Bangga Berkoperasi

Penanaman ideologi koperasi dan pemberian remunerasi yang memadai dinilai dapat meningkatkan produktivitas karyawan.

KOPERASI didengung-dengungkan sebagai lembaga ekonomi yang sesuai dengan budaya masyarakat Indonesia. Koperasi juga didaulat sebagai sokoguru perekonomian. Berbagai label ideal itu terasa kontradiktif dengan realitas yang ada. Faktanya, koperasi masih dianggap sebagai lembaga kelas dua dan kurang prestisius.

Kamaruddin Batubara, Presiden Direktur Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia (Kopsyah BMI), tidak menampik fenomena tersebut. Dalam berbagai kesempatan, ia menjumpai banyak orang merasa inferior ketika bekerja di koperasi. Entitas bisnis ini masih sering dipersepsikan sebagai lembaga ekonomi pinggiran. “Kita perlu menanamkan kesadaran bahwa bekerja di koperasi tidak kalah gengsinya dengan bekerja di perbankan,” ujar Kamaruddin.

Mengubah pandangan memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Namun demikian, hal tersebut bukan pula suata hal yang mustahil. Setidaknya seperti telah dilakukan di Kopsyah BMI. Kamaruddin mengklaim, karyawannya merasa bangga bekerja di koperasi. Bertolak dari hal ini, produktivitas karyawan pun ikut meningkat yang dibuktikan dengan kinerja yang bertumbuh.

Menurut Kamaruddin, salah satu yang dilakukannya adalah memberi pembekalan kepada calon karyawan. Tahap ini penting karena di sinilah dikenalkan ideologi koperasi. Selanjutnya adalah memberi apresiasi yang layak kepada karyawan. “Kebutuhan karyawan harus tercukupi dengan memberi remunerasi yang memadai,” ujarnya.

Dengan remunerasi yang cukup, para karyawan pun niscaya akan memberikan kualitas pelayanan terbaik kepada anggota. Jika pelayanan kepada anggota memuaskan, tentu akan meningkatkan kepercayaan dan dukungan terhadap usaha koperasi.●(Kur)

Share This:

You may also like...