Ayo Blusukan

Kerja..kerja dan kerja itulah tagline Kabinet Jokowi-Jusuf Kalla yang diumumkan Minggu , 26 Oktober 2014 lalu. Para menteri terdipilih itu memang tidak jauh dari prediksi yang sebelumnya marak di berbagai media massa maupun jaringan sosial media. Namun ada pula sosok di luar prediksi dan menimbulkan kontroversi, yaitu masuknya nama Susi Pujiastuty, pedagang ikan di Pangandaran dan pemilik pesawat Susi Air, yang menjabat Menteri Kelautan dan Perikanan. Tidak jelas mengapa keberadaan Susi dipermasalahkan? Boleh jadi lantaran perempuan perokok berat dengan tato burung Phoenix di kaki kanannya ini tampil rada urakan dengan pendidikan hanya sampai tingkat SMP. Kendati syarat menjadi mentri di negeri ini tidak wajib harus jebolan pendidikan tinggi, toh publik selama ini lebih menggadang-gadang mentri berasal dari perguruan tinggi ternama. Tetapi Jokowi punya hak prerogatif dan tentu ada pertimbangan lain, baginya sosok pekerja ulet seperti Susi justru ideal untuk memperkuat kabinetnya yang mengedepankan kerja..kerja dan kerja. Di luar pro dan kontra terhadap personal mentri di Kabinet Jokowi, publik nampaknya punya optimisme bahwa pemerintahan baru ini bakal mampu menunjukkan kerjanya untuk menyejahterakan rakyat. Jokowi dinilai tidak punya bakat untuk melakukan tebar pesona seperti yang biasa dilakukan pejabat sebelumnya. Blusukan yang dilakukannya sejak masih menjadi Walikota Solo pada 2005 merupakan brand image yang diterima secara positif oleh masyarakat. Gaya blusukan agaknya juga bakal jadi trend bagi para menteri Kabinet Kerja. Dalam sepekan terakhir sudah ada lima menteri yang blusukan pada hari libur ke berbagai tempat. Menteri Penertiban Aparatur Negara dan Reformasi

 

Birokrasi, Yuddy Chrisnandi terlihat di Sukabumi ketika meninjau Markas Polres Sukabumi, Menteri Agraria dan Tata Ruang Ferrry Mursidan Baldan mengintip cara kerja aparatnya di BPN Jakarta Barat. Sementara Susi Pudjiastuti sudah kembali ke Pangandaran menemui komunitasnya, para nelayan. Di Jakarta, Menteri Perdagangan Rahmat Gobel dan Menteri Koperasi Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga tampak blusukan di pasar santa Kebayoran Jakarta Selatan. Berada di tengah komunitas pasar rakyat itu, Puspayoga berjanji membantu   membangkitkan anak muda kreatif untuk berbisnis. Dia berharap pemerintah daerah mampu mendorong terciptanya pasar seperti Pasar Santa di tempat lain.

Yang jadi masalah dari mana dananya? Puspayoga sendiri tidak berani menjanjikan sumber dananya dari mana? karena program Kredit Usaha Rakyat yang digadang-gadang banyak membantu rakyat kecil, hingga kini tidak jelas mengalir kemana saja. Tampaknya Puspayoga masih bingung dengan KUR.

Kalau mau jujur bicara ekonomi Indonesia, kata Puspayoga ya pasti akan bermuara ke koperasi. Tapi nasibnya koq ngenes ya? Jumlahnya memang banyak namun sejak 69 tahun di lembagakan tetap saja koeprasi tidak punya daya saing.   Posisi dan kiprah koperasi sebagai soko guru perekonomian nasional, bersama usaha kecil dan menengah, masih cenderung terbelenggu sebagai sektor gurem. Upaya memberdayakannya dari masa ke masa tak kunjung berbuah hasil optimal. Padahal, dengan jumlah anggota yang kini 35 juta, 206 ribu unit koperasi, volume usaha Rp150 triliun (8% dari APBN), koperasi diharap ikut menanggulangi 28,6 juta warga miskin (BPS). Angin segar datang dari UU Desa yang akan mengalokasikan anggaran hingga Rp1,4 miliar per desa per tahun. Idealnya, 20 persen anggaran itu bisa digunakan untuk memperkuat perekonomian desa melalui pengembangan koperasi. Hingga, seperti yang terjadi di China—yang pemerintahnya sangat pro usaha kecil dan menengah—dapat memetik hasil berupa pertumbuhan pesat perekonomian hingga pernah mencapai 12 persen.   Langkah terobosan berupa peluncuran Gerakan Kewirausahaan Nasional bersasaran mengubah mind set kaum muda dari pencari kerja menjadi pencipta lapangan kerja sebagai wirausaha. “Seorang wirausaha harus berangkat dari hobi, yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, fokus, kontinyu, dan mengelola keuangan dengan disiplin yang tinggi,” kata seorang pejabat di Kementerian Koperasi dan UKM. Realisasinya, pada 2013 lalu, 2.145 (dari target 2.160) wirausaha pemula memperoleh modal usaha. Jika pada awal kepemimpinannya Puspayoga sudah dibingungkan oleh keberadaan KUR, ke depan agaknya ia akan sering terkaget-kaget oleh perlakuan tidak adil terhadap koperasi. Tetapi waktu masih relatif panjang, dalam lima tahun ke depan, bakal banyak yang bisa dilakukan untuk pembagian kue ekonomi yang lebih adil. Karenanya, ayo kerja..kerja dan kerja.

Share This: