APAMA, Koperasi Perempuan Bolivia, Cara Bijak Memaknai Kelimpahan Flora

Asosiasi yang berdiri pada 2002 ini terdiri dari 21 perempuan pribumi Bolivia. Fokusnya pada produksi obat tradisional. Mereka di-support ALCOS, organisasi internasional yang bermarkas di Ottawa, Kanada. Produk mereka menjadi bahan baku ALCOS, sebuah perusahaan farmasi Bolivia.

           

KOPERASI dan peranan kaum perempuan seringkali jadi bagian tak terpisahkan dari sukses pemberdayaan ekonomi di akar rumput. Di Indonesia, kita kenal Puskowanjati (Pusat Koperasi Wanita Jawa Timur) dengan sistem tanggung rentengnya yang mendunia. Di India, sukses koperasi susu Amul juga sangat berkaitan erat dengan ketangguhan kinerja kaum perempuan.

Di belahan selatan Amerika, juga muncul APAMA. Ini koperasi produsen botani yang diinisiasi kaum perempuan di Bolivia. Kelimapahan flora di negeri Evo Morales ini membawa berkah tersendiri bagi kaum perempuan pribumi di negeri itu. Mereka belajar bagaimana mengubah sumber daya botani menjadi bisnis yang menguntungkan dengan memproduksi dan menjual berbagai produk mulai dari obat tingtur hingga sampo dan sirup.

Koperasi APAMA merupakan asosiasi yang terdiri dari 21 perempuan pribumi. Mereka berfokus pada produksi obat tradisional.Melalui APAMA, yang dibentuk pada 2002, puak perempuan pribumi Bolivia memperoleh pelatihan dan keterampilan dalam memproses tanaman lokal, sebagaimana diwariskan dalam pengetahuan leluhur. Mereka diajar cara membuat ekstrak, minyak atsiri, salep dan sejumlah produk lain yang dijual di pasar ataupun di pameran-pameran.

APAMA juga menjadi penyedia bahan baku untuk ALCOS, sebuah perusahaan farmasi Bolivia. Pendek kata, Koperasi APAMA telah berhasil menyatukan perempuan-perempuan dari seluruh pelosok negeri untuk membantu memperluas penjualan, memaksimalkan produksi tanaman, dan meningkatkan keterampilan berbisnis mereka secara keseluruhan. Melalui koperasi, kaum perempuan belajar satu sama lain dan saling mendukung.

“Koperasi ini penting bagi semua perempuan karena berbagai alasan. Tetapi alasan utamanya, lebih daripada sekadar manfaat ekonomi, adalah aspek sosial,” kata Chelsey Berendse, ahli herbal klinis Kanada yang kini menjadi relawan di koperasi wanita di Bolivia. “Kaum perempuan tersebut bisa bertemu sebulan sekali, menjauhkan mereka dari stres sehari-hari. Paling tidak selama setengah hari mereka dapat tertawa, ngobrol dan memanen tanaman bersama-sama”.

“Koperasi telah menjadi sumber pembelajaran keterampilan dan kepemimpinan yang baik selama bertahun-tahun,” kata Chelsey lagi, sebagaimana dikutip dari situs Cuso International edisi Agustus lalu. Lembaga yang bermarkas di Ottawa, Kanada, ini adalah organisasi nirlaba internasional yang bekerja untuk mengurangi kemiskinan dan ketidaksetaraan melalui upaya sukarelawan yang terampil.

Bersama rekan wanitanya, Christina Tellez, Chelsey menjadi motor penggerak APAMA dalam produksi tanaman obat dan kewirausahaan. Cuso International telah cukup lama mendukung usaha kerakyatan di Bolivia. Para relawan terampil dikirim untuk bekerja di berbagai proyek masyarakat. Khusus dengan Koperasi APAMA, inilah pertama kalinya sukarelawan Cuso diperbantukan.

Di Alcala, kota pedesaan kecil tempat koperasi berkantor, Chelsey dan Christina dari hari ke hari sibuk mengunjungi kaum perempuan di berbagai komunitas yang terbentuk. Mereka berdua mentransfer pengetahuan, menawarkan panduan tentang cara meningkatkan produktivitas untuk mendapatkan hasil kerja yang terbaik.

Bicara tentang mitra yang didampingi itu, “Mereka perempuan-perempuan yang supersibuk—beberapa di antaranya bangun jam 4 pagi dan mulai memasak untuk keluarga. Selain mengurus anak dan hewan ternak, mereka mengerjakan hal-hal lain seperti mengikuti pertemuan-pertemuan warga. Mereka harus menggiling jagung dan padi, bahkan mengurus lahan,” ujar Chelsey

Produk anggota Koperasi APAMA itu seluruhnya berasal dari tumbuhan, termasuk tingtur dengan kamomil dan tanaman asli lainnya, serta lebah propolis. Mereka membuat obat gosok untuk nyeri sendi dan sesak napas, dan menjual tumbuhan ke perusahaan farmasi yang menggunakan produk tersebut untuk membuat sirup. Baru-baru ini, Chelsey juga membantu mereka menghasilkan dua produk baru: obat kumur dan obat semprot tenggorokan.

 

Inspirasi dan Kebersamaan

Tekad kaum perempuan di koperasi APAMA telah menjadi inspirasi bagi para relawan Cuso International. “Mereka telah menghadapi sejumlah tantangan selama bertahun-tahun yang bisa saja menghentikan upaya mereka,” kata Christina. “Mereka selamat dari kerugian besar yang disebabkan kurangnya informasi mengenai prosedur pajak, kehilangan anggota, dan kurangnya pekerja untuk laboratorium.

Namun, mereka melihat pentingnya mengadakan pertemuan bulanan dan meneruskan pelatihan serta melibatkan putri-putri mereka dalam kegiatan di laboratorium. “Meskipun sebagian besar dari perempuan-perempuan tersebut buta huruf, mereka tetap bertahan dalam memajukan koperasi mereka dan bangga dengan apa yang dapat mereka capai bersama.”

Mewariskan keterampilan para perempuan ke putri-putri mereka adalah salah satu misi utama yang Chelsea dan Christina diperbantukan di sana. Dengan terjun langsung mendampingi para perempuan di Keperasi APAMA; Cuso International  memastikan bahwa generasi muda perempuan di masyarakat pedesaan akan memiliki kesempatan untuk mendapatkan penghasilan dan mandiri.

Menjelang berakhirnya tugas mereka sebagai relawan, beberapa bulan lagi, Christina telah menandatangani kontrak penempatan sebagai relawan untuk enam bulan ke depan dengan APAMA. Lebih jauh, ia mendorong warga Kanada lainnya berminat terlibat dalam jasa-jasa pendampingan yang memungkinkan potensi produktif perempuan pedesaan di Bolivia lebih terwjud.●(Irsyad Muchtar/ Setiana)

Share This: