Atmosfer Sino di Masjid Lautze

Baik eksterior maupun interiornya tak mencerminkan performance masjid pada umumnya. Nuansa Timur Tengah hanya sedikit. Corak ornamen Tionghoa tampil menonjol. Sinkron dengan mayoritas jamahnya.

Posisinya di Jalan Lautze No. 87-88, Pasar Baru, Jakarta Pusat. Di kawasan pecinan. Salah satu kawasan sentral komunitas Cina Ibu Kota. Dekat Stasiun Sawah Besar. Bisa dicapai dengan berjalan kaki atau naik ojek/bajaj. Sebuah bangunan tampak mencolok. Orang awam mungkin menduga klenteng. Namun, dari pelat kecil di dekat pintu masuk tertulis jelas “Masjid Lautze”. Ini salah satu masjid puak Tionghoa terbesar di Indonesia.

Masjid kalangan ‘peranakan’ ini bagian dari rangkaian ruko empat lantai. Hanya lantai satu dan dua difungsikan sebagai masjid. Dua lantai di atasnya untuk kantor yayasan. Bangunan tersebut berwarna paduan merah dan hijau, dengan hiasan lampion kecil bergantungan. Berbeda dari masjid pada umumnya; Masjid Lautze tanpa kubah, pengeras suara, ataupun aksesori bernuansa Timur Tengah.

Dalam bahasa Cina, kata Lautze berarti guru atau orang bijak. Sengaja dibangun dan dilengkapi ornamen-ornamen khas Tionghoa, agar mereka merasa nyaman seperti di rumah sendiri, sehingga tidak segan ketika hendak mendatangi masjid ini. Tempat imam berkotbah pun tampak hampir menyerupai altar pemujaan di klenteng. Ukurannya cukup luas, bisa untuk ibadah 200 orang jemaah.

Masjid Lautze dikelola oleh Yayasan H. Karim Oei. Diambil dari nama Abdul Karim Oei Tjeng Hien (1905-1988). Pejuang kemerdekaan kelahiran Sumbar, tokoh Muhammadiyah dan pendiri organisasi Islam di kalangan warga etnis Tionghoa: Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI). Karim Oei dikenal sebagai anggota DPR (1956-1959) yang mewakili kaum Tionghoa, di samping sebagai Ketua Partai Masyumi Bengkulu (1946-1960).

Di sana dibuka kelas khusus bagi kaum mualaf selama 1 bulan, sebelum mereka menerima sertifikat Islamnya. Ketika shalat Jumat tidak hanya para mualaf yang menjadi jemaahnya, tapi juga warga negara Indonesia asli (pribumi).

Masjid Lautze tak bisa dikunjungi hingga larut malam. Jam bukanya sama persis dengan jam kantor Yayasan, yakni pukul 8 pagi hingga 5 sore. Dari hari Ahad sampai Jumat, masjid ini hanya buka dari pukul 09:00 hingga pukul 16:00 WIB. Jadi, pada lima hari tersebut, masjid ini dimanfaatkan Muslim di sekitar hanya untuk shalat yaitu Dzhuhur dan Ashar. Hari Sabtu masjid ditutup total.

Hari Ahad merupakan hari “khusus”. Inilah saatnya Yayasan mengadakan pengajian rutin (mingguan) untuk para jemaah. Sebagian besar mereka mualaf keturunan Cina. Setiap Minggu malam digelar tarawih. Empat kali dua rakaat. Setiap dua rakaat, imamnya diganti. Tujuannya tak lain untuk melatih para mualaf tersebut agar bisa dan cakap menjadi imam. Menurut petugas keamanan di sekitar, jemaahnya baik-baik. Suka memberi takjil atau sumbangan kalau sedang ada tarawih.

Awalnya hanya memanfaatkan satu ruko. Berkembang jadi dua sejak 1994, yang peresmiannya dilakukan Ketua ICMI, Dr. Ir. BJ Habibie. Saat ini Lautze memiliki dua cabang masjid, di Jakarta dan Bandung. Sejak diresmikan pada 4 Februari 1994, dari Masjid Lautze ini, Yayasan Karim Oei telah menasbihkan lebih dari 50 orang mualaf setiap tahun. Sampai dengan bulan Mei 2016, sejak tahun 1997, tercatat sudah 1.232 mualaf yang dibina di sini.●(dd)

Share This:

You may also like...