Bahasa Mencerminkan Apa?

Penggunaan istilah gaul dalam acara televisi pada dasarnya bisa dimaklumi. Maklumlah, media televisi nyaris identik dengan hiburan. Pada mulanya istilah-istilah ditawarkan, lama kelamaan kebablasan, seterusnya mungkin dianggap sudah “baku” oleh kebanyakan orang, karena kemunculannya yang sedemikian sering. Coba sesekali cermati bahasa dalam tayangan televisi Anda. Entah itu materi acaranya, tutur pembawa acaranya, entah itu iklannya.

Di satu sisi, tak terlihat tumbuhnya kesadaran untuk berbahasa Indonesia secara wajar dari orang-orang yang terlibat di pertelevisian. Di sisi lain, kurang jelas apa lembaga seperti Pusat Bahasa (Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa) bersikap proaktif menawarkan alternatif yang ‘Indonesiawiyah’ atas menjamurnya penggunaan istilah asing dan/atau slang yang lazim digunakan masyarakat Ibukota/bukan bahasa Betawi. Umpamanya, “jadul”, “bete”, “testimoni”. “I love you full”, “Pastinya…” (kata perangkai khas ABG), “…seperti itu” (ekor kalimat sok akrab).

Materi acara di televisi seronok dengan kegenitan penggunaan istilah asing. Mereka tanpa malu (bahkan mungkin bangga) mengadopsi tajuk “Breaking News”, “Headline News”, “Economic Challenge”, “Take Me Out”, “Public Corner”, “Everybody Superstar”, “Real Star”, “Celebrity on the Location” dan sejumlah contoh yang bisa dengan mudah dapat Anda deretkan jika mau 2-3 jam pencet-pencet remote control di depan layar kaca. Besar kemungkinan, pengambil alihan judul-judul acara tersebut bahkan sekaligus dengan content-nya, alias copy paste.

Dalam iklan sebuah media online yang, dinyatakan “Sportivitas memerlukan strategi” Alamaaak. Anda tahu bagaimana nalar pernyataan seperti itu bisa dicerna oleh akal sehat? Lalu, tengok pula iklan lain: “Koran harus S..d.” Ufff. Apa gak ada cara yang lebih soft dan elegan? Kenapa ajakan/rayuan dideskripsikan dengan begitu vulgar? Sejak kapan unsur ‘pemaksaan’ dianggap sah dalam sopan santun advertorial? Bukankah pengelola televisi swasta semestinya mendukung upaya penggunaan bahasa Indonesia yang benar? Jika bukan kita, siapa lagi yang mesti menjaga serta mengembangkan bahasa Indonesia yang benar? Adopsi istilah/bahasa asing mungkin agak sulit terhindari. Sepanjang belum ditemukan padanannya dalam bahasa Indonesia, monggo.

Perlahan dan pasti, hal itu niscaya bisa diupayakan. Lagian, bukankah di bumi Nusantara terdapat mozaik 746 bahasa daerah? Peribahasa menyebut “Bahasa mencerminkan bangsa”. Itu artinya, tak sulit membedakan antara kalangan awam dan komunitas yang ‘makan sekolahan’ berdasarkan cita rasa komunikasi mereka. Dan ketika insan di dunia pertelevisian menggunakan bahasa gado-gado – sekerat ular sekerat belut – identitas apa yang hendak dicerminkan? Fleksibelitas yang koplak? Gaul yang genit? Atau ketololan yang pongah?

Sulung Bhakti Nugroho
Sembalun, Mataram, NTB

Share This:

You may also like...