Asa Menuju Waralaba Kelas Dunia

Tidak hanya ingin jago kandang, waralaba Indonesia pun diarahkan untuk ekspansi ke luar negeri. Salah satu jalannya melalui penyelenggaraan IFRA 2013 yang menghadirkan asosiasi dagang luar negeri.

Suasana Jakarta Convention Center pada 31 Mei-2 Juni 2013 benar-benar meriah. Selama tiga hari di tempat itu, digelar Pameran International Franchise License & Business Concept Expo dan Conference (IFRA) 2013. Anang Sukandar, Ketua Umum AFI mengklaim, pameran waralaba yang diselenggarakan itu adalah kegiatan yang terbesar di Indonesia. Kegiatan itu merupakan yang kedelapan kalinya digelar di Indonesia dan merupakan program strategis AFI. .”Pameran kali ini juga didukung asosiasi franchise dari negara lain,” ujar Anang saat membuka acara tersebut, Jumat (31/5/2013).
Anang menjelaskan, asosiasi franchise luar negeri yang dimaksud adalah asosiasi franchise Malaysia (MFA/Persatuan Francais Malaysia), Singapura (FLA/Franchising & Licensing Association, Filipina (PFA/Philippine Franchise Association, Taiwan (ACFPT/Association of Chain & Franchise Promotion) dan Macao Trade and Investment.
Pameran IFRA tahun ini dihadiri diikuti oleh 300 merek waralaba nasional dan internasionaldari 179 perusahaan.. Sementarah harga waralaba yang ditawarkan mulai dari Rp 3,5 juta-an hingga ratusan juta rupiah.
Dengan diundangnya peserta dari luar negeri, menurut Anang, agar perusahan-perusahaan Indonesia yang tengah melakukan bisnis waralaba dapat belajar dari peserta luar negeri tersebut. Pihak perusahaan Indonesia juga bisa bertanya langsung kepada para pengurus asosiasi franchise luar negeri tentang bagaimana mereka menerapkan bisnis waralaba.
Direktur PT Debindo Mitra Dyantama Agus Riyadi mengatakan pameran itu diikuti oleh 179 peserta dengan membawa 300 merek dagang. Dari total tersebut, 36 di antaranya merupakan peserta dari luar negeri yang diwakili tujuh negara antara lain Malaysia, Singapura, Taiwan, Thailand, Filiphina, dan Macau.
Dengan banyaknya peserta yang menawarkan bisnis waralaba dan business opurtunity (BO) lainnya kepada masyarakat, mampu menarik pengunjung 15.528 orang, angka tersebut meningkat 10% sampai 15% dari tahun lalu 14.177 orang.
“Untuk transkasi on the spot kami harapkan bisa mencapai Rp 350 miliar hingga Rp 400 miliar, naik dari transkasi tahun lalu Rp300 miliar. Tentu di luar pameran akan ada kelanjutan transkasi lagi yang lebih tinggi,” ucapnya dalam konfrensi pers pembukaan IFRA 2013.
Selain mempertemukan antara pelaku usaha dengan calon pengusaha, pihak penyelenggara juga menyediakan area business clinic bekerja sama dengan KAWAN & FT Consulting sebagai fasilitas yang diberikan kepada pengunjung yang dapat dinikmati secara gratis.
IFRA 2013 ini merupakan ajang unjuk gigi para pengusaha franchise nasional agar bisa menjadi perusahaan yang berkelas dunia dengan mengedepankan prinsip manajemen profesional sehingga menjadi sarana dalam menciptakan lapangan pekerjaan.
Salah satu konsep yang ditawarkan peserta IFRA 2013 adalah City Counter, sebuah Business Opportunity yang dilengkapi dengan Managerial & Sustainable Support (HRD, Marketing, CRM, Operasional, Finance, Business Potential).
City Counter menggabungkan beberapa bisnis dalam satu tempat. Bekerja sama dengan beberapa partner, City Counter memberikan kemungkinan Break-event Point (BEP), Return of Investment (ROI) lebih cepat, dan jaminan Passive Income dapat terwujud.
Partner yang bekerja sama untuk mewujudkan konsep ini di antaranya adalah: PPOB (Pembayaran Rekening Listrik, Telepon, PDAM dan Pulsa Elektronik), Tiket Pesawat Online, Umroh dan Haji Plus, Jacket Batik Mickot.

Menurut Anang Sukandar, pengembangan bisnis waralaba di Tanah Air masih banyak salah konsep dan bentuk. Tak hanya masyarakat awam, pemerintah juga dianggap masih keliru mengenai konsep bisnis yang baru berkembang ini.
Anang mengatakan, usaha waralaba mempunyai konsep dan ciri khas yang berbeda. Sementara di Tanah Air, bisnis waralaba yang berkembang umumnya tidak memiliki ciri khas tertentu. “Saya menilai masyarakat dan pemerintah tidak mengerti apa arti franchise itu sendiri. Franchise itu harus punya ciri khas dan keunikan yang sendiri. Ciri khas itu terdapat dari pembuatan jenis waralaba, sehingga tidak bisa dicontek oleh orang lain,” ujarnya.
Anang menjelaskan, untuk bisa menjalankan bisnis waralaba dibutuhkan minimal sebuah usaha yang berusia sekitar 5 tahun. Sebagai contoh, bisnis waralaba Es Teller 77 sudah bisa mengembangkan waralaba karena telah berusia 31 tahun. “Jadi Es Teller 77 untuk membuka franchise itu sudah pantas, karena dia sudah lama dan mempunyai ciri khas yang tertentu, sehingga banyak orang mengenal dan percaya atas produknya,” katanya.
Dalam membuka cabang, lanjut Anang, pebisnis waralaba umumnya hanya mendirikan perusahaan skala usaha kecil menengah (UKM). Kondisi ini membuat usaha tak terlalu berkembang. Namun diakuinya, bisnis waralaba lokal akan terus mengalami pertumbuhan setiap tahunnya.
“Kalau pertumbuhannya itu memang kecil sekitar 2%. Jadi sangat berbeda dengan peluang bisnisnya yang bisa naik 8%, namun banyak juga yang berguguran. Untuk SDM dan pendanannya sangat penting, karena mereka saling keterkaitan. Itu yang harus dimengerti para pebisnis franchise,” ujarnya
Atas dasar itu, dengan adanya kegiatan IFRA 2013 bisa menjadi ajang pembelajaran yang berharga.Bagi perusahaan yang telah berkembang diharapkan akan terus berkembang dan besar. Sementara bagi perusahaan-perusahaan yang baru menjalani bisnis waralaba bisa terus meningkatkan diri karena bisnis waralaba penuh keunikan dan liku-liku. Sedang bagi masyarakat yang belum perrnah terjun dan akan terjun ke bisnis ini, hadir dalam acara ini sangat penting karena berbagai informasi dan pengetahuan tentang waralaba cukupbanyak tersaji. (SuyonoAG).

Share This: