahun ini penyaluran kredit di sektor mikro ditargetkan tumbuh sebesar 33%.

Debitor kredit mikro masih didominasi oleh kalangan pensiunan. Hampir 70,5% atau sekitar Rp7,8 triliun dari total kredit mikro disalurkan ke segmen ini. Untuk plafon kredit bagi pensiunan, dimulai dari Rp1 juta hingga Rp300 juta. Komposisi kredit mikro sebesar 9,7% disalurkan ke channeling, 14% mitra dan sisanya dimasukkan ke lain-lain.

Meskipun segmen pensiunan masih merajai sebaran kredit mikro perseroan, Benny mengakui persaingan semakin ketat. Sebab, banyak perbankan lain yang juga masuk ke segmen tersebut. “Risiko kreditnya kecil dan sudah dicover asuransi,” ujar Benny.

Untuk mengatasi ketatnya persaingan pasar, Perseroan mulai masuk ke segmen pra pensiun. Jadi, calon debitur yang sudah memasuki masa pra pensiun (MPP) menjadi sasaran baru pengembangan bisnis mikro. (drajat)

Share This: